Kebanyakan Syarat, Petani Kurang Meinat Asuransi Lahan

28 Jan 2016, 10:05

YOGYAKARTA, (PRLM).- Petani di beberapa wilayah di Yogyakarta mengaku kurang memintai program pemerintah mengenai asuransi lahan pertanian. Hal itu terbukti dengan masih rendahnya jumlah petani mengikuti program ini.

Misalnya saja di Kab. Sleman, data dari Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman, dari jatah sekitar 6.000 hektare lahan yang akan diasuransikan, baru terdapat sekitar 378 hektare yang didaftarkan petani. Padahal 80 persen pembayaran asuransinya ditanggung oleh pemerintah.

Program ini ditujukan untuk melindung petani dari kerugian apabila mengalami kerusakan hingga gagal panen padi sebesar 75 persen. Namun syarat tersebut justru dinilai terlalu besar bagi petani di Kabupaten Sleman.

Tumijo (53), salah seorang petani di Prambanan, Sleman, mengatakan syarat tersebut terlalu memberatkan. Hal ini lantaran kerusakan paling lahan paling parah yang dialami petani di daerahnya tidak sampai 50 persen. “Sehingga jika syaratnya 75 persen, terlalu besar. Karena potensi kerusakan masih sangat kecil walaupun ada serangan hama,” katanya.

Selain itu, kata dua syarat yang harus dipenuhi sangat banyak. Di antaranya, lokasi sawah harus dekat dengan saluran irigasi, sedangkan benih padi ditanam pada Oktober 2015-Maret 2016.Sehingga beban polis Rp 30 ribu per hektare lahan dianggapnya tak begitu berat.

“Syarat-syaratnya sangat banyak. Sawah tadah hujan seperti punya saya tidak bisa masuk. Banyak yang kebingungan dan memilih tidak ikut,” ujarnya.

Tumijo dan beberapa rekannya mengaku kebingunan tersebut terjadi lantaran minimnya informasi yang didapat. “Kami belum jelas betul mengenai program ini. Berapa nanti penggantian jika gagal panen dan apa yang kami dapat jika ternyata lahan tidak gagal panen untuk beberapa tahun? Kami masih belum begitu jelas,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Widi Sutikno Dari jatah alokasi 6.000 hektare hingga kini baru 378 hektare yang diikutkan program asuransi pertanian," katanya, Senin (25/1/2016).

Menurut Widi, lahan tersebut didaftarkan oleh sekitar 2.000 petani di Kabupaten Sleman."Saat ini memang banyak petani yang belum menyerap program asuransi pertanian. Dari hasil evaluasi kami, banyak kendala di lapangan," ucapnya

Widi mengatakan, kendala-kendala tersebut di antaranya waktu sosialisasi yang mepet, dan sulitnya persyaratan untuk memperoleh klaim. Sesuai peraturan, petani baru akan mendapatkan ganti rugi Rp 6 juta per hektare jika kerusakan mencapai 75 persen.

"Ada keluhan petani yang mempertanyakan mengapa ganti rugi baru bisa dicairkan jika lahan pertanian yang rusak mencapai 75 persen. Mereka berharap bisa kurang dari itu," ujarnya. (Wilujeng Kharisma/A-88)***

 

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2016/01/25/358448/kebanyakan-syarat-petani-kurang-minati-asuransi-lahan