BARU

30 Dec 2016, 15:04

Seseorang yang sudah empat tahun tinggal di suatu wilayah, baru saja ditanya koleganya tentang sebuah alamat. Ia sempat menjawab tidak tahu, sebelum dibuktikan dengan Google Map bahwa tempat itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kompleksnya. “Maaf, Saya kan masih baru di tempat ini,” jawabnya singkat, seolah ingin menyaingi artis papan atas, yang sering gonti-ganti style dan warna rambut, agar selalu terlihat ‘Baru’.

Baru memang tidak selalu berbanding lurus dengan ‘perbaikan’. Dan cerita di atas hanya sekadar intermeso untuk mendeskripsikannya. Namun setidaknya usaha ke arah perbaikan itu, memang harus selalu dibarukan. Maka, bukan karena latah ‘baru-baruan’, jika baru-baru ini (menjelang tahun baru 2017), Askrida menunjuk sebuah Tim baru, untuk menggarap ‘Budaya Perusahaan’ baru. Satu paket Semangat Baru. SPIRIT! Demikian ‘ruh’ baru itu diakronimkan. Sinergi, Profesional, Integritas, Respek, Inovatif dan Tangguh.

Ada apa dengan budaya lama “5T”? Kan belum tentu… bla.. bla.. bla.

Oops, stop!.. Tidak cukup ruang untuk banyak cerita manis yang perlu dikenang. Kita tinggalkan saja dulu.  Sepakat saja bergerak ke depan, menguatkan semangat perbaikan. Kita ciptakan kenangan-kenangan manis baru yang lebih banyak lagi.

Sebagai langkah pertama, mari kita intip penjabaran kata-kata pembangun SPIRIT berikut :

Sinergi berarti bahwa insan Askrida bersama-sama, terkoordinasi dan saling melengkapi dengan semangat untuk memberikan pelayanan yang optimal.

Profesional berarti bahwa insan Askrida akan selalu mengedepankan dasar-dasar kompetensi yang kuat, objektif serta bertanggung jawab dalam berfikir dan bertindak.

Integritas berarti bahwa insan Askrida selalu konsisten, baik dalam pemahaman, perkataan dan perbuatan.

Respek berarti bahwa insan Askrida menghargai dan menghormati orang lain dengan dilandasi sikap peduli, empati dan tulus.

Inovatif berarti bahwa insan Askrida mampu menciptakan dan mengembangkan ide-ide positif, serta menemukan alternatif solusi terbaik bagi kemajuan perusahaan.

Tangguh berarti bahwa insan Askrida selalu optimis, berfikir positif dan pantang menyerah, dalam menghadapi setiap tantangan.

Bagus-bagus kan? Dan terdengar tidak asing di telinga insan Askrida. Memang! Karena nilai-nilai itu tidak diambil jauh-jauh, melainkan dari internal kita sendiri. Sudah kita jalani dalam keseharian, meskipun dengan pengistilahan berbeda-beda. Tim hanya membantu mendefinisikan, menguatkan, serta ‘mengipas-ngipasinya’ kembali, agar insan Askrida lebih sering berada pada kondisi ‘siap tempur’ itu.

Sepenting apakah budaya itu? Mari tanya Tony Hsieh (baca: Toni Shay), seorang internet enterpreneur pendobrak budaya di Zappos, sebuah perusahaan sepatu online.  Ia telah sukses berinvestasi sangat mahal untuk membangun system Informasi Teknologi canggih, bernama ‘Genghis’. Namun menurutnya, bukan system IT itu yang ‘paling mahal’ ia bangun di Zappos, melainkan budaya perusahaannya. Hasilnya, budaya ‘Delivering Happiness’ Zappos memang berhasil meningkatkan kepuasan konsumen. Zappos berhasil tumbuh mengesankan, termasuk daya tahannya dalam melewati masa-masa sulit.  Budaya Zappos terbukti merupakan asset uniknya yang sangat berharga. Tidak mudah ditiru, bahkan oleh raksasa jual beli online sekelas Amazon.com yang kemudian membelinya.

Masalah budaya juga sempat menjadi kendala Sony Corporation. “Masa lalu Sony yang menyendiri dan melesat bagaikan meteor menjadikannya arogan,” tulis Business Week. Namun, pada tahun buku Maret 1995, Sony mencatatkan kerugian pertamanya: USD 2,8 miliar.  Seorang Nobuyuki Idei lantas dipilih untuk membongkar kesombongan Sony. Langkah pertamanya adalah dengan mencopot Michael Schulhof – pucuk pimpinan sebelumnya, orang kesayangan Akio Morita (pendiri Sony), yang sama sekali tidak memiliki keahlian di industri hiburan. Kemudian, ia mengurangi jumlah komisaris Sony dari 38  menjadi hanya 10 orang. Ia menaruh antusiasme Sony pada perangkat-perangkat terintegrasi. Dan yang paling penting, ia menggeser budaya perusahaan. Untuk ini, harian Independent menyebutkan bahwa hari-hari ketika nasib Sony ditentukan oleh manajemen senior tanpa kritik, telah berlalu. “Penunjukan Idei, langsung mengenyahkan arogansi puluhan tahun Sony, sebab orang baru ini menanamkan kerendahan hati di perusahaan, membawa Sony menuju alam bisnis modern, tempat keputusan dibuat secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.” Di bawah kepemimpinannya Sony melesat lagi.

Masih mempersoalkan budaya. Kita pindah kepada Astra. William Soeryadjaya sengaja menancapkan pertama kali “Catur Dharma”, dari tahun 1957. Prinsip-prinsip itu begitu mulia; 1. Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara, 2. Memberikan Pelayanan Terbaik kepada Pelanggan, 3. Menghargai Individu dan Membina Kerjasama, dan 4. Senantiasa Berusaha Mencapai yang Terbaik. Setelah 60 tahun, perusahaan mana yang tidak segan melihat buah dari internalisasi budaya Astra, pencapaian-pencapaiannya, serta kekuatan tim yang mewujudkan itu. Banyak yang mencoba meniru, atau bahkan membajaknya melalui ‘alumni’ Astra. Namun  tentu saja budaya tidak sekadar kata-kata. Perlu kesungguhan dan waktu untuk mampu mendarah daging. Mendiang Oom William pun semakin dekat kepada tujuannya menjadikan Astra sebagai “pohon lebat yang berbuah manis bagi banyak orang”.

Budaya suatu perusahaan akan memberikan bimbingan ke arah mana sumberdaya perusahaan musti disatukan. Mengetahui langkah-langkah apa yang dapat menunjang pencapaian tujuan itu, dan langkah-langkah apa yang harus dihindari. Serta bagaimana mereka bersikap, menjaga diri dan tim untuk selalu berusaha mewujudkan tujuan perusahaan.

Budaya baik akan membuat perusahaan mampu mencapai tujuannya dengan lebih cepat/lebih baik. Sebaliknya, budaya buruk akan menjadi magnet bagi hal-hal buruk, yang makin menjauhkan perusahaan dari sasaran yang diharapkannya.

Masih adakah yang menganggap “Budaya Perusahaan” tidak penting? (Iji)