AAUI Tak Harus Tambah Modal

23 Mar 2017, 09:34

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyatakan perusahaan dengan tingkat solvabilitas mendekati batas minimum 120% tidak harus menambah modal.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor mengatakan asuransi dan reasuransi yang memiliki tingkat solvabilitas atau risk based capital (RBC) di atas 120% masih dikategorikan sebagai perusahaan sehat. Hal itu merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan No. 53/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Ketentuan itu, khususnya Pasal 2, menyebutkan bahwa perusahaan setiap tahun wajib menetapkan tingkat solvabilitas paling rendah 120% dari modal minimum berbasis risiko atau MMBR. Karena itu, dia mengatakan penambahan modal disetor belum menjadi keharusan bagi perusahaan dengan tingkat RBC di atas 120%.

“Tidak ada persoalan dengan asuransi di atas 120%, kalau dilihat dari sisi kesehatan,” ujarnya, Kamis (16/3).

Jika tidak mencapai tingkat solvabilitas minimum itu, kata Julian, maka perusahaan asuransi baru diwajibkan untuk melakukan langkah penyehatan. Perusahaan dengan kategori itu diharuskan untuk menyampaikan rencana penyehatan keuangan.

PMK No. 53/2012, Pasal 49, Ayat 3, mengatur tentang langkah penyehatan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi dengan RBC di bawah ketentuan minimal. Langkah itu paling kurang memuat rencana restrukturisasi aset dan liabilitas, penambahan modal disetor, pemberian pinjaman subordinasi, peningkatan tarif premi, pengalihan sebagian atau seluruh portofolio pertanggungan, serta penggabungan badan usaha.

Julian menjelaskan perusahaan dengan RBC di kisaran 120%--150% juga masih dapat menjalankan lini bisnis asuransi kredit atau suretyship. Hal itu, jelasnya, diatur dalam PMK No. 124/2008 tentang Penyelenggaraan Lini Usaha Asuransi Kredit dan Suretyship.

PMK tersebut menyatakan asuransi yang dapat memasarkan produk tersebut harus memenuhi kondisi keuangan sehat atau dengan pencapaian tingkat solvabilitas sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, ketentuan itu mensyaratkan rasio perimbangan antara jumlah investasi dan cadangan teknis serta kewajiban pembayaran klaim retensi sendiri sesuai dengan aturan mengenai kesehatan perusahaan asuransi dan reasuransi.

“Artinya ini kembali merujuk kepada PMK No.53/2012. Perusahaan yang RBC-nya di atas 120% bisa menyediakan asuransi kredit atau suretyship.”

Julian menjelaskan PMK No.124/2008 memberikan batasan minimal rasio likuiditas paling rendah sebesar 150% agar dapat memasarkan produk tersebut. Rasio likuiditas adalah perbandingan antara aset lancar dan liabilitas lancar.

Dia mengatakan tambahan modal tidak menjadi keharusan bagi perusahaan asuransi yang memiliki tingkat RBC di kisaran 120%--150% untuk masuk ke lini bisnis itu. “Pengertian rasio likuiditas dengan batasan 150% itu berbeda dengan pengertian RBC,” jelasnya.

Wakil Ketua dan Kepala Bagian Keuangan AAUI Jenry Cardo Manurung mengatakan PMK No. 53/2012 menyatakan penambahan modal tidak menjadi satu-satunya pilihan bagi perusahaan yang dikategorikan tidak sehat secara finansial. Apalagi, perusahaan masih mencapai batas minimum tingkat solvabilitas.

Dia menjelaskan langkah penyehatan keuangan dapat ditempuh asuransi melalui restrukturisasi aset. “Misalnya, bisa mengalihkan aset tak lancar yang tergolong aset yang tidak diperkenankan menjadi aset yang diperkenankan sehingga RBC bisa meningkat kembali,” katanya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa keuangan, hingga akhir 2016 tingkat RBC rata-rata di industri asuransi umum mencapai 266,7% dan di sektor asuransi jiwa 497,4%. Realisasi tersebut terbilang menurun karena pada akhir 2015 RBC rata-rata asuransi umum mencapai 282,7% dan asuransi jiwa 534,8%.

Data tersebut juga mencatat, hingga akhir tahun lalu terdapat satu perusahaan asuransi umum yang mencatat RBC sebesar 73%, atau jauh di bawah ketentuan minimal sebesar 120%. Di sektor tersebut, 10 perusahaan tercatat memiliki tingkat solvabilitas di kisaran 120%-150% dan empat perusahaan dengan RBC di atas 1.000%.

Di sektor asuransi, pada akhir 2016 terdapat enam perusahaan dengan RBC di antara 120%-180% dan 11 perusahaan dengan rasio kecukupan modal leih dari 1.000%.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Dumoly F. Pardede sebelumnya mengatakan perusahaan asuransi dengan tingkat solvabilitas tidak jauh di atas 120% sebenarnya tergolong normal. Di sisi lain, banyaknya perusahaan asuransi dengan RBC yang sangat tinggi juga masih terbilang wajar. “Asuransi jiwa lazim nilai RBC tinggi sekali.”

Kendati demikian dia tidak menampik pada akhir tahun lalu kondisi RBC industri asuransi mengalami penurunan. Satu perusahaan asuransi, jelasnya, juga tengah merealisasikan penambahan modal karena hal tersebut.

Sumber : bisnis.com