Dorong Pertumbuhan, Genjot Kredit ke Sektor Produktif

16 Nov 2016, 12:35

Pemerintah diharapkan segera menggenjot penyaluran kredit ke sektor riil yang produktif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cenderung melemah akibat merosotnya belanja pemerintah.

Guna mewujudkan pertumbuhan berkualitas yang mampu mempersempit ketimpangan pendapatan, kebijakan kredit mesti berpihak kepada kelompok masyarakat bawah yang menjadi pilar ekonomi.

Bentuk keberpihakan itu antara lain bisa dilakukan dengan mewajibkan perbankan nasional memberikan porsi kredit yang lebih besar kepada sektor pertanian serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) paling tidak 30 persen dari total kredit. “Sebab, tanpa pembiayaan yang memadai, target-target pemerintah seperti swasembada pangan mustahil tercapai,” ujar pengamat ekonomi UGM, Fahmi Rahdi, ketika dihubungi.

Menurut Fahmi, rakyat juga perlu diberikan insentif seperti dengan memberikan asuransi terutama untuk kredit sektor pertanian. Sebab, pada sektor itu risikonya sangat besar. “Kalau gagal panen bagaimana, jadi peluang kredit macet itu besar,” jelas dia.

Fahmi mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi dalam bentuk asuransi kredit pertanian. Sebab, kalau premi ini dibebankan kepada petani dipastikan akan kesulitan. Seperti dikabarkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2016 hanya 5,02 persen, lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,18 persen.

Penyebabnya, pertumbuhan konsumsi pemerintah minus 2,97 persen karena pemerintah memangkas anggaran dua kali pertengahan tahun ini lantaran seretnya penerimaan. Demi mencapai target pertumbuhan 5,1 persen, pemerintah akan menggenjot belanja pemerintah. Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan kini juga tengah melambat.

Hingga September 2016, Bank Indonesia (BI) mencatat perbankan nasional menyalurkan kredit 4.234,9 triliun rupiah atau hanya tumbuh 6,4 persen jika dibanding September tahun lalu. Selain porsi kredit ke sektor UMKM yang relatif kecil atau kurang dari 10 persen total kredit, penyaluran kredit sektor pertanian juga dinilai masih minim.

Pada akhir April 2016, penyaluran kredit ke sektor pertanian tercatat 257,8 triliun rupiah atau sekitar 6,4 persen dari total kredit perbankan nasional yang sebesar 4.003,1 triliun rupiah.

Masih kecilnya porsi kredit ke sektor pertanian menjadi perhatian khusus bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karena hal ini terkait erat dengan upaya mendukung pencapaian salah satu program pemerintah yaitu kedaulatan pangan. Untuk itu, menurut OJK, porsi penyaluran kredit ke sektor pertanian harus ditingkatkan lagi.

Faktor Cuaca

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Suroso Imam Zadjuli, mengatakan perlambatan ekonomi pada kuartal III-2016 disebabkan penurunan produksi pertanian akibat faktor cuaca. “Pertama, ada masa paceklik karena musim hujan yang menyebabkan banjir dan tanah longsor, sehingga kontribusi sektor pertanian turun,” jelas dia. SB/ahm/WP

askrida | Sumber : www.koran-jakarta.com/dorong-pertumbuhan-genjot-kredit-ke-sektor-produktif