Cairkan Saja Asuransi Anda

21 Feb 2018, 13:49

Saya sebenarnya tidak bermaksud menguping pada saat saya mendengar kata-kata itu muncul dari mulut teman saya saat dia sedang berbincang dengan seseorang, sebut saja A.

Teman saya sepertinya sedang mencoba meyakinkan A untuk mengeluarkan dananya guna pembelian suatu produk. Namun A beralasan sedang tidak memiliki uang, sehingga A menolak untuk membeli.

Nah, yang menarik dan menjadi judul artikel kali ini adalah ucapan teman saya. "Kan A punya asuransi, cairkan saja asuransinya, nanti jadi bisa beli deh," begitu kurang lebih yang saya dengar, selebihnya tidak terlalu jelas. Jadi A diminta teman saya mencairkan asuransinya guna mendapatkan uang untuk membeli suatu produk.

Saya tidak mengkonfirmasi lebih lanjut ke teman saya atas percakapan tersebut, namun terlepas dari itu, saya mencoba mengkritisi kalimat yang diucapkan teman saya. Asuransi dalam pemahaman saya adalah untuk tujuan proteksi atas risiko yang mungkin terjadi.

Jika ada kata-kata "asuransi sudah cair," pasti artinya klaim asuransi yang sudah cair. Nah, klaim asuransi baru akan cair atau dapat dilakukan klaim apabila risiko telah terjadi, entah itu risiko kematian, kerusakan atau kerugian, tergantung kontraknya.

Kata-kata "cairkan saja asuransinya" merujuk pada telah terjadinya suatu risiko. Artinya jika kita mencairkan asuransi maka risiko sudah terjadi. Tetapi apakah risiko tersebut dapat dengan sengaja kita lakukan agar klaim bisa cair? Tentu tidak seperti itu.

Tidak akan ada perusahaan asuransi yang mau membayar klaim apabila risiko dilakukan dengan sengaja. Bisa-bisa bangkrut nanti semua perusahaan asuransi bila hal tersebut boleh dilakukan. Klaim tidak akan dibayarkan perusahaan asuransi jika risiko terjadi karena kesengajaan kita.

Misalnya saya sengaja membakar rumah saya, agar nanti bisa diganti oleh asuransi. Tujuannya agar saya bisa merombak rumah lama saya dan nanti saya akan membangun rumah yang baru dengan biaya dari ganti rugi asuransi. Wah.. asyik sekali kalau bisa begitu.

Atau kalau Anda pernah menonton film di mana ceritanya sesesorang mengarang skenario kematian palsu, agar uang pertanggungan asuransi jiwanya bisa cair. Sementara orang yang sudah "mati" tersebut bersembunyi, ahli warisnya akan mengurus klaim asuransi.

Setelah uang pertanggungan cair, si ahli waris menyusul orang yang sudah "mati" tersebut ke luar negeri dan kemudian hidup bergelimang kekayaan hasil dari klaim uang asuransi jiwanya. Ini tentu saja termasuk dalam modus penipuan.

Kembali ke pembahasan awal, artinya ada sesuatu yang sepertinya kurang tepat apabila kita menganggap bahwa asuransi bisa dicairkan kapan saja sesuai keinginan kita. Hal tersebut bahkan tidak sesuai dengan salah satu prinsip dalam berasuransi, yaitu "utmost good faith."

Bahwa berasuransi disadarkan atas niat atau itikad baik, segala fakta harus disampaikan dengan jujur sehubungan dengan pembukaan dan penutupan asuransi. Artinya asuransi digunakan untuk memproteksi atau meminimalkan risiko finansial apabila terjadi risiko, bukan untuk mencari keuntungan atas terjadinya risiko. Apakah itu risiko kerugian, kerusakan ataupun kondisi meninggalnya seseorang.

Jadi dengan mengikuti asuransi, kita akan mendapatkan "ganti rugi" atas terjadinya risiko. Jika rumah Anda terbakar, maka Anda bisa mendapatkan ganti rugi senilai kesepakatan yang tertera dalam kontrak asuransi.

Apabila terjadi kondisi meninggal pada diri Anda, maka ahli waris akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar kesepakatan dalam kontrak asuransi. Apabila mobil rusak karena tabrakan, maka Anda bisa memperbaikinya ke bengkel yang telah bekerja sama dengan pihak asuransi untuk diperbaiki hingga mulus kembali dengan hanya membayar own risk yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan total kerusakan mobil.

Ingat jangan sembarangan membeli asuransi, membatalkan ataupun mencairkan polis asuransi yang sudah anda beli meskipun anda merasa telah salah beli. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengetahui apakah asuransi anda sudah benar atau salah dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Jadi asuransi baru akan bisa dicairkan apabila telah terjadi risiko, dengan beragam persyaratannya, dan tentu bukan karena disengaja. Dan sepertinya tidak ada orang yang membeli polis asuransi kemudian berharap untuk dapat segera mengajukan klaim kepada perusahaan. (ang/ang)

Sumber : finance.detik.com