Di Sleman, Asuransi Pertanian Kurang Diminati Petani

31 Dec 2015, 10:25

Harianjogja.com, SLEMAN– Program asuransi lahan pertanian ternyata kurang diminati petani. Dari alokasi 6.000 hektare lahan pertanian di Sleman, hanya 378 hektare atau sekitar 2.000 petani yang mengikuti program tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman Widi Sutikno mengakui, banyak petani yang belum menyerap program tersebut. Selain masalah kesadaran berasuransi yang rendah, kendala lain yang terjadi karena pendeknya waktu untuk sosialisasi kepada petani.

“Kami akan lakukan evaluasi karena banyak petani yang belum menyerap program ini. Evaluasi belum kami lakukan karena belum masuk masa panen,” kata Widi, Selasa (29/12/2015).

Kendala lain yang ditemukan, katanya, ada kesulitan petani untuk memenuhi persyaratan klaim asuransi. Dia menyebut, berdasarkan aturan yang ada, petani akan mendapatkan ganti rugi Rp6 juta per hektare kerusakan lahan pertaniannya mencapai 75%.

Hal itu, sambung Widi, dinilai menjadi salah satu penyebab petani enggan mengikuti program tersebut. “Petani berharap [batas kerusakan] bisa kurang dari itu,” kata Widi.

Keterbatasan waktu sosialisasi juga dinilai menjadi persoalan. Dijelaskan Widi, program asuransi tersebut digulirkan sejak pertengahan Oktober lalu sementara waktu tanam dimulai sejak akhir November.

Tenggat waktu yang minim untuk sosialisasi berdampak pada kurang optimalnya penyampaian informasi asuransi pertanian kepada para petani. Dia berharap, ada evaluasi dari pemerintah pusat terkait implementasi program tersebut.

Evaluasi terutama masalah kerusakan lahan pertanian yang dapat diklaim.  “Kebanyakan petani belum familiar dengan asuransi,” ujarnya.

Sumber: http://m.harianjogja.com/baca/2015/12/30/asuransi-pertanian-di-sleman-asuransi-pertanian-kurang-diminati-petani-675930