Alam Takambang Jadi Guru

24 Mar 2017, 15:51

Kali ini penulis ingin mengutip dua buah pepatah Minangkabau. Sekadar menggali kekayaan khasanah budaya negeri sendiri, yang ternyata mengagumkan.

Yang pertama :

“Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuek pambaok baban, nan binguang kadisuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang.”

Yang kedua :

“Panakiak pisau sirauik ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka niru, Nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang. Alam takambang jadi guru.”

Khusus untuk pepatah pertama dan kepada Anda yang tidak berbahasa Minang, kita coba terjemahan harafiahnya berikut;

“Yang buta (sebagai) penghembus lesung, yang tuli (sebagai) pelepas bedil, yang lumpuh (sebagai) penunggu rumah, yang kuat (sebagai) pembawa beban, yang bingung (sebagai yang) akan disuruh-suruh, yang pintar (sebagai) teman berunding.”

Falsafah ini biasa dituturkan oleh alim ulama, kaum cerdik pandai, pemuka adat, petinggi di Minangkabau untuk memanggil andil semua unsur masyarakat bersatu dalam suatu perhelatan. Maka tidak mengherankan jika gaya tutur yang diambil mirip dengan seorang organizer yang tengah membagi-bagi pekerjaan kepada kru-krunya. “yang ini tangani ini, yang itu tangani itu”.

Dengan pepatah ini, seorang pemimpin dituntut untuk percaya bahwa setiap individu memiliki potensi yang unik untuk berperan membangun kelompoknya. Tidak ada yang boleh disia-siakan, karena pasti ada manfaatnya. Seorang pemimpin, bertanggung jawab untuk memetakan kelebihan dan kekurangan seluruh individu dalam kelompoknya, serta mendelegasikan peran yang paling tepat kepada tiap-tiap mereka, agar kelebihan mereka dapat berkembang optimal, dan kekurangan mereka dapat dikonversi menjadi nilai tambah. Dalam konsep modern, konsep ini dikaitkan sebagai teamworking, atau dapat juga sebagai positioning (right person for the right job).

Mengagumkan! Konsep-konsep yang dibangun manajemen modern, dan digaransi sebagai pijakan keberhasilan dalam mengembangkan suatu organisasi, ternyata sudah diajarkan turun temurun, baik lisan maupun dituliskan dalam karya sastra, oleh kearifan lokal dalam negeri, jauh sebelum penulis manajemen modern memformulasinya.

Beruntunglah  kita yang dibesarkan dengan beragam nilai kearifan lokal dari tempat kelahiran kita masing-masing. Terbukti bahwa nilai-nilai itu merupakan titipan yang berharga dari ‘filusuf tradisional Indonesia’, sehingga patut kita jaga dan kita kembangkan.

Terakhir, untuk pepatah kedua di awal tulisan ini, penulis mungkin tidak perlu menghadirkan terjemahannya. Karena menurut beberapa literatur, terutama terkait filsafat pada kalimat terakhir, “Alam takambang jadi guru”, sudah bukan lagi monopoli budaya Minangkabau semata. Konsep serupa sudah mendarah daging hampir di seluruh nusantara. Meskipun dengan bahasa yang berbeda-beda, tampaknya orang Indonesia telah sepakat bahwa di alam telah terbentang banyak sekali ilmu untuk kebaikan manusia. Jadi, mari belajar dari alam!*(iji)