ASURANSI PERTANIAN: OJK Perkirakan Dimulai Desember 2015

27 Oct 2015, 09:20

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan memperkirakan asuransi pertanian padi dimulai pada musim tanam Desember 2015.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan menuturkan target 1 juta hektar pada tahap awal dengan dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2015 sebagai uji coba.

Dia mengharapkan setelah perusahaan asuransi memiliki cukup pengalaman dalam lini asuransi ini, kedepannya produk ini dapat dipasarkan secara komersil tanpa subsidi.

"Kedepannya diharapkan seluruh lahan pertanian dapat terlindungi. Sekarang1 juta hektar, lalu 2016 jadi 3 juta hekta,r setelahnya bisa 10 juta hektar," kata Firdaus di Jakarta, Senin (26/10/2015).

Edy Setiadi, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan mengatakan saat ini pertanian merupakan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak. Sehingga dengan sendirinya penerapan asuransi pertanian menjangkau samakin banyak masyarakat yang merasakan langsung manfaat dari asuransi.

"Ini merupakan pelengkap dari asuransi mikro, OJK mendorong asuransi yang menyasar bilangan besar, sehingga semakin banyak masyarakat yang tercover untuk mengurangi kesenjangan proteksi," kata Edy.

Edy mengatakan asuransi memiliki tiga manfaat utama yakni bermanfaat bagi perekonomian, memberikan stabilitas dan kepastian karena melindungi dari risiko serta adanya unsur pemerataan, keadilan.

"Semua orang dapat menikmati asuransi, termasuk golongan paling miskin," katanya.

Otoritas sendiri menargetkan memberikan dukungan maksimal untuk produk asuransi pertanian. Selain dukungan kemudahan aturan, Edy mengatakan pihaknya akan memberikan kemudahan jalur pemasaran dengan dibukanya kanal sub agen.

"Namun aturannya masih disiapkan, jangan sampai kredibilitas asuransi terganggu," katanya.

Edy mengatakan potensi pertanian Indonesia tidak hanya terbatas pada lahan sawah, namun melingkupi tanaman perkebunan, perikanan hingga peternakan. Menurutnya, dampak ikutan masuknya perusahaan asuransi ke dalam sektor pertanian memberikan kepercayaan perusahaan pembiayaan dan perbankan untuk menyalurkan pendanaan kepada sektor pertanian.

Kepercayaan ini timbul karena perusahaan asuransi akan menetapkan pola tanam yang terstandar, tata kelola yang baik hingga mekanisme penanganan penyakit. Dengan ini maka masyarakat akan memiliki pola bercocok tanam yang baik dan memiliki potensi penen lebih baik.

Edy menuturkan, perluasan asuransi pertanian ini kedepan tidak sebatas yang didukung oleh Kementerian Pertanian dengan subsidi premi, namun masing-masing perusahaan asuransi akan melihat potensi yang dapat di garap mengingat luasnya lahan pertanian di Indonesia.

Saat ini asuransi pertanian dikhususkan pada tanaman padi dan dirancang dengan pola subsidi. Pemerintah menanggung 80% pembayaran premi sedangkan 20% ditanggung oleh petani yang bersangkutan. Dalam tiga AUTP yang dijalankan pada periode 2012-2013, besaran premi yang harus dibayar yakni Rp180.000 per ha. Pemerintah menanggung Rp 144.000 lsedangkan petani membayar Rp36.000. Bila terjadi gagal panen, petani berhak mendapatkan Rp 6 juta per ha.

Pemerintah sendiri pada 2016 menargetkan asuransi ini diterapkan pada 5 juta hektar lahan sawah dari saat ini 1 juta hektar di 2015. Rinciannya 2,6 juta sawah yang saat ini mendapat pengairan teknis terlindungi untuk dua kali musim tanam.

Sumber: http://finansial.bisnis.com/read/20151027/215/486158/asuransi-pertanian-ojk-perkirakan-dimulai-desember-2015