Kepada redaksi yang terhormat. Sebelumnya terima kasih menyediakan ruangan ini untuk saya sedikit berkeluh kesah.

12 Jul 2016, 18:38

Lebaran tahun ini, saya sudah menyiapkan jadual dengan lebih cermat. Sedianya, di liburan yang cukup panjang ini, kami sekeluarga akan banyak bersilaturrahmi mengunjungi saudara-saudara di kampung. Sudah terbayangkan bahwa mulai hari pertama traveling hingga saat kembali nanti, akan padat dan melelahkan. Persiapan fisik dan mental sudah kami ukur dengan baik, sehingga kami merasa perlu untuk menyediakan waktu satu hari penuh, setelah tiba kembali, untuk beristirahat.

Tapi ada yang luput kami perhitungkan. Delay pesawat terbang! Hari pertama saja, kami sudah tergeser sekitar 5 jam dari jadual. Roti dan air dalam kotak tidak membantu. Ini kan bulan puasa? Beruntungnya maskapai itu, pada bulan itu, kesabaran seorang muslimah menjadi lebih tebal. Malam hari kami baru tiba di kampung. Beberapa rencana awal musti ditata ulang.

Delay yang mengesalkan itu kembali terjadi pada saat pulang. Kali ini sekitar 7 jam. Ampuun deh! Tahu sendiri lah. Sampai akhirnya kamipun gagal sampai di rumah lebih awal untuk merestore kelelahan. Padahal seninnya kami sudah harus kembali beraktivitas seperti biasa.

Baru tersadar setelah itu, seandainya persiapan kami di awal, yang kami pikir sudah cermat itu, telah kami isi pula dengan asuransi perjalanan. Perbedaan apa saja/skenario baik yang akan kami terima?

Jawab :

Kami sampaikan terima kasih atas andil Ibu memperkaya rubrik ini. Penyampaian Informasi yang begitu baik dan menarik.

Sebelumnya, akan sedikit kami singgung ketentuan perundangan berkenaan dengan delay, terutama dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 89 Tahun 2015 terkait Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia (disingkat “Permenhub 89/2015”).

Dalam pasal 2 Permenhub 89/2015, kategori keterlambatan adalah sebagai berikut :

1.    Kategori 1, keterlambatan 30 menit s/d 60 menit;
2.    Kategori 2, keterlambatan 61 menit s/d 120 menit;
3.    Kategori 3, keterlambatan 121 menit s/d 180 menit;
4.    Kategori 4, keterlambatan 181 menit s/d 240 menit;
5.    Kategori 5, keterlambatan lebih dari 240 menit; dan
6.    Kategori 6, pembatalan penerbangan.

Sedangkan ketentuan kompensasi bagi penumpang adalah sebagai berikut :

a.    keterlambatan kategori 1, kompensasi berupa minuman ringan;
b.    keterlambatan kategori 2, kompensasi berupa minuman dan makanan ringan (snack box);
c.    keterlambatan kategori 3, kompensasi berupa minuman dan makanan berat (heavy meal);
d.    keterlambatan kategori  4, kompensasi berupa minuman, makanan ringan (snack box), dan makanan berat (heavy meal);
e.    keterlambatan kategori 5, kompensasi berupa ganti rugi sebesar Rp. 300.000 (tiga ratus ribu rupiah); 
f.    keterlambatan kategori 6, badan usaha angkutan udara wajib mengalihkan ke penerbangan berikutnya atau mengembalikan seluruh biaya tiket (refund ticket); dan
g.    keterlambatan pada kategori 2 sampai dengan 5, penumpang dapat dialihkan ke penerbangan berikutnya atau mengembalikan seluruh biaya tiket (refund ticket).

