Bijak saat Berutang

23 Jan 2018, 08:02

Seseorang biasanya memiliki keinginan untuk terus memperbesar kekayaan yang dimiliki. Hal itu sejalan dengan tingkat kebutuhan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Adapun langkah berutang sebisa mungkin jangan dilakukan jika kebutuhan yang ingin dipenuhi sifatnya konsumtif dan di sisi lain perlu dilihat kemampuan mengembalikan utang tersebut.

Meski demikian, utang yang dilakukan tidak selamanya jelek atau buruk lantaran tergantung dari jenis utang. Apabila utang itu bersifat produktif dalam artian memberikan keuntungan dari aspek finansial di masa mendatang maka tidak ada salahnya. Namun, menjadi kurang positif ketika utang yang diambil justru hanya untuk kebutuhan konsumtif.

"Misalnya KPR, itu sebenarnya bermanfaat secara finansial bagi orangnya karena dia menciptakan nilai investasi untuk masa mendatang, dan selama tidak menggangu cash flow," tegas Jeffrey Kie, seperti dikutip dari salah satu program televisi, di Jakarta, Kamis, 4 Januari 2018.

Sedangkan terkait seberapa besar persentase utang yang harus dimiliki terhadap total pendapatan, Jeffrey menilai, tergantung dari arus cash flow dan upaya mengatur keuangan. Dalam artian, utang yang diambil harus mempertimbangkan kemampuan untuk mengembalikan utang tersebut ditambah dengan beban bunga.

"Yang penting bagaimana orang itu memprioritaskan rencana keuangannya, dipos-poskan untuk asuransi, investasi, dan bagaimana keinginan diatur guna memenuhi kita semua punya kebutuhan," katanya.

Setidaknya ada dua jenis utang yakni utang produktif dan utang konsumtif. Utang produktif adalah utang yang bersifat investasi dalam artian nilainya tidak merosot di masa mendatang. Misal membeli rumah. Harga properti biasanya cenderung terus naik dan jarang turun. Selisih kenaikan harga dengan harga awal dan harga jual bisa menjadi keuntungan.

Sedangkan utang konsumtif yakni utang yang dilakukan guna memenuhi keinginan semata. Misal membeli handphone jenis terbaru sedangkan handphone yang lama masih layak dipergunakan. Sementara harga jual handphone lama tidak mungkin naik dan tidak bisa memberi keuntungan signifikan ketika dijual.

"Jadi kita melihat bagaimana kebutuhan jangka panjang. Ketika tahu jangka panjang maka kita bisa mengatur perilaku tentang keuangan kita. Jangka panjang tentu juga sulit dilaksanakan jika tidak disiplin. Jadi harus disiplin dan dibina terkait bagaimana mengelola keuangan," tuturnya.

Apabila sudah terlanjur berutang, sebaiknya orang tersebut menelaah terlebih dahulu arus keuangan. Selama arus keuangan masih terjaga dengan baik maka tidak ada masalah. Bila arus keuangan justru terganggu maka tidak ada salahnya menjual aset yang dimiliki guna mengurangi tekanan arus keuangan dan bisa menyelesaikan kewajiban membayar utang.

Jika seseorang terpaksa berutang, tidak ada salahnya berutang kepada institusi keuangan atau lembaga yang terpercaya dan memiliki rekam jejak yang baik. Selain itu, harus mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki untuk mengembalikan utang tersebut. Hal itu penting agar tidak memberikan tekanan terhadap aktivitas di masa mendatang.

"Kita harus punya pos untuk membayar. Orang sekarang kan utang dulu baru bayarnya nanti mikirnya. Ketika kita berutang maka harus punya pos untuk membayarnya dan jangan lupa ketika ambil kredit apalagi KPR Anda harus punya asuransi jiwa kredit untuk menekan risiko yang muncul," pungkasnya.

Sumber : ekonomi.metrotvnews.com/mikro/GNlJ9jgk-bijak-saat-berutang