39 Kapal yang Terbakar di Pelabuhan Benoa Tak Punya Asuransi

26 Jul 2018, 08:33

Kerugian yang dialami 39 kapal ikan yang terbakar di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, belum bisa ditaksir secara pasti oleh Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Bali. Pasalnya hingga saat ini pihak ATLI Bali belum mendapatkan laporan secara resmi dan data akurat mengenai kapal yang terbakar tersebut.

Sementara kerugian lain yang turut dirasakan para pemilik kapal adalah tidak adanya asuransi untuk kapal-kapal ikan ini.

"Kami dulu mau asuransi kapal kami yang terbuat dari kayu. Tapi rata-rata asuransi tidak mau karena kapal.kami ini kayu yang dilapisi fiber. Kalau pun ada biasanya preminya tinggi bisa 300 sampai 500 persen dari kapal besi," kata Ketua II ATLI Bali, Dwi Agus Siswa Putra di kantor ATLI Bali, Pelabuhan Benoa, Denpasar, Selasa (10/7).

"Dan kapal kami dibatasi jarak operasional. Itu kendala kami. Rata-rata kapal kami tidak diasuransi. Tapi setiap ABK kami wajib asuransi," sambungnya.

Dampak produksi ikan akibat kebakaran kapal, menurut Dwi Putra diharapkan tidak signifikan. Karena dampak tangkapan ikan dipengaruhi berbagai faktor.

"Produksi ikan tergantung cuaca, kapal yang operasi, berapa lama operasi dan tingkat keberhasilan tergantung kepintaran nakhoda. Kalau pengaruh ada, semoga tidak signifikan," kata Dwi Putra.

Sebagai informasi, tahun 2017 kapal milik anggota ATLI memproduksi 6.078,90 ton tuna yang terdiri dari blue fin tuna, big eye tuna, yellow fin tuna dan albacore dan 17.453,40 ton non tuna (meka, marlin, cumi dan lainnya). Sementara data terbaru hingga Maret 2018 ini, ATLI Bali memproduksi 1.408,11 ton tuna dan 2.496,68 non tuna.

Hingga saat ini belum ada komunikasi langsung antara ATLI dan para perusahaan korban kebakaran. Namun dari pantauan ATLI, hampir sebagian besar kapal terbakar adalah kapal aktif anggota ATLI.

"Pantauan saya pribadi, hampir semua kapal anggota ATLI, yang AKFI saja yang bukan. Laporan resmi saya belum terima, masih simpang siur, ada 39, 40, 41 dan 43. Kami tunggu dari hasil pemeriksaan aparat kepolisian. Kami belum bisa kalkulasi kerugian. Berapa yang terbakar, jenis kapalnya, GT nya berapa, kapasitas muat berapa per per unit kapalnya," katanya.

Ia berharap semoga ke depan tidak terjadi lagi peristiwa serupa. Dan dari peristiwa ini bisa menjalin komunikasi lebih baik antara pengguna jasa, pemilik jasa dan pemilik otoritas operasional di Pelabuhan Benoa.

Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhardt Golose memperkirakan, kerugian yang dialami secara materiil diperkirakan di atas Rp 120 miliar, jika harga kapal Rp 3 hingga Rp 4 miliar per unit. Namun itu belum termasuk isi kapal dan peralatan lainnya. Sehingga kerugian ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.

Sumber : kumparan.com/@kumparannews/39-kapal-yang-terbakar-di-pelabuhan-benoa-tak-punya-asuransi-27431110790542233