Bisnis asuransi energi dibayangi masalah global

22 May 2018, 14:39

Lini bisnis asuransi energi pada tahun lalu lesu. Tahun ini, lini bisnis asuransi energi berpotensi masih akan seret karena terimbas dari harga minyak.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, sepanjang 2017 premi yang didapat perusahaan asuransi umum di lini bisnis ini mencapai Rp 1,63 triliun. Jumlah ini lebih rendah 10,4% dari realisasi di tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe, perkembangan lini bisnis ini dipengaruhi sejumlah faktor. Diantaranya pergerakan harga sejumlah komoditas energi global, seperti minyak. Dalam beberapa tahun belakang, harga minyak global berada di posisi rendah.

Hal ini berdampak pada minimnya ekspansi dan eksplorasi pengusaha migas. "Sehingga premi yang didapat dari bisnis ini pun tidak banyak," kata dia.

Dody menilai, tren naik turunnya bisnis asuransi energi hal yang lumrah. Terlebih, pergerakan harga minyak merupakan faktor eksternal yang tak bisa dihindari.

Ia menambahkan, pergerakan harga komoditas energi masih akan menjadi faktor terpenting dalam mempengaruhi bisnis di lini asuransi energi. Dia memperkirakan, akan sulit memperbaiki kinerja bisnis ini. Pasalnya, tren ekonomi global penuh tanda tanya sehingga berefek pada permintaan dan harga minyak dunia.

Dody memproyeksikan, premi asuransi energi di 2018 tak bakal melambung tinggi. "Kemungkinan stagnan dibanding realisasi 2017," kata dia.

Meski demikian,salah satu perusahaan asuransi yang ada di indonesia mengatakan, masih akan mengandalkan bisnis asuransi energi. Direktur Utama perusahaan tersebut, Indra Baruna menyebut selama ini lini bisnis asuransi energi berkontribusi 60% dari total premi.

Maka tak heran, banyak pertanggungan di sektor energi yang menjadi lahan bisnis bagi perusahaan ini. "Lini bisnis ini masih akan jadi salah satu penyumbang terbesar bagi premi," kata dia.

Indra optimistis, bisnis asuransi energi meningkat, sehingga peluang kenaikan premi terbuka. Meskipun ia mengakui, tren harga minyak global akan tetap punya pengaruh bagi perolehan premi di bisnis ini.

Di tahun ini, kami mengejar pertumbuhan premi netto sebesar 15% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 654,4 miliar. Dus di tahun 2018, perusahaan ini berharap bisa mengantongi premi netto senilai Rp 752,5 miliar.

Sumber : keuangan.kontan.co.id/news/bisnis-asuransi-energi-dibayangi-masalah-global