Antisipasi Kantong Jebol Akibat Musibah saat Melancong

19 Jul 2018, 08:39

Travelling atau melancong saat ini tak hanya milik kalangan atas. Belakangan kegiatan wisata ini menjadi tren bagi sebagian masyarakat bagi kelompok masyarakat kelas menengah, meski dengan anggaran yang cukup minim.

Anggaran yang minim pun membuat sebagian besar pelancong tak memprioritaskan perlindungan pada diri maupun harta benda selama melakukan perjalanan. Padahal selama perjalanan, beragam risiko menanti, mulai dari kehilangan barang di bagasi pesawat, keterlambatan pesawat, pembatalan penerbangan, perampokan, hingga kecelakaan.

Putri Kartika misalnya, karyawan swasta yang kerap melakukan perjalanan wisata ini mengaku masih enggan membeli polis asuransi perjalanan dengan alasan tak ingin boros.

"Terus saya berpikir positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa, tapi saya tahu ada asuransi perjalanan," cerita Putri.

Setali tiga uang, pelancong lainnya, Winny Tang juga memutuskan berhemat dengan tak membeli asuransi. Ia memandang asuransi perjalanan belum diperlukan, terlebih barang yang dibawa untuk berwisata bukan barang mahal.

"Saya masih bisa urus kalau barang di bagasi hilang karena barang yang dibawa tidak mahal-mahal sekali, malas urus klaim. Mau simpan uang juga," ucap perempuan yang akan berlibur ke Bangkok dalam waktu dekat.

Perencana Keuangan Budi Rahardjo mengungkapkan asuransi perjalanan merupakan hal yang penting. Asuransi tersebut tak hanya penting untuk pelancong yang akan bepergian ke luar negeri, tapi juga yang hendak ke luar kota.

"Kalau terjadi kecelakaan itu penting. Apalagi untuk kepala keluarga," tutur Budi.

Ia juga menyarankan generasi milenial yang kerap melakukan perjalanan sendiri untuk membeli polis asuransi. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kantong yang mungkin jebol jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

"Ya memang kita semua tidak menginginkan hal buruk terjadi, tapi kalau terjadi dan tidak memiliki asuransi itu malah membuat keuangan bengkak. Bisa ganggu keuangan orang tua," papar Budi.

Budi mengakui banyak orang yang enggan membeli polis asuransi karena takut merugi. Sebab, uang yang sudah dibayarkan untuk membeli polis tak bisa kembali jika tak terjadi suatu hal buruk kepada nasabah.

"Tapi keuntungannya akan sangat dirasakan kalau terjadi hal buruk. Kalau tidak terjadi hal buruk seolah uang hilang, tapi ya itu namanya asuransi," sambung Budi.

Asuransi, menurut dia, akan menutupi kerugian yang dialami pelancong jika mengalami musibah kala berpergian. Kerugian yang dapat ditanggung asuransi, antara lain mencakup, kecelakaan penerbangan atau saat menggunakan kendaraan lain, barang hilang di bandara atau dalam perjalanan, kehilangan paspor, serta sakit dalam perjalanan.

"Bahkan kalau ada yang meninggal dunia bisa dievakuasi sampai ke tanah air atau ke tempat asal nasabah," jelas Budi.

Proses Beli Asuransi Perjalanan

Salah satu direktur perusahaan asuransi yang ada di Indonesia Debbie Wijaya mengatakan proses pembelian asuransi perjalanan saat ini cukup mudah. Masyarakat ditawarkan beberapa opsi pembelian, yakni datang langsung ke kantor cabang perusahaan asuransi atau melalui agen.

"Melalui agen pun bisa dengan cara online, jadi dokumen yang dibutuhkan bisa dikirim melalui whatsapp misalnya nanti diproses," kata Debbie.

Selain itu, beberapa perusahaan asuransi juga melakukan kerja sama dengan situs online, seperti. Proses pembeliannya sendiri terbilang simpel dan tidak membutuhkan waktu lama.

"Ini bukan produk yang kompleks kok, sangat sederhana dan bisa satu hari sudah jadi," jelas Debbie.

Saat ini, perusahaan tersebut memiliki dua produk asuransi perjalanan, yakni untuk di dalam negeri dan luar negeri. Debbie mengatakan jumlah premi yang harus dibayarkan berbeda-beda tergantung berapa lama perjalanan dan apa saja yang menjadi penanggungan.

"Makin lama perjalanan makin mahal," kata Debbie.

Berdasarkan data di salah satu website Asuransi, produk asuransi perjalanan yang ditawarkan, batasan usia yang bisa membeli produk itu, yakni 70-74 tahun dengan santunan kematian dan santunan lainnya sebesar 50 persen dan biaya media sebesar 20 persen.

Sementara, bagi nasabah yang berumur 75-85 tahun, persentase santunan kematian dan santunan lainnya sebesar 50 persen dan biaya media tidak dijamin. Sayangnya, perusahaan tak menuliskan harga polis yang perlu dibayarkan.

Secara keseluruhan, Budi menyebut dokumen yang dibutuhkan untuk membeli polis asuransi, yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP), tiket penerbangan, dan paspor jika bepergian ke luar negeri. (agi)

Sumber : cnnindonesia.com/ekonomi/20180706211937-83-312177/antisipasi-kantong-jebol-akibat-musibah-saat-melancong