Calon Debitur Harus Teliti Saat Ajukan KPR

02 Nov 2016, 15:07

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga kini masih menjadi fasilitas utama yang dimanfaatkan masyarakat dalam hal pembelian rumah. Skema pembiayaan yang disalurkan bank untuk KPR sesuai ketetapan BI saat ini adalah 85% dari harga rumah. Sejatinya KPR disediakan oleh perbankan, walaupun sudah ada beberapa perusahaan pembiayaan yang menyalurkan dana dari lembaga sekunder untuk pembiayaan perumahan (housing financing).

Namun, KPR sendiri diminati konsumen karena menawarkan sejumlah keuntungan, diantaranya biaya awal yang tidak besar. Calon debitur hanya diminta melengkapi dokumen termasuk sudah melunasi uang muka rumah kepada pengembang. Selain itu, keuntungan lain dari KPR adalah jangka waktu cicilan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Batas tenor cicilan paling lama adalah 25 tahun.

Berkaitan dengan lamanya waktu, nasabah tentu tidak akan tahu musibah apa saja yang bakal menimpa mereka. Entah itu meninggal dunia, mengalami cacat tetap, tersandung PHK, rumah kebakaran, maupun kejadian yang bersifat alami seperti bencana alam. Demi mengatasi solusi ketika hal yang tidak diinginkan itu terjadi, maka nasabah dituntut untuk lebih teliti dan memahami bentuk perlindungan yang bank sertakan dalam asuransi.

“Salah satu bank syariah memberikan batas waktu 14 hari bagi nasabahnya agar mengerti betul apa saja yang terangkum dalam lembar akad kredit. Dan semestinya semua bank juga menerapkan pola demikian,” kata CEO Amana Consulting sekaligus Sharia Banking Specialist Ahmad Ifham Sholihin kepada pers, akhir pekan lalu.

Tujuannya, menurut Ahmad, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari apabila ada satu kasus yang melanda nasabah. “Dalam akad kredit tercatat jelas pasal per pasal yang ditentukan bank, termasuk polis asuransi apa saja yang bisa dinikmati nasabah. Nah, sebagai nasabah yang cerdas, baca dan pahami pasal-pasal tersebut serta tanyakan apabila ada yang kurang dimengerti,” jelasnya.

Karena itu, saat sesi wawancara KPR atau sebelum menandatangani akad kredit, tanyakan kepada pihak bank apakah produk KPR yang hendak diambil telah dibekali program asuransi kebakaran. Beberapa bank umumnya tidak membebankan premi asuransi kebakaran kepada debitur selama tenor kredit berlangsung, melainkan dibayar di awal bersamaan dengan biaya KPR dan provisi. Hal ini juga berlaku pada asuransi jiwa.

“Yang pasti nasabah harus tanya, asuransi yang disertakan dalam perjanjian KPR mencakup apa saja. Apakah melindungi nasabah jika ia meninggal, cacat tetap atau PHK. Jika iya, nanti prosedur klaimnya seperti apa. Detail lah sebelum memutuskan sesuatu,” ujarnya.

askrida | Sumber : www.neraca.co.id/article/76604/calon-debitur-harus-teliti-saat-ajukan-kpr