Asia Tenggara Jadi Role Model Industri Asuransi Global

06 Sep 2018, 16:12

Perkembangan asuransi jiwa di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya menjelma menjadi role model industri asuransi jiwa secara global.

Industri asuransi di Asia, seperti Indonesia, mempunyai sistem yang baik, terutama dalam meningkatkan penetrasi industri asuransi melalui peran agen asuranai jiwa.

"Asia Tenggara jadi role model yang bagus untuk pertumbuhan asuransi, karena ada pertumbuhan kelas menengah di wilayah ini. Di sini punya sistem merekrut agen profesional. Produk asuransinya juga sangat inovatif dan kuat. Nah kelas menengah itu hanya tinggal menunggu agen profesional menelpon mereka," kata James D Pittman, Presdir MDRT Internasional saat press conference MDRT Day Indonesia 2018 di ICE BSD, Serpong, Rabu (29/8/2018).

Kondisi tersebut menurut James sangat berbeda dengan di Amerika Serikat karena agen asuransi di AS membuat rekrutmen sendiri, training sendiri, independen seperti praktik broker asuransi, tidak terikat dengan perusahaan asuransi.

Konsekuensinya, lanjut James, banyak populasi yang tidak terasuransikan.

"Jadi kondisi Asia Tenggara kebalikan dari AS. Di sini agen asuransi dari part time menjadi full time. Tentunya perusahaan juga memiliki banyak agen yang teredukasi. Dan dengan itu akan ada growth populasi yang terasuransikan," jelas James.

Maka, MDRT Global menaruh perhatian yang tinggi ke Asia Tenggara.

Dia mengaku, memang selama empat tahun keliling dunia, dia menemukan di setiap negara yang memilki kelas menegah, termasuk Indonesia, memiliki masalah yang sama.

"Manusia pernah sakit, meninggal, cacat. Nah, kehadiran asuransi membuat keluarga bersatu dan bisnis atau usaha tetap bertumbuh," katanya.

Jadi MDRT selama 90 tahun telah membantu semua anggotanya terus tumbuh, salah satunya melalui seminar MDRT yang memberi ide tentang praktik yang bagus dalam industri asuransi.

"Pada akhirnya semua industri dan agen asuransi ingin membuat atau memberikan yang terbaik bagi klien atau nasabah," kata James.

Untuk itu, dalam seminar MDRT Day Indonesia 2018 ini, James berbagi strategi soal praktik yang telah dilakukannya untuk klien.

Contohnya, kata James, menciptakan waktu untuk mengetahui ketakutan, harapan dan impian dari klien lalu mengedukasi mereka untuk mencapai impian.

"Dan bagaimana membangun praktik bisnis yang benar dan tumbuh secara konsisten untuk kepentingan keluarga dan bisnis sehingga bisa terlindungi semua," jelasnya.

Lucy Dewani, Advisor Komite MDRT Indonesia menegaskan, industri asuransi di Indonesia memang telah memilki sistem pengembangan agen yang baik, kendati penetrasi asuransi masih kecil.

"Kita punya sistem selling dan rekrutmen yang bagus. Jadi seorang agen tidak hanya menjual tetapi juga merekut dan membangun komunitas agen profesional melalui edukasi agen terus menerus," katanya.

Dengan tingkat profesionalisme agen yang semakin baik akan berdampak pada populasi klien. Dengan demikian sumbangan industri asuransi ke GDP Nasional juga akan terkerek naik. "Itu pasti dampaknya ke GDP, kita optimis," ujarnya.

Glen Alexander Winata, Country Chair MDRT Indonesia mengatakan, penetrasi yang masih minim dari industri asuransi ke GDP tidak luput dari level profesionalisme agen.

"Karena masih banyak agen saat menjual kurang profesional. Hanya ambil komisi tidak menjelaskan prinsip asuransi. Harusnya sebagai financial planer itu menjelaskan klausal (perjanjian) dalam berkas polis kepada nasabah. Tidak heran kalau masih banyak masyarat trauma, karena janji akan mendapatkan keuntungan ternyata sebaliknya," kata Glen.

tribunnews.com/bisnis/2018/08/29/asia-tenggara-jadi-role-model-industri-asuransi-global