Asuransi Usaha Tani Gagal Capai Target

31 Dec 2015, 10:35

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Target asusransi usaha tanaman padi atau yang lebih dikenal Asuransi Pertanian di Kabupaten Boyolali pada 2015 ini belum bisa mencapai target seperti yang diharapkan.   

''Dari target asuransi pertanian 10.000 hektare lahan pertanian, baru terealisasi 2.200 hektare, atau baru 22 persen,'' kata Bambang Purwadi, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Distanhutbun) Kabupaten Boyolali, Rabu (30/12).

Kepala Bidang (Kabid) Sarana prasarana dan Perlindungan Pasca Panen, Ibnu Sutopo, menambahkan, tidak tercapainya targer asuransi usaha tanaman padi di Kabupaten Boyolali ini, diakibatkan kurang kesadaran petani akan arti pentingnya asuransi pertanian.

Padahal, jika dipahami betul asuransi ini sangat membantu petani dalam pengamanan dan perlindungan usaha taninya.

''Meski pada 2015 asuransi pertanian belum sesuai target, tetapi saya optimis ke depan petani di sini tertarik dengan program asusransi pertanian. Ini karena bisa melindungi usaha pertanian mereka,'' kata Ibnu Sutopo.

Menurut Ibnu Sutopo, keuntungan petani mengikuti asuransi usaha tani, jika tanaman padi gagal panen mencapai 75 persen, karena ganggunan serangan hama, kekeringan dan bencana alam. Maka petani yang bersangkutan mendapat klaim asuaransi. 

Dicontohkan dia, satu hektare lahan pertanian gagal panen mencapai 75 persen, maka petani pemilik lahan akan mendapat klaim asuransi sebesar Rp 6 juta selama jangka waktu asuransi satu musim panen.  

Selain itu, belum tercapai target petani untuk mengikuti asuransi pertanian, juga diakibatkan mepetnya waktu program asuransi pertanian, karena asuransi ini baru dimulai pada November 2015 lalu. Sehingga petani banyak yang tidak mengikuti asuransi perlindungan usaha tani.  

Namun demikian, pada 2016 nanti, pihaknya akan terus menggalakkan asurasi perlindungan usaha tani. Sehingga petani bisa terlindungi ketika gagal panen.

Menurut Ibnu Sutopo, mengikuti asuransi perlindungan usaha tani atau asuransi pertanian, petani akan diuntungkan. Karena premi yang dibayarkan petani mendapat subsidi dari Pemerintah melalui Kementrian Pertanian sebesar 80 persen. Dan, sisanya yang 20 persen dibayar petani. 

Lahan pertanian seluas satu hektare, jika premi tidak disubsidi uang yang harus dibayarkan ke asuransi sebesar Rp 180 ribu. Namun, karena disubsisi oleh Kementan sebesar 80 persen, maka petani hanya berkewajiban membayar Rp 36.000 ke asuransi pemerintah yang ditunjuk. 

"Jadi, petani akan untung jika ikut program ini karena ketika gagal panen akan dapat klaim asuransi, sekaligus bisa untuk modal dan biaya pada musim tanam padi berikutnya," katanya.  

Di Provinsi Jawa Tengah baru tujuh kabupaten yang mengikuti program asuraransi perlindungan usaha tani. Di antaranya, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Demak, Sragen dan kabupaten Grobogan. Pelaksanaan Asuransi pertanian ini menindaklanjuti Peraturan Kementan Nomor 40 tahun 2015, tentang Asuransi Pertanian.

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/12/30/o0642y254-asuransi-usaha-tani-gagal-capai-target