800 Hektar Lahan Jagung di Poto Tani Gagal Panen

03 Jul 2018, 14:18

Sekitar 800 hektar lahan jagung musim tanam kedua di Kecamatan Poto Tano, Kab. Sumbawa Barat mengalami gagal panen. Hal tersebut terjadi pasca wilayah setempat dilanda kemarau panjang serta jaringan irigasi yang dianggap belum maksimal.

Akibat dari bencana tersebut, kini para petani jagung yang ada, harus merugi hingga ratusan juta. Hal ini bisa terlihat, karena untuk satu hektar lahan jagung dibiayai sekitar Rp2,5 juta.

“Kita sudah buatkan laporan resmi dan kita sampaikan ke Pemerintah Daerah terkait bencana kekeringan yang kami alami saat ini. Bahkan kondisi gagal panen merupakan kondisi yang sangat parah karena sejak KSB ini terbentuk tidak pernah terjadi. Terkait masalah ini kami berharap Pemda bisa mengambil sikap terkait masalah kekeringan ini,” ujar Kades Kokarlian M. Dahlan kepada Suara NTB, Kamis, 28 Juni 2018.

Dikatakannya, selain kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut, kondisi jaringan irigasi yang tidak maksimal juga bisa menjadi faktor lain banyaknya lahan jagung yang mengalami gagal panen. Bahkan, saat ini, embung yang sudah terbangun hanya bentuk fisiknya saja dan belum memberikan manfaat yang lebih kepada masyarakat di desa Kokarlian. Apalagi kondisi Kokarlian yang sifatnya tadah hujan akan sangat bergantung pada jaringan irigasi.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap kepada Pemkab supaya bisa mengambil sikap terkait masalah kekeringan. Jika hal ini tetap dibiarkan, dikhawatirkan petani jagung yang ada akan semakin merugi, “Kita minta Pemkab bisa mengambil langkah strategis terkait kekeringan ini. Kami juga berharap supaya para petani yang gagal panen ini bisa dibantu akan dicarikan jalan keluar terhadap biaya yang sudah dikeluarkan,” ungkapnya.

Menanggapi masalah tersebut, Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Distanbunnak) melalui Kabid pertanian dan tanaman pangan Syaiful Ulum SP, mengakui bahwa kondisi jagung yang ada di Kokarlian sudah masuk dalam kategori gagal panen. Sementara saat ini untuk jagung belum ada program asuransinya untuk bisa mengganti luas lahan jagung petani yang rusak. Hanya saja pihaknya akan mengupayakan di tahun berikutnya akan ada program untuk asuransi jagung. Sehingga petani jagung ini tidak terlalu merugi jika ada kondisi yang gagal panen. Pihak terkait juga sudah berupaya cukup maksimal dengan mengerahkan mesin air yang dimiliki supaya tanaman jagung di desa tersebut tidak rusak. Hanya saja upaya itu tidak maksimal karena tidak ada sumber mata air baku.

“Kita berupaya maksimal untuk menyelamatkan lahan jagung yang rusak ini. Tetapi karena kondisi airnya yang menipis kita juga tidak maksimal,” sebutnya.

Dikatakannya, luas lahan jagung yang mengalami gagal panen di Kokarlian merupakan dampak kemarau panjang yang terjadi di wilayah setempat. Kondisi ini juga merupakan “bencana” gagal panen terbesar yang terjadi di KSB jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya kini ada sekitar 4. 800 ton jagung yang tidak bisa dihasilkan oleh petani jagung yang ada di wilayah setempat. Itu artinya, program swasembada jagung di KSB terancam tidak bisa terealisasi di tahun 2018 ini. Namun demikian, pihak terkait tetap akan mencari jalan keluar terbaik menyikapi masalah ini sehingga produksi jagung bisa tercapai.

“Jika kita melihat luas lahan jagung yang rusak, kita pesimis angka produksinya akan mencapai target. Tapi kita tetap berupaya mencari jalan lain supaya produksi jagung kita tetap mencapai target yang ada,” tandasnya. (ils)

Sumber : suarantb.com/news/2018/06/29/257992/800.Hektar.Lahan.Jagung.di.Poto.Tani.Gagal.Panen