Kala Jabiru Tak Bisa Terbang Terkendala Asuransi yang Belum Diperpanjang

16 Sep 2015, 17:55

Sejumlah pesawat tampak berjejer rapi diantara pagar pembatas. Bukan tanpa alasan, berbagai jenis pesawat latih yang merupakan milik TNI AU memang sengaja dipamerkan dalam helatan Bandung Air Show (BAS) 2015.

Pesawat berkapasitas empat orang penumpang itu, memang cukup mencuri pertian masyarakat yang berkunjung pada kegiatan rangkaian peringatan HUT Kota Bandung ke 205.

Teriknya sinar matahari tak menyurutkan minat pengunjung untuk datang ke area pameran pesawat yang berada di sekitar Lanud Husein Sastra Negara. Mereka tampak penasaran sekaligus terkagum-kagum melihat secara dekat armada latih milik TNI AU tersebut.

Namun, siapa sangka diantara pesawat-pesawat latih itu, terdapat salah satu pesawat rakitan salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Bandung. Konon, perakitan pesawat Jabiru (J)-430 yang mulai dikerjakan pada Februari 2011 ini, dapat rampung dalam kurun waktu empat bulan tepatnya 17 Juni 2011.

Perakitan pesawat ini, melibatkan 33 siswa kelas 11 dan 12 dari berbagai jurusan di SMK 12 Bandung. Diantaranya siswa jurusan kontsruksi badan pesawat, konstruksi rangka pesawat, elektronik, pesawat udara, dan kelistrikan. Dalam merakit, para siswa dibantu lima guru pembimbing. Hasilnya, pesawat itu mampu berfungsi dengan baik layaknya pesawat latih dan praktik perawatan bagi siswa, hingga menyiram lahan pertanian.

Pesawat Jabiru terdiri dari instrumen mesin Jabiru 3.300 cc. Dengan menggunakan berbahan bakar jenis oktan 95, avtur atau pertamax plus dengan kapasitas 35 liter. Yaitu dengan tangki bahan bakar terdapat di kedua sayap pesawat dengan perbandingan seimbang di kedua sisinya. Sehingga, pesawat rakitan yang menghabiskan dana satu miliar ini, mampu terbang selama empat jam non stop dengan jarak tempuh 400 kilometer.

Nama Jabiru sendiri diambil dari salah satu jenis burung di Australia. Hal ini menjadi masuk akal karena sebagian besar komponen pesawat berasal dari negeri kangguru tersebut. Sedangkan, untuk biaya pembuatan pesawat sendiri bersumber dari pemerintah lewat program Direktorat Pembinaan Sekolah Mengenah Kejuruan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pesawat yang memiliki panjang 6 meter dengan lebar sayap (wings) sekitar 9 meter ini, dalam pengerjaannya dibagi dalam tiga gelombang. Masing-masing gelombang mengerjakan bagian-bagian pesawat, misalnya bagian konstruksi rangka dan bodi serta mesin. Selanjutnya, mereka bekerja secara pararel hingga terbentuklah bentuk pesawat J-430 seperti yang ada sekarang ini.

Pada 3 Januari 2015, menjadi momen bersejarah bagi para siswa SMK 12 Bandung. Bagaimana tidak, pada kesempata itu pesawat Jabiru mengudara untuk pertama kalinya. Dipiloti salah seorang penerbang dari Federasi AERO Sport Indonesia (FASI), Jabiru berhasil terbang di langit Kota Bandung, meskipun baru dizinkan untuk terbang rendah.

Dua pekan kemudian, yakni pada 21 Januari 2015, Pesawat Jabiru kembali mengudara. Namun kali ini Jabiru bukan untuk terbang rendah lagi, melainkan terbang ke beberapa landasan udara di wlayah Bandung Raya.

"Saat itu Jabiru berhasil terbang dari Lanud Husein Sasatranegara ke Lanud Selaeman dan Batujajar,” tutur Ferry Kurnia (16) yang juga siswa kelas XI permesinan pesawat udara SMK 12 Bandung saat ditemui pada pameran pesawat BAS 2015 di Husein Sastranegara, Sabtu (12/9/2015).

Namun, pesawat Jabiru yang diklaim merupakan satu-satunya pesawat yang ada di Jawa Barat ini, belum bisa kembali mengudara. Sebab, pesawat yang merupakan karya anak bangsa ini tersandung masalah asuransi yang harus diperpanjang terlebih dahulu.

"Kalau sertifikasi layak terbang dari Kementrian Perhubungan mah sudah ada, cuma sekarang terkendala asuransi yang belum diperpanjang. Kalao mau perpanjang asuransinya mahal, sekitar Rp 500 juta," ungkap Ferry seraya mengharapkan kembali bantuan dari pemerintah terkait dana perpanjangan asuransi pesawat kebanggaan Kota Bandung bahkan Jawa Barat ini.

Mukhlis Dinillah

Sumber: http://m.galamedianews.com/bandung-raya/42540/kala-jabiru-tak-bisa-terbang-terkendala-asuransi-yang-belum-diperpanjang-.html