Kementan Didesak Siapkan Regulasi Pertanian Modern

Kementan Didesak Siapkan Regulasi Pertanian Modern

02 Apr 2019, 08:10
Kementan Didesak Siapkan Regulasi Pertanian Modern

Kentalnya implementasi teknologi di era Revolusi Industri 4.0 dinilai turut membawa manfaat bagi sektor pertanian untuk mendekatkan distribusi antara petani dan konsumen. Kendati demikian, modernisasi pertanian ini memerlukan insentif dan dukungan dari pemerintah dalam bentuk regulasi.

Ekonom Universitas Indonesia, Riyanto memandang, pemerintah melalui jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) perlu memfasilitasi perubahan ke arah industri 4.0 melalui regulasi dan aturan yang sesuai. Keberadaan aturan ini penting sebagai payung hukum dan acuan bagi para pelaku usaha.

“Apabila kita tidak mengikuti arus perubahan industri 4.0 akan terjadi kekurangan pangan untuk mendorong dampak ganda dari sektor hulu sampai hilir pertanian,” ujar Riyanto dalam Bincang Asyik Pertanian kerja Sama antara Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dan Kementan RI di Sentul, Bogor, Selasa (19/3).

Menurutnya, pemerintah saat ini tengah menghadapi tantangan berat dan mengubah tradisi petani. Hal ini khususnya terkait sebagian besar petani yang masih menerapkan pola bercocok tanam tradisional atau setara dengan level industri 1.0.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai tahun 2016 jumlah petani di Indonesia mencapai 35,09 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15,78 juta petani atau setara dengan 44,97% dari total petani nusantara merupakan petani tanaman pangan.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Dedi Nursyamsi menyatakan, pemerintah selama ini tak berdiam diri dalam merespons tantangan tersebut.

Ia mengklaim, pemerintah memiliki kesiapan yang cukup baik untuk menyongsong revolusi industri 4.0. Hal ini khususnya berkaitan dengan modernisasi pertanian serta upaya menggaet kaum milenial di sektor pertanian.

“Kami telah menyiapkan berbagai kebijakan agar dapat menunjang efisiensi dan produktivitas pertanian sehingga meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani,” ungkap Dedi.

Sebagaimana ide di dalam revolusi industri 4.0, Dedi menuturkan, perkembangan teknologi membawa perubahan terhadap produksi barang dan jasa. Terlebih, penggunaan internet dan teknologi informasi juga telah menjadi kehidupan manusia sehari-hari.

Kondisi tersebut mendorong Kementan untuk menyiapkan berbagai aplikasi teknologi untuk membantu usaha tani, terutama membantu petani dalam proses produksi. Hal ini salah satunya diwujudkan melalui aplikasi sistem informasi pemantauan pertanaman padi yang menggunakan citra satelit beresolusi tinggi untuk bisa membaca standing crop tanaman padi.

“Semisal saja, luas lahan sawah di Jawa Barat lebih dari 1 juta hektare. Dari areal itu terlihat luas lahan yang akan panen dan tersebar di mana saja. Begitu juga tanaman padi yang baru tanam atau lahan yang belum ditanami,” papar Dedi.

Pihaknya juga mengembangkan aplikasi bertajuk Kalender Tanam Terpadu guna memudahkan petani untuk mengetahui waktu tanam. Lewat aplikasi tersebut, petani juga bisa memperoleh rekomendasi pupuk dan penggunaan varietas.

Dedi melanjutkan, Kementan pun telah mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Tanaman Pertanian yang dimanfaatkan untuk menunjang asuransi pertanian. Aplikasi ini diklaim dapat membantu pihak asuransi untuk mendeteksi risiko kekeringan dan banjir, serta organisme pengganggu tumbuhan.

“Lebih dari pada itu, beberapa aplikasi yang disiapkan Kementan menjadi bentuk fasilitas untuk menggandeng anak muda supaya terjun ke dunia pertanian,” pungkasnya. (Monica Balqis)

Sumber : validnews.id/Kementan-Didesak-Siapkan-Regulasi-Pertanian-Modern-YdF