Bersiap atau Kehilangan

20 May 2016, 09:08

Beberapa waktu lalu berita tentang kebakaran hebat sebuah rumah -milik seorang pengusaha- di kawasan elit komplek Widya Chandra menghiasi sejumlah media massa. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, tapi si empunya rumah diduga mengalami kerugian lebih dari Rp3,5 miliar.

Tentunya masih ada segudang lagi kasus-kasus serupa yang berujung pada kerugian besar atas suatu barang atau rusaknya nilai properti. Semua kejadian itu membuka mata kita tentang perlunya membuat antisipasi yang tepat, akurat, dan aman berupa asuransi.

Satu hal juga penting untuk diketahui adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran berasuransi di masyarakat. “Jika terjadi kebakaran di rumah ataupun properti yang mereka miliki, mestinya orang-orang tidak perlu khawatir lagi,” ujar Julian Noor, Executive Director Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) kepada Property-In di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Mengapa tak perlu khawatir? Sebab saat ini sudah ada asuransi properti yang akan memberikan ganti rugi atas semua kerugian yang diderita jika memang terjadi hal-hal seperti itu.

Menurut Julian, masyarakat Indonesia memang belum terbiasa dengan budaya sedia payung sebelum hujan. Biasanya orang baru mau bertindak setelah terjadi sesuatu. Respons seperti ini jelas suatu keterlambatan. Mestinya, masyarakat sudah harus memiliki persiapan sebelum sesuatu yang merugikan itu terjadi. Sebenarnya asuransi properti sudah ada sejak lama, tapi kesadaran masyarakat Indonesia terhadap asuransi memang sangat rendah. “Nanti jika sudah terjadi kebakaran atau gempa bumi di rumahnya, baru deh mereka cari asuransi untuk propertinya,” imbuh Julian.

Merujuk pada data AAUI, kesadaran berasuransi properti sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda menggembirakan selama 2014. Nilai preminya tahun lalu mencapai 16,1 triliun rupiah atau meningkat 27%. Namun jika dibandingkan dengan negara tetangga -seperti Singapura, Malaysia, atau Brunei- tingkat kesadaran di Indonesia masih jauh tertinggal.

Premi Lebih Murah

Pertumbuhan asuransi properti yang kian menggembirakan di Tanah Air sepanjang 2012-2014 memang menjadi tanda meningkatnya kesadaran berasuransi di Indonesia. Sayangnya, kebanyakan dari mereka adalah perusahaan, sedangkan pemilik properti dengan status milik pribadi masih sedikit.

“Berdasarkan jumlah keseluruhan premi pada 2014, hampir 60% dari perusahaan,” kata Julian. Sisanya berasal dari para investor yang memang sudah sadar akan risiko bagi properti yang dimilikinya.
Para investor yang sadar akan asuransi mengerti betul risiko yang mereka hadapi dalam berinvestasi. Pasalnya, investor membeli properti bukan untuk ditinggali, melainkan untuk disewakan atau dijual kembali. “Mereka sadar betul jika propertinya ambruk atau rusak tentu tidak bisa dijual lagi, dan mereka akan rugi,” ujar Julian.

Namun, ia menyayangkan karena masih banyak masyarakat yang enggan mengasuransikan propertinya. Padahal jika tahu apa risiko yang dihadapi dalam memiliki properti, mereka pasti mengasuransikannya.
Untunglah, bank-bank pemberi KPR biasanya sudah mengasuransikan properti yang dibeli secara kredit. Bank tidak ingin mendapatkan risiko tertanggung kabur lantaran propertinya rusak atau terbakar.

Julian menjelaskan, asuransi properti tidak hanya untuk kebakaran, tetapi juga untuk semua risiko lain seperti banjir, gempa bumi, dan pencurian. Masing-masing jenis asuransi itu memiliki premi berbeda. Namun, agar lebih simpelnya, ”Jika ingin mengasuransikan properti, maka yang paling baik adalah asuransi all-risk,“ saran Julian. Asuransi all-risk ini dapat meng-cover semua yang menjadi risiko kerugian mulai dari kebakaran, gempa bumi, banjir hingga pencurian, dan lain-lain.

Selain itu, skema premi pada asuransi properti ternyata lebih ringan ketimbang asuransi umum lainnya. Pada asuransi properti, premi dihitung dari sebesar apa bayangan risiko yang akan didapat dari properti itu atau per mil. Maksudnya, bila properti tersebut berada dekat dengan daerah rawan bencana dan berpotensi besar terkena dampak bencana, maka persentase milnya akan bertambah pula. Namun ukuran mil itu dibatasi maksimal 3 mil saja.

Sebagai gambaran, asuransi umum lain menghitung premi setidaknya 3% dari harga barang yang diasuransikan. Jika harga mobil 100 juta, maka premi asuransi per tahunnya 3 juta. Tapi asuransi properti akan jauh lebih murah. Jika harga propertinya 100 juta dengan risiko 2 mil, maka perhitungannya adalah 2/1.000 x 100 juta. Artinya, tertanggung hanya cukup membayar premi sebesar 200.000 per tahun. Selain preminya murah, jumlah peng-cover-an asuransi properti jauh lebih besar ketimbang asuransi umum lain. Pasalnya, asuransi properti menanggung segala kerugian yang didapat tertanggung atas propertinya termasuk harta benda di dalamnya.

Sulit dipungkiri, asuransi properti memang sangat penting untuk para investor properti. Sebab, tentunya kita jauh lebih baik mencegah daripada mengobati. - Fajar Yusuf Rasdianto -

Askrida | Sumber : http://www.property-in.co/bersiap-atau-kehilangan/