Nah, terkait pertanyaan ibu, yaitu skenario baik apa yang akan membedakan antara berasuransi dengan tidak berasuransi, akan kami coba jawab dengan berhati-hati. Jawabannya, tentu saja sangat bergantung pada harapan kita dalam menggunakan layanan asuransi. Dari pemaparan Ibu, sekilas kami menangkap pengharapan bahwa kesulitan-kesulitan yang Ibu alami selama dalam perjalanan akan teratasi dengan berasuransi. Kami sangat menghargai harapan ini, kami ucapkan terima kasih yang besar pula, namun perlu kami sampaikan jawaban berdasarkan keterbatasan dunia perasuransian saat ini, yang bisa jadi kurang memuaskan harapan kita. Kami tidak mungkin menyampaikan harapan kosong, karena Ibu dan setiap tertanggung sangat kami hormati.

Sejujurnya, kami telah mencoba beberapa kali menangkap sudut pandang Ibu, membayangkan kisah perjalanan yang melelahkan itu, dua kali terkendala delay (yang tentu saja ‘double’ tidak menyenangkan), kemudian mengandaikan manfaat jasa asuransi jika saja sebelum itu ibu telah berasuransi (asuransi travel). Maafkan kami, jika kami tidak dapat menggambarkan “sosok heroik” asuransi travel manapun, yang mampu mengeluarkan Ibu dari kondisi itu. Sayang sekali, Ibu akan tetap terkena penundaan perjalanan yang menjengkelkan tadi.

Beberapa orang memang berhasil mengatasi ini dengan alternatif angkutan udara yang lebih privat dan memiliki banyak keluwesan, helikopter. Saat ini jasa helikopter masih terbilang mahal, dan sayangnya belum ada perusahaan asuransi yang berkerjasama dengan pengelola helikopter untuk menyediakan alternatif saat delay. Kalaupun dapat dimintakan, preminya pun akan sangat tidak umum (tinggi), apalagi untuk ukuran kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bagaimana manfaat jasa asuransi terkait kerugian non-financial? Seperti ‘kehilangan waktu’,  ‘kehilangan mood’,  ‘kelelahan’ atau semacamnya. Sampai saat ini asuransi belum memiliki alat ukur yang tepat, dan tidak pula memiliki cadangan sebagai pengganti atas kerugian semacam itu.

Lantas apakah tidak ada gunanya mengharapkan bantuan asuransi travel saat bepergian?
Asuransi memang tidak dapat menjanjikan seseorang akan terbebas dari risiko, termasuk delay, namun kita dapat mengharapkan pelayanan asuransi saat musibah (yang tidak kita inginkan) itu terjadi. Perusahaan asuransi dapat diandalkan untuk memudahkan tertanggung (tempat bertanya, rekan, pembela dll), untuk melaksanakan hak-haknya sebagaimana jaminan yang tersebut dalam polis (batasan dan kompensasi yang diinginkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk yang jauh lebih baik dari fasilitas maskapai). Asuransi dapat juga menggantikan posisi tertanggung menuntut hak kepada maskapai, apabila klaim kepada tertanggung telah dilaksanakannya lebih dahulu.

Perlu kita sadari bahwa dunia penerbangan sendiri masih dalam penataan. Meskipun pemerintah sudah berusaha melindungi penumpang dengan regulasi, namun dalam praktiknya belum semua maskapai telah memenuhi ketentuan sesuai peraturan. Sayangnya pula, tidak semua penumpang berkenan ‘memperjuangkan’ haknya dan penumpang lain, apalagi jika harus melibatkan ngotot-ngototan dan emosi. Amat melelahkan. Di sinilah peran perusahaan asuransi sebagai ‘pendamping risiko privat’.

Perbedaan berasuransi memang belum terasa, khususnya terkait risiko delay. Namun, dalam skenario dengan risiko terburuk, manfaat asuransi akan lebih kentara. Risiko terburuk itu bukan tidak mungkin untuk terjadi selama dalam perjalanan. Risiko itu adalah : kematian dan atau cacad tetap.

Tulis Komentar

Komentar