Industri Asuransi Harus Terlibat dalam Pembangunan Infrastruktur

23 Feb 2018, 14:16

Dewan Asuransi ASEAN meminta para pemangku kepentingan industri asuransi di seluruh ASEAN agar berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan regional dengan mendanai pengembangan infrastruktur prioritas melalui kemitraan publik-swasta.

Sebab, pembangunan infrastruktur di ASEAN diperkirakan akan membutuhkan investasi sebesar 3,1 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2030.

Sekretaris Jenderal Asuransi ASEAN, Evelina Pietruschka yakin bahwa industri asuransi di ASEAN dapat memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

"ADB (Bank Pembangunan Asia) memperkirakan bahwa ASEAN memerlukan investasi tambahan hingga 60 miliar dolar AS setiap tahun untuk mengurangi kesenjangan investasi infrastruktur saat ini. Angka tersebut cukup besar bagi pemerintah untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur tersebut secara mandiri," kata dia, Jumat (26/1/2018).

Menurutnya, Asuransi ASEAN berada pada posisi strategis dalam membantu memenuhi kebutuhan investasi infrastruktur melalui kemitraan publik-swasta yang inovatif. Ia percaya dapat menentukan masa depan negara dan wilayah ASEAN melalui investasi pendanaan pada pengembangan infrastruktur prioritas yang berkontribusi terhadap realisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal).

Dengan populasi lebih dari 630 juta serta meningkatnya urbanisasi dan kehidupan kelas menengah yang lebih sejahtera, pemerintah perlu bekerjasama dengan mitra bisnis untuk menuntaskan proyek-proyek infrastruktur utama di sektor transportasi, kesehatan, energi, makanan dan pendidikan.

Selain itu, adanya kemajuan besar dalam beberapa dekade terakhir, ADB memperkirakan wilayah ini masih menjadi rumah bagi lebih dari 400 juta orang yang tidak memiliki atau memiliki akses listrik yang terbatas, 300 juta orang yang kekurangan air bersih yang layak, dan hampir satu miliar orang tanpa fasilitas sanitasi dasar.

Secara global, perusahaan asuransi diperkirakan hanya memiliki 2 persen dari aset yang dikelola untuk investasi infrastruktur. Namun, dengan pertumbuhan premi asuransi di ASEAN pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 13 persen antara tahun 2004-2014, lebih besar tiga kali dari rata-rata global, potensi untuk menyalurkan investasi ke proyek infrastruktur yang layak memberikan peluang yang begitu besar.

Sebuah studi oleh perusahaan konsultan global PricewaterhouseCoopers mengenai Understanding Infrastructure Opportunities di ASEAN yang menganalisa lanskap investasi infrastruktur ASEAN, menyimpulkan ada korelasi langsung dan positif antara investasi infrastruktur dan pertumbuhan PDB. Dengan demikian, loncatan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan merupakan prospek yang saling menguntungkan baik bagi perusahaan asuransi maupun negara anggota ASEAN.

"Kemitraan publik-swasta untuk mendanai pembangunan infrastruktur menawarkan pendekatan alternatif inovatif untuk mewujudkan manfaat substansial bagi perusahaan asuransi di ASEAN," tuturnya.

Ia melanjutkan, tidak hanya memberikan wawasan investasi infrastruktur jangka panjang, proyek-proyek ini juga membantu merangsang pertumbuhan positif bagi ekonomi nasional dan regional. Penggunaan mata uang lokal oleh para pelaku asuransi lokal untuk mendanai investasi ini juga sangat bermanfaat bagi fluktuasi mata uang dan tingkat hutang nasional.

Dengan membangun kemitraan publik-swasta yang saling menguntungkan untuk mendanai pembangunan infrastruktur dimulai dengan tujuan bersama untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Untuk menyoroti manfaat dari pendekatan pembiayaan blended finance ini, Asuransi ASEAN berencana memfasilitasi pembicaraan antara negara anggota ASEAN dan perusahaan asuransi lokal untuk investasi penting sebagai katalis ke dalam proyek-proyek infrastruktur di seluruh ASEAN.

Sumber : inews.id/finance/read/industri-asuransi-harus-terlibat-dalam-pembangunan-infrastruktur