ERA DISRUPSI DALAM BISNIS PERASURANSIAN

20 Mar 2018, 09:18

Disruption akhir-akhir ini sedang “hits” dalam istilah manajemen maupun dunia bisnis. Hampir banyak pelaku bisnis, motivator maupun akademisi bicara disruption yang walaupun bisa jadi sebetulnya bukan itu maksud dari istilah itu sendiri tapi okelah kalau dianggap hal tersebut sebagai upaya “kekinian” maka “so be it” atau “monggo aja”.

Harus diakui bahwa yang membawa istilah disruption menjadi beken seperti sekarang terutama di Indonesia adalah Profesor Rhenald Kasali dengan “Rumah Perubahan”nya walaupun sebetulnya disruption bukan sub bidang keilmuan baru dalam ekonomi manajemen. Serial buku yang ditulisnya selalu memasukan istilah itu agar para pelaku bisnis dapat berubah menjadi lebih kompetitif. Mengubah bisnis dari fragile menjadi agile dan mengubah mental passenger menjadi driver dari seluruh team baik leader maupun member. 

Sederhananya Profesor Kasali mendefinisikan disruption sebagai perubahan untuk menghadirkan masa depan ke masa kini. Disruption tidak berlaku sesaat atau satu kali saja melainkan terus menerus sehingga perusahaan dituntut untuk tidak terlena dengan kenyamanannya. Lalu kenapa perusahaan bisa ter-disrupt? Paling tidak ada dua hal yang membuat perusahaan mau tidak mau menjadi ter-disrupt, diantaranya adalah teknologi dan perilaku konsumen.

Mari kita perhatikan contoh yang kasat mata, dari jaman dulu yang menguasai jalanan adalah sepeda motor terutama jenis bebek lalu dengan bantuan teknologi maka lahirlah bebek matik. Awal masuknya bebek matik tidak diterima oleh pasar lalu atas nama kemudahan maka perilaku konsumen pun berubah menjadi menyukai bebek matik dan saat ini seperti kita lihat dijalanan, siapa penguasa jalan? Bebek matik dan hampir semua merk memproduksi bebek matik. Contoh lain bisa kita lihat lagi dijalanan, siapa penguasa taksi di jalanan? Yup, Blue Bird tetapi apakah sekarang masih menguasai pasar taksi? Hampir bisa dipastikan bahwa sekarang yang menguasai bisnis ini adalah taksi online (grab, gocar, uber) bahkan Blue Bird pun ikut bergabung dengan gocar dan juga membuat aplikasi sendiri yang diberi nama My Blue Bird. Contoh Selanjutnya adalah mal, masih seramai dulukah mal saat ini? Hampir bisa dipastikan bahwa jawabannya adalah tidak karena masyarakat lebih memilih belanja secara online. Masih banyak contoh lainnya namun mari kita pahami bahwa disruption tidak memilih industri tertentu seperti contoh di atas namun semua jenis industri.

Prof. Kasali menyimpulkan bahwa ada lima hal penting dalam disruption yang antara lain adalah:  pertama, disruption berarti penghematan banyak biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simple. Kedua, kualitas produk/jasa yang dihasilkan menjadi lebih baik. Ketiga, disruption berpotensi menciptakan pasar baru dan membuat yang selama ini tertutup menjadi terbuka. Keempat, produk/jasa yang dihasilkan lebih mudah dijangkau oleh masyarakat karena hanya memerlukan jaringan internet dan gadget dan yang terakhir adalah produk/jasa yang dihasilkan lebih smart.

Kembali ke laptop, lalu bagaimana dengan industri asuransi? Beberapa perusahaan asuransi mulai membuat aplikasi mobile baik aplikasi via android (google play store) maupun apple (appstore) artinya industri asuransi pun ter-disrupt. Tertanggung jaman sekarang lebih memilih untuk belanja asuransi via online atau mobile ketimbang harus beli proteksi ke kantor asuransi atau daripada mengurus klaim yang prosedur standarnya ribet, makan waktu dan buang waktu karena harus ke kantor asuransi, mendingan diproses secara online melalui aplikasi mobile. Hal lain yang akan ter-disrupt adalah peran agen yang pelan-pelan diambil alih oleh portal aplikasi online. Atau bisa juga bisnis terutama retail yang dibuat melalui aplikasi mobile. Saat ini sudah lebih dari 10 perusahaan asuransi yang mempunyai aplikasi mobile dan mereka menyadari pentingnya perubahan model bisnis ini karena menurut data dari Emarketer, sebuah lembaga riset digital marketing. Jumlah pengguna telepon seluler khususnya jenis smartphone di Indonesia saat ini sekitar 86.6 juta pengguna dan diperkirakan bertambah menjadi di atas 100 juta di tahun 2018.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh industri asuransi? Yang paling penting adalah Bangun dari tidur dan segera keluar dari zona nyaman. Ada satu istilah lain yang tak kalah serunya dari disruption yaitu “disruptive innovation”. Makin heboh saja bukan? Tapi hal ini tidak bisa ditawar lagi karena ini menyangkut umur dari perusahaan itu sendiri. Teori ini disampaikan oleh Clayton M. Christensen seorang profesor dari Harvard Business School. Inti dari teori ini ialah setiap perusahaan dituntut untuk membuat suatu inovasi yang mengganggu pasar dengan tujuan membuat pasar baru. Contoh yang paling mudah dicermati ialah kasus dilemparnya Iphone ke pasar oleh Apple. Saat itu banyak orang berpendapat bahwa Iphone tidak akan survive dalam melawan raksasa saat itu yaitu nokia. Sama-sama telepon selular tapi Iphone membuat platform baru dalam dunia perteleponan dengan aplikasi appstore dimana antara Iphone dengan penggunanya akan terus terkoneksi dan dibuat seakan produk tersebut customized. Sejarah membuktikan bahwa yang kalah adalah si raksasa yaitu nokia yang telah nyaman di singgasana selama beberapa tahun dan sejarah pula yang akan membuktikan bahwa dimasa yang akan datang akan ada inovasi lain yang akan men-disrupt Iphone.

Langkah awal apa yang harus dilakukan oleh perusahaan asuransi? Lakukan upaya awal yang murah tapi efektif di perusahaan yaitu bentuk FGD (focus group discussion) yang isinya karyawan yang berani berpikir bebas, radikal dan out of the box sehingga lahirlah inovasi yang disruptive dan mesti diingat setiap perusahaan atau produk pasti ada life cycle nya dan untuk menghindari fase decline dalam life cycle tadi jangan anggap remeh atau jangan menunda untuk berinovasi.  - arsamodra -