Bisnis Asuransi Pengangkutan Masih Naik

15 Oct 2018, 08:04

Bisnis asuransi pengangkutan masih punya celah untuk membesar. Pelaku usaha asuransi kerugian meyakini premi bisnis asuransi akan terus meningkat sepanjang tahun ini.

Memang, pelaku bisnis asuransi kerugian menyadari ekspansi pasar tak mudah diwujudkan. Pasalnya, aturan yang dinilai bakal jadi bahan bakar tambahan bagi bisnis ini mesti ditunda.

Aturan yang dimaksud adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 48 tahun 2018. Permendag itu mensyaratkan penggunaan jasa asuransi domestik untuk kegiatan ekspor dan impor sejumlah barang.

Pemberlakuan beleid ini ditunda dari rencana semula, yaitu Agustus tahun ini. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe masih yakin premi yang didapat dari lini bisnis tersebut masih bisa tumbuh menggembirakan walau tanpa aturan tersebut.

Setidaknya keyakinan ini tercermin dari pencapaian sampai paruh pertama tahun 2018. AAUI mencatat, sampai akhir semester I lalu, premi yang dihimpun pelaku usaha dari bisnis asuransi pengangkutan menembus Rp 1,86 triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan setinggi 11,7% bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Menurut dia, pertumbuhan premi yang didapat ini tak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang masih bisa dicatatkan selama enam bulan pertama 2018. Roda ekonomi yang berputar lebih cepat turut mengerek frekuensi pengiriman barang di tahun ini.

Dari data yang dihimpun asosiasi, kenaikan volume pengiriman barang yang tertinggi terjadi di moda kereta api. Sampai semester pertama, volume barang yang diantarkan naik 16,6% menjadi 23,3 juta ton.

Kenaikan juga terjadi untuk pengangkutan barang via laut yakni mencapai 16,9 juta ton alias tumbuh 4,8% secara year on year (yoy). Namun untuk pengiriman barang dengan pesawat justru turun sebesar 1,8% menjadi 265.000 ton.

Melihat pencapaian itu, ia optimistis asuransi pengangkutan bakal melaju sampai tutup tahun nanti. "Kami yakin premi dari lini bisnis ini masih bisa tumbuh sebesar dua digit sepanjang 2018," kata dia.

Rupiah Stabil, Imbal Hasil Obligasi Turun

Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di tengah pekan ini bakal jadi penggerak pasar obligasi dalam negeri di jangka pendek. Namun untuk jangka menengah dan panjang, pergerakan rupiah masih jadi sentimen utama.

Analis obligasi salah satu bank yang ada di Indonesia Ariawan optimistis, pergerakan yield surat utang negara (SUN) acuan FR064 pada pekan ini masih dalam tren penurunan, walau The Federal Reserve menaikkan suku bunga. Ini terjadi karena rupiah mulai stabil dengan kecenderungan menguat.

Apalagi, pelaku pasar sebenarnya sudah mengantisipasi rencana The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan. "Kenaikan suku bunga The Fed di September sudah priced in," kata Ariawan, akhir pekan lalu.

Ini tercermin pada yield US Treasury yang telah menanjak dalam beberapa hari belakangan. Per Jumat (21/9), yield obligasi AS berada di level 3,06%. Ariawan menilai, meski The Fed mengerek suku bunga, yield obligasi AS tidak akan naik signifikan.

Alhasil, yield SUN pun akan tetap stabil. Apalagi, kini yield obligasi acuan cenderung turun. Ini sejalan dengan harga SUN yang kembali naik.

Akhir pekan lalu, yield FR064 ada di level 8,10%. Padahal Rabu (12/9), yield SUN masih di 8,57%. Ariawan menghitung, ada potensi yield SUN turun 10-15 basis poin pekan ini.

Potensi deposito

Anil Kumar menambahkan, pasar obligasi dalam negeri juga harus mewaspadai deposito perbankan. Jika BI menaikkan suku bunga, otomatis bunga deposito ikut naik.

Menurut dia, kini imbal hasil obligasi tenor pendek sudah bersaing dengan suku bunga deposito yang cenderung naik karena pengetatan likuiditas. "Jika bunga deposito kembali naik, investor lokal akan lebih tertarik ketimbang masuk ke obligasi," jelas dia.

Jadi, tak heran jika porsi investor lokal di SUN masih mini, yakni 2,82%. Angka ini jauh dari kepemilikan asing yang mencapai 36,71%. Kini, investor asing pun mulai kembali masuk ke pasar SUN karena spread yang ditawarkan masih menarik.

Anil pun melihat, potensi BI ikut menaikkan suku bunga pekan ini bakal membuat rupiah lebih stabil. Sehingga yield dapat kembali turun.

"Jika suku bunga tetap malah akan berdampak buruk bagi pasar keuangan dalam negeri. Karena rupiah bisa melemah dan BI berpotensi menaikkan suku bunga dengan tingkat yang lebih tinggi," tegas dia.

Dengan skenario The Fed dan BI sama-sama menaikkan suku bunga di pekan depan, yeild SUN acuan masih berpotensi kembali ke level 7,8% di akhir tahun. Ariawan pun memprediksi, di akhir 2018 yield SUN berada di rentang 7,95%-8,25%. (Tendi Mahadi)

Sumber : manado.tribunnews.com/2018/09/25/bisnis-asuransi-pengangkutan-masih-naik