Distan Sambut Hilangnya Asuransi Pertanian

19 Feb 2016, 10:45

MAJALENGKA, (PRLM).- Tidak berlanjutnya program Asuransi Tanaman Pangan justru disambut gembira Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka dengan alasan sulit merealisasikan program tersebut akibat persyaratan yang sulit dipenuhi petani.

Risiko gagal panen hingga 75 persen saat musim Tanam Pertama apalagi mengalami puso sesuatu hal yang dianggap mustahil oleh petani ataupun Petugas Lapangan Pertanian.

Menurut keterangan Kepala Bidang Tanaman Pangan Kabupaten Majalengka, Taham, dari luas tanam 40.000 hektare di MT pertama di Kabupaten Majalengka hanya seluas 2.810 hektare saja yang mengikuti program Asuransi Tanaman Pangan. Para petani menolak mengikuti program tersebut walapun pembayaran polis terbesar dibayar oleh pemerintah. Petani hanya membayar Rp 36.000 per ha dan pemerintah mensubsidi hingga Rp 140.000 per ha.

“Program ini repot sulit digarap, karena nilai resiko yang disuransikan terlalu kecil, yakni kekeringan, kebanjiran hingga dampaknya mengalami puso atau gagal panen hingga 75 persen, di MT I itu sesuatu yang sangat mustahil,” ungkap Taham.

Syarat sawah yang bisa diasuransikan hanya sawah yang ada di jaringan irigasi, sementara saat musim tanam pertama curah hujan sangat tinggi, kecil risikonya mengalami kekeringan, kalaupun mengalami gagal panen paling risikonya hanya terkena banjir dan serangan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Sementara sawah-sawah di Majalengka kecil kemungkinan terkena banjir karena sebagian besar sistim pembuangan airnya cukup besar.

Sedangkan Organisme Penganggu Tanaman juga risikonya cukup kecil terlebih saat ini pemerintah Kabupaten Majalengka memiliki bufferstock untuk obat-obatan, sehingga ketika muncul serangan hama wereng, penggerek batang, tikus ataupun penyakit lainnya, kelompok tani langsung datang mengambil obat-obatan dan hama bisa segera terkendali.

Dia menyebutkan serangan hama pada MT I tahun ini sangat kecil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dan serangan bisa langsung terkendali. Serangan hama pengerek batang tahun ini berdasarkan hasil pemantauannya hanya berada di wilayah Maja sementara wilayah lainnya seperti Ligung, Jatitujuh serta Kertajati yang baisanya rawan hama tikus tahun ini serangannya kecil saja.

“Serangan tikus dan penggerek batang ada tapi tidak mencapai hektaran seperti tahun lalu,” kata Taham.

Serangan hama pada musim tanam pertama yang sangat dikhawatirkan petani dan Petugas Lapangan Pertanian sehubungan sebelumnya terjadi musim kemarau yang sangat panjang ternyata kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Karena kondisi tanaman di wilayah Majalengka hampir seluruhnya bagus.

Masalah yang dihadapi petani pada tahun ini hanya mengalami keterlambatan tanam karena curah hujan yang rendah di wilayah Utara Majalengka. Petani kurang kurangs abar menunggu curah hujan sehingga melakukan persemaian lebih cepat, akibatnya bibit tua belum bisa ditanam.

Para petani yang memaksakan tanam dengan jalan diseuk (dilubangi), sebagian lagi ditanam bulir padinya. Tak heran ketika curah hujan tinggi tanaman mengambang tersapu air, akibatnya petani melakukan tanam dua kali. (Tati P-Kabar Cirebon/A-88)***


Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2016/02/18/361494/distan-sambut-hilangnya-asuransi-pertanian