80% Asuransi Umum Tak Capai Target Gara-Gara Ini

07 Feb 2019, 11:07

Berbagai kendala seperti bencana alam dan fluktuasi nilai rupiah membuat mayoritas perusahaan asuransi umum di Jogja tak capai target hingga akhir 2018. Memasuki 2019, kondisi politik nasional dikhawatirkan akan berpengaruh pada kinerja perusahaan.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) DPD DIY, Bodi Hadisuwarno mengakui mayoritas perusahaan asuransi umum atau sekitar 80% tak berhasil mencapai target tahunan. Meski demikian, ia mengklaim pencapaian para perusahaan asuransi umum tersebut juga cukup menggembirakan, di kisaran 80%-90% dari target yang telah ditetapkan sejak awal tahun. Bodi menyebut ada beberapa kendala yang dihadapi perusahaan asuransi umum sepanjang 2018 yang menghambat pencapaian tahunan. Di antaranya banyak terjadi bencana alam.

Bodi menjelaskan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi, berpengaruh pada banyaknya klaim asuransi yang harus dibayarkan perusahaan. Hal itu membuat cashflow perusahaan menjadi kurang sehat. Walhasil perusahaan juga sangat pilih-pilih dalam menerima nasabah dengan mempertimbangkan faktor risiko sehingga pencapaian nasabah pun berkurang, tak seperti kondisi normal. "Misalnya untuk segmen kargo. Kemarin kan cuaca buruk terus, kami pun merugi dan sangat pilih-pilih nasabah. Akhirnya pencapaian dari segmen ini tidak maksimal," katanya kepada Harian Jogja.

Selain itu, Bodi menyebut melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang 2018 dan mendekati tahun politik juga berpengaruh besar terhadap pencapaian tahunan. Meskipun sejak akhir tahun lalu hingga kini nilai tukar rupiah terus menguat, Bodi mengkhawatirkan faktor tahun politik akan lebih berpengaruh pada keputusan konsumen dibandingkan kondisi perekonomian yang membaik. Pasalnya banyak orang berfikir, akan ada aturan-aturan perubahan baru saat terjadi turbulensi politik atau bahkan pergantian pemimpin. Sehingga mereka lebih memilih main aman dan tidak melakukan investasi apapun sebelum Pemilu berlangsung pada April mendatang. "Maka awal tahun ini kami belum tahu akan menargetkan berapa karena masih wait and see kondisi lapangan," ujarnya.

Bodi memprediksi para perusahaan asuransi umum baru bisa menjalankan usahanya dengan stabil pada semester II/2019 atau setelah Pemilu 2019. Jika April kendalanya adalah Pemilu, maka bulan-bulan setelahnya yakni Mei hingga Juli merupakan persiapan dan Ramadan hingga Lebaran. Pada waktu-waktu tersebut, Bodi mengaku biasanya bisnis asuransi umum akan sepi.

Investasi Tumbuh

Dari segi investasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai Oktober 2018, industri asuransi umum meraih hasil investasi Rp3,46 triliun atau tumbuh 3,9% dibandingkan Oktober tahun lalu sebesar Rp3,33 triliun. Meski tumbuh tipis, tapi porsi dana investasi asuransi umum masih tumbuh 10,58% menjadi Rp71,35 triliun pada Oktober 2018. Di tengah kondisi pasar yang tertekan, pelaku usaha masih mengandalkan instrumen investasi deposito sebesar 35,99% dari total dana investasi, disusul instrumen reksadana 21,49%, SBN 12,99%, obligasi korporasi 11,40% dan saham 5,8%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimuthe menjelaskan pelaku usaha lebih memilih instrumen deposito dan reksadana karena cenderung stabil serta lebih tahan terhadap fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG). Sementara untuk pemilihan surat berharga negara (SBN), industri hanya memenuhi ketentuan pemerintah bahwa pelaku usaha minimal berinvestasi ke SBN sebanyak 20% dari total investasi perusahaan. Kewajiban itu termuat dalam Peraturan OJK (POJK) No.1/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank.

Sumber : ekbis.harianjogja.com/read/2019/01/21/502/966390/80-asuransi-umum-tak-capai-target-gara-gara-ini