Kesalahan Berasuransi dan Cara Menghindarinya

27 Sep 2015, 09:05


Liputan6.com, Jakarta Maksud hati ingin memberikan proteksi dan asuransi. Namun, proteksi yang didapat ternyata tidak maksimal, bahkan jauh dari harapan. Sesal kemudian tak berguna.
Membeli asuransi memang tidak seperti membeli produk yang dapat langsung terlihat. Ibarat membeli masa depan sehingga harus diteