ASOSIASI ASURANSI: Relaksasi Perhitungan RBC Asuransi Dan Reasuransi Agar Diperpanjang

27 Jan 2016, 08:00

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku jasa asuransi berharap adanya perpanjangan masa bagi relaksasi formula perhitungan rasio kecukupan modal atau risk based capitalyang ditetapkan Otoritas Jasa Keuang sejak semester II/2015.

Pasalnya, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Yasril A. Rasyid memperkirakan pemulihan kinerja ekonomi nasional belum akan berjalan signifikan pada tahun ini, setelah sempat melambat pada 2015.

Karena itu, dia berharap kelonggaran pada formulasi perhitungan risk based capital(RBC) itu masih bisa diterapkan sepanjang tahun ini.

“Perekonomian belum akan pulih sepenuhnya hingga akhir tahun 2016,” ujarnya kepada Bisnis.

Yasril menuturkan pelonggaran perhitungan RBC dengan toleransi pemenuhan Modal Minimum Berbasis Risiko (MMBR) menjadi 50%, dari ketentuan seharusnya dari 100%, itu bisa diperpanjang. Pilihan lain yang dapat diterapkan otoritas, menurut dia, adalah peningkatan pemenuhan MMBR dengan persentase tetap di bawah 100%.

Besaran peningkatan persentase itu tentunya akan disesuaikan dengan hasil strest test yang dilakukan otoritas dengan menimbang kondisi ekonomi tahun ini.

“Bisa saja dinaikkan persentasinya, tetapi tetap di bawah 100%. OJK tentunya lebih paham mengenai kebutuhan ini karena punya data dan tools untuk analisis.”

Kendati begitu, Yasril tetap berharap kinerja ekonomi Indonesia akan lebih baik sehingga relaksasi itu tidak perlu dilaksanakan hingga akhir 2016.

Seperti diketahui, pada awal Semester II/2015 OJK melakukan simulasi stress testdengan menggunakan indikator nilai tukar rupiah Rp15.000 terhadap dollar AS serta penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 20%.

Hasilnya, tujuh perusahaan asuransi terancam memiliki RBC dibawah ketetapan minimal, yakni 120% untuk asuransi konvensional dan 30% untuk asuransi syariah. Tiga perusahaan asuransi jiwa dan empat perusahaan asuransi umum. Mayoritas perusahaan tersebut memiliki aset investasi di pasar modal yang bergerak volatilesepanjang tahun ini. 

Karena itu, sejak 1 September 2015, melalui  Surat Edaran OJK No.24/SEOJK.05/2015 tentang Penilaian Investasi Surat Utang dan Penyesuaian MMBR Bagi Perusahaan Asuransi dan Reasuransi, otoritas merelaksasi formulasi penghitungannya.

Pertimbangannya, volatilitas pasar modal berpotensi menekan aset investasi yang bisa membuat rasio RBC tergerus dengan sendirinya, bukan karena kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.

Togar Pasaribu, Pjs. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia sebelumnya mengatakan sejumlah indikator makro ekonomi seperti pasar modal dan kurs rupiah pada akhir 2015 justru kembali melemah, sehingga solvabilitas perusahaan asuransi berpotensi terganggu dan bahkan berada di bawah ketentuan otoritas.

Karena itu, pelonggaran aturan itu dinilai masih dibutuhkan perusahaan asuransi hingga tahun ini. 

 

Sumber: http://finansial.bisnis.com/read/20160122/215/511970/asosiasi-asuransi-relaksasi-perhitungan-rbc-asuransi-dan-reasuransi-agar-diperpanjang