Beri untung, digitalisasi asuransi wajib dipacu

21 Jun 2016, 11:00

Layanan online kini semakin digandrungi. Selain mudah dan cepat, layanan digital berbasis internet biasanya menguntungkan dari sisi finansial karena lebih hemat bagi banyak pihak.

Di industri keuangan, khususnya di perasuransian, semakin banyak perusahaan menyediakan layanan online. Beberapa perusahaan asuransi di indonesia sudah menggunakan e-commerce untuk jualan produknya.

Sedang di asuransi jiwa, layanan digital berbasis internet ini masih jarang. Perusahaan asuransi jiwa masih mengandalkan jalur pemasaran keagenan untuk mengumpulkan premi. Wajar saja, sejauh ini jalur keagenan memang selalu berkontribusi terbesar dalam premi asuransi jiwa. Asosiasi asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat  perolehan premi asuransi jiwa sepanjang tahun 2015 mencapai Rp 132,74 triliun.

Dari jumlah itu, kontribusi agen asuransi terhadap perolehan premi asuransi jiwa mencapai 50%. Sedangkan, jalur bancassurance menyumbang 40% total premi dan sisanya 10% dari jalur alternatif, seperti telemarketing dan e-commerce.

Padahal, jalur keagenan memakan biaya terbesar dibandingkan jalur pemasaran asuransi yang lain. Di jalur keagenan, perusahaan asuransi harus merogoh kocek untuk perekrutan, pelatihan, hingga gaji rutin bulanan dan bonus.

Berbeda dengan jalur layanan lainnya seperti e-commerce, perusahaan hanya investasi untuk pembuatan aplikasi dan pengelolaan.  “Dibandingkan dengan keagenan, kanal e-commerce bisa menghemat banyak biaya, penghematannya bisa mencapai 50%,” ujar Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

askrida | Sumber : kontan.co.id