Asuransi Umum, Kewajiban Pemilikan SBN 20% Jadi Tantangan Berat

19 Dec 2016, 09:17

Upaya pemenuhan aturan kepemilikan wajib surat berharga negara (SBN) minimal 20% pada 2017 dinilai menjadi tantangan berat bagi industri asuransi umum.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor meyakini hingga akhir tahun ini seluruh perusahaan asuransi umum dapat memenuhi kewajiban yang termuat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 1/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank tersebut.

Regulasi itu menyatakan bahwa setiap perusahaan asuransi umum wajib mengalokasikan investasi paling kurang 10% di SBN pada akhir tahun ini dan meningkat hingga minimal 20% pada akhir 2017. Menurutnya, sampai saat ini pun belum ada keluhan dari pelaku industri asuransi kerugian terkait pemenuhan aturan itu. “Untuk pemenuhan 10% itu perusahaan yang tergabung AAUI tidak mengalami masalah,” ujarnya kepada Bisnis.

Apalagi, Julian mengatakan saat ini OJK juga telah memberikan relaksasi terhadap ketentuan tersebut. Pada pertengahan Oktober lalu, otoritas menerbitkan POJK No. 36/2016 tentang perubahan atas POJK No. 1/2016. Peraturan anyar tersebut menambahkan satu pasal sisipan, yakni Pasal 4A yang pada dasarnya memberikan opsi instrumen lain, yakni obligasi atau sukuk bagi pembiayaan infrastruktur yang diterbitkan BUMN dan BUMD, untuk memenuhi ketentuan tersebut.

Kepemilikan instrumen dari BUMN dan BUMD itu dibatasi maksimal 40% dari kewajiban minimal pada akhir tahun ini. Setelahnya, porsinya meningkat paling tinggi 50% dari total kewajiban pada tahun berikutnya. Kendati begitu, Julian menilai peningkatan kewajiban pemilikan SBN paling kurang 20% dari total investasi terbilang berat bagi perusahaan asuransi dengan kharakteristik liabilities atau kewajiban jangka pendek.

Karena itu, jelasnya, AAUI akan terus mendorong upaya private placement pembelian SBN untuk membantu pelaku industri. “Tahun depan harus ada upaya untuk membantu itu juga, salah satunya kami akan lakukan lagi upaya untuk private placement,” ujarnya. Data Otoritas Jasa Keuangan per Oktober 2016 tentang statistik perasuransian menunjukkan alokasi dana kelolaan asuransi umum di SBN baru mencapai 9,31% atau senilai Rp5,60 triliun.

Pada periode tersebut, total investasi industri asuransi umum mencapai Rp60,10 triliun. Sedangkan, alokasi investasi industri ke obligasi korporasi tercatat senilai Rp8,05 triliun atau mencapai 13,40% dari total investasi. Mayoritas dana investasi sektor asuransi kerugian ini masih dialokasikan di deposito berjangka dan sertifikat deposito, yakni mencapai Rp24,56 triliun atau 40,87%.

askrida | Sumber : finansial.bisnis.com/read/20161216/215/612444/asuransi-umum-kewajiban-pemilikan-sbn-20-jadi-tantangan-berat