Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya Asuransi

25 Aug 2016, 11:09

Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan dari asuransi. Asuransi merupakan sarana finansial dalam tata kehidupan rumah tangga, baik dalam menghadapi risiko yang mendasar seperti risiko kematian, atau dalam menghadapi risiko atas harta benda yang dimiliki. Demikian pula dunia usaha dalam menjalankan kegiatannya menghadapi berbagai risiko yang mungkin dapat mengganggu kesinambungan usahanya. Asuransi sebagai badan yang menerima risiko, telah terbukti ampuh dalam melindungi aset-aset paling berharga dari tiap individu maupun badan usaha. Namun kesadaran masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan asuransi masih sangat rendah.

Banyak faktor penyebab terjadinya kondisi demikian, antara lain adalah:

1. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat (Pendapatan yang Rendah)

Ditengah kondisi masyarakat yang tingkat pendapatannya masih rendah, boleh jadi asuransi belum merupakan sebuah kebutuhan, apalagi dianggap sebagai gaya hidup (life style). Masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan proteksi diri dan harta bendanya. Apalagi, jika mengharapkan masyarakat memandang asuransi sebagai instrumen investasi, mungkin masih terlalu jauh.

Banyak masyarakat yang tidak satu pun memiliki polis asuransi, kendati untuk yang vital sekalipun, asuransi kesehatan misalnya, lalu asuransi untuk hari tua/dana pensiun. Alasan mereka karena penghasilan yang tak memadai. Di tengah masyarakat, mungkin tidak jarang kita mendengar ucapan bahwa jangankan berasuransi, menabung sebagian kecil saja penghasilan untuk kebutuhan mendadak masih sulit bagi sebagian besar masyarakat. Sehingga menyisihkan sebagian pengeluaran untuk premi yang identik dengan menabung tidak mampu dianggarkan.

Demikian pula dalam hal perlindungan harta benda, kesadaran masyarakat untuk melindungi harta bendanya dengan asuransi masih dianggap sebagai tindakan buang-buang uang. Membayar premi setiap tahun secara teratur, sedangkan manfaat yang diperoleh sering dirasakan tidak sebanding.

2. Faktor Budaya

Selain pendapatan yang rendah dari sebagian besar masyarakat kita, faktor budaya juga mempengaruhi sikap masyarakat untuk berasuransi. Asuransi untuk hari tua misalnya, belum dinilai perlu untuk memilikinya. Padahal jika ada umur panjang, seseorang pasti akan menjalani hari tua.

Orang tua kita umumnya masih menyandarkan harapannya terhadap anak-anaknya. Anak seolah-olah dianggap sebagai “asset” sehingga kemandirian hidup hingga usia senja kurang dipersiapkan. Jika saja orang tua mampu membayangkan bahwa dirinya kelak menjadi tua dan anaknya tak bisa merawatnya karena kesibukannya atau perekonomian keluarganya kurang mampu, tentu ketika masih muda orang tua ini akan terpacu dengan berbagai cara untuk berasuransi. Memang, kewajiban anak untuk tetap berbakti kepada orang tua, tapi orang tua pun harus berpikir bahwa anaknya telah memiliki kehidupannya sendiri.

Selain itu juga, perikehidupan yang baik dalam masyarakat kita seperti gotong-royong, saling menolong kadang mempengaruhi ketidakmandirian seseorang. Sehingga mempengaruhi etos kerja seseorang. Banyak yang berpikir bahwa masa depan urusan nanti, yang terpenting adalah memenuhi kebutuhan sekarang. Hal ini pun bisa mempengaruhi kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi.

3. Sosialisasi Tentang Asuransi

Kapasitas dunia usaha asuransi yang masih tergolong rendah sehingga upaya melakukan edukasi kepada publik masih terbatas. Padahal, edukasi itulah yang sangat penting untuk meningkatkan kesadaran, paling tidak pemahaman masyarakat akan pentingnya berasuransi. Tidak mengherankan jika pengetahuan masyarakat tentang asuransi masih sangat minim.

4. Infrastruktur Perasuransian

Masyarakat yang tercatat sebagai penabung, deposan, dan giran di perbankan sudah cukup memadai. Meskipun itu belum dapat dijadikan ukuran tingkat keterjangkauan bank terhadap masyarakat. Namun, secara kasat mata dapat dilihat bahwa penetrasi pasar perbankan semakin meluas, hingga menjangkau masyarakat pelosok desa. Kantor-kantor cabang perbankan sudah masuk sampai wilayah kecamatan.

Sedangkan asuransi, baru menjangkau  ibu kota provinsi. Kalaupun ada yang telah menembus pasar di tingkat ibu kota kabupaten, itu pun masih bisa dihitung dengan jari. Artinya, infrastruktur perasuransian memang jauh tertinggal, kalah dibandingkan perbankan. Tidak mengherankan jika asuransi masih menjadi sesuatu yang baru bagi sebagian masyarakat.

Anda dapat membaca membangun kesadaran masyarakat berasuransi untuk melanjutkan kliping ini.

askrida | Sumber : financialneeds.blogspot.co.id/2012/11/membangun-kesadaran-untuk-berasuransi