ASURANSI UMUM: Investasi Di Instrumen Deposito Terus Menurun

25 Jul 2016, 08:30

Porsi investasi industri asuransi umum pada instrumen deposito terus menurun sebagai tindak lanjut atas upaya pemenuhan batas minimum investasi pada instrumen Surat Berharga Negara. Berdasarkan ikhtisar data keuangan industri asuransi umum yang dipublikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2016 menunjukkan penempatan investasi pada instrumen deposito mencapai Rp23,93 triliun. Angka tersebut turun sebesar 13,64% jika dibandingkan porsi investasi pada Januari 2016 yang tercatat sebesar Rp27,71 triliun.

Sementara, penempatan investasi pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) terus mengalami peningkatan. Per Mei 2016, penempatan investasi pada instrumen SBN mencapai Rp4,36 triliun. Angka tersebut meningkat sebesar 66,4% jika dibandingkan porsi investasi pada Januari 2016 yang sebesar Rp2,62 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Yasril Y. Rasyid menyatakan penurunan investasi pada instrumen deposito memang dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK No.1/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank. Dalam ketentuan itu disebutkan bahwa perusahaan asuransi umum diwajibkan untuk memenuhi batas minimum investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 10% sampai akhir 2016. “Meski penempatan investasi pada instrumen deposito terus menurun, tetapi diperkirakan jumlahnya tidak akan turun terlalu jauh lantaran asuransi umum harus menjaga dan mempertahankan likuiditas untuk mengantisipasi klaim,” kata Yasril.

Disisi lain, dalam rangka memenuhi kewajiban investasi SBN, dia mengungkapkan AAUI telah menyampaikan usulan kepada anggota untuk untuk berhimpun atau mendapatkan instrumen investasi SBN secara kolektif. Dia mengungkapkan, penempatan investasi SBN secara kolektif dilakukan agar perusahaan asuransi umum bisa memperoleh instrumen investasi itu di pasar perdana (primary market) dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, imbal hasil yang diperoleh juga diyakini lebih tinggi ketimbang instrumen SBN yang ditawarkan di pasar sekunder (secondary market).

Menurutnya, asosiasi telah menyosialisasikan usulan untuk memperoleh investasi SBN secara kolektif kepada para anggota. Dia menyatakan, dari hasil sosialisasi yang dilakukan, para anggota memberikan respons yang sangat positif. “Mereka sangat antusias dengan usulan ini. Saat ini kami tengah mengadakan pendataan kepada anggota yang ingin berhimpun untuk mendapatkan instrumen investasi SBN,” ujarnya.

askrida | Sumber : finansial.bisnis.com/read/20160718/215/566612/asuransi-umum-investasi-di-instrumen-deposito-terus-menurun