Asuransi dan Fakta-Mitos yang Mengelilinginya

Asuransi dan Fakta-Mitos yang Mengelilinginya

13 Sep 2019, 15:03
Asuransi dan Fakta-Mitos yang Mengelilinginya

Adat pasang berturun naik. Peribahasa ini rasanya tepat untuk menggambarkan nasib kita yang tak pernah sama. Keadaan terus berubah, susah dan senang silih ganti menghampiri.

Di novel Hujan Bulan Juni (2015), Sapardi menulis, “Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas materai dan tidak boleh digugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk. Kata yang ada di Langit sana, kalau baik ya alhamdulillah, kalau buruk ya disyukuri saja.”

Sebagai manusia, kita ditakdirkan menjalani hidup dalam ketidakpastian, sekaligus bertugas “menggarap” nasib: mau pasrah dengan ketidakpastian dan segala risikonya, atau mencari solusi perlindungan yang sanggup memberi kepastian.

Solusi perlindungan itu bernama asuransi. Namun, topik soal asuransi sendiri menimbulkan banyak persepsi. Ada yang bilang pemilik asuransi hanyalah orang-orang berduit. Sudahlah bayar mahal, klaim asuransi, konon, kerap dipersulit. Ada pula yang lebih pilih mengabaikan risiko-risiko hidup.

Hasbullah Thabrany, profesor Fakultas Kesehatan Publik Universitas Indonesia, mengatakan bahwa kecenderungan masyarakat yang tak terlalu memedulikan risiko hidup disebabkan oleh dua persepsi umum, yaitu relatif tak melihat jangka panjang serta tak lepas dari kepercayaan dan tradisi.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 (PDF) yang dilakukan OJK, 96,81% masyarakat Indonesia mengaku memiliki tujuan keuangan, tetapi mayoritas untuk jangka pendek sekadar memenuhi kehidupan sehari-hari dan mempertahankan hidup. Bagi mereka, banyak kebutuhan mendesak yang lebih perlu dipenuhi ketimbang membeli produk asuransi yang manfaatnya tak bisa dirasakan langsung.

“Sering kali orang yang membeli asuransi malah diomeli karena dianggap mendoakan orang untuk sakit,” ujar Hasbullah, yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (PAMJAKI).

Sebagian masyarakat menganggap pamali bila berpikir apalagi bertindak mendahului kehendak Tuhan. Mereka menerima takdir sebagai wujud kepasrahan. Padahal konsep asuransi adalah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, bukan melawan atau mendahului takdir. Dengan kata lain, mengutip ungkapan orang bijak, "Manusia boleh berusaha tetapi Tuhan yang menentukan." Dengan asuransi, seseorang bisa lebih tenang merespons takdir (dalam wujud hal-hal tak terduga) karena yakin masa depan aman.

Sumber : tirto.id/asuransi-dan-fakta-mitos-yang-mengelilinginya-ehRh