Ari Jera Asuransikan Sawahnya, Begini Alasannnya

Ari Jera Asuransikan Sawahnya, Begini Alasannnya

07 May 2019, 13:42
Ari Jera Asuransikan Sawahnya, Begini Alasannnya

Tak semua petani di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) memiliki jaminan asuransi ketika gagal panen. Pasalnya, tak semua petani mengasuransikan lahannya ke Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Contohnya saja, Ari warga dari Desa Sungai Rangas Kecamatan Labuan Amas Selatan ini justru memilih tidak mengasuransikan lahan pertanian miliknya.

Sebenarnya Ari pernah mengikuti AUTP. Bahkan hingga dua kali panen padi. Sayangnya, Ari kecewa dengan sistem penggantirugian yang dilakukan jasa asuransi padi.

Ia menjelaskan, gagal panen yang dibayarkan haruslah kerusakan parah. Jika hanya mengalami gagal panen sebagian atau setengahnya saja, asuransi enggan membayarkan ganti rugi.

Dari kalkulasi yang dilakukannya, ia merasa mengikuti asuransi tak menguntungkannya. Apalagi, ia sempat mengalami gagal panen.

Gagal panen yang menimpanya sudah dilaporkannya. Namun, karena ia sempat memanen hasil padi miliknya. Alhasil ganti rugi gagal dilakukan.

“Namanya petani itu sayang kalau tidak dipanen. Masa harus menunggu rusak semua. Kan tidak mungkin. Sayang padinya. Saya panen. Dapatnya rasanya cuma sekarung. Eh tidak dibayarkan,” ceritanya, Kamis (11/4/2019).

Tahun ini ia enggan membayar asuransi dengan alasan serupa.

“Gantinya juga tidak sesuai. Satu hektare itu ganti ruginya Rp 6 juta. Jika dihitung kasar, menunggu lahan rusak satu hektare itu kerugiannya besar. Hitungan kasarnya begini satu hektare mampu menghasilkan padi tiga ton. Itu paling sedikit lho. Rata-rata bisa sampai enam ton. Tiga ton dikalikan per kilogramnya Rp 4 ribu saja. Apa tidak Rp 12 juta. Lagi pula tidak ada tawaran asuransi juga,” katanya.

Soal hama pertanian seperti hama wareng dan tikus menurutnya memang sering terjadi. Terlebih bagi petani yang melakukan tanam padi hingga dua kali dalam satu tahun. Musim tikus biasanya pada pertengahan tahun bulan Juni.

“Tikus itu pasti ada. Bukan padinya yang dimakannya. Tapi dia merusak batang,” katanya.

Sebenarnya, petani yang enggan menggunakan asuransi pertanian padi tak hanya ari. Di Kelompok Tani Hilir Masjid, Desa Pengambau Hulu Kecamatan Haruyan juga serupa. Bahkan 66 anggota kelompok tani ini tidak menggunakan jasa asuransi.

Ketua Kelompok Tani Hilir Masjid, Atahillah, mengatakan jika petani tak ada yang ingin gagal panen. “Ya tidak masuk karena tidak berharap ada gagal panen. Petani itu punya prinsip agar tidak ada yang gagal panen,” bebernya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Kelompok Tani Mirta Tani di Desa Tabat Padang Kecamatan Haruyan, Hadriansyah. “Memang belum ada yang daftar. Karena asuransi itu tergantung dari UPT. Nah,UPT di sini masih kurang. Jadi petani belum ada yang menggunakan asuransi,” jelasnya.

Sumber : banjarmasin.tribunnews.com/2019/04/11/ari-jera-asuransikan-sawahnya-begini-alasannnya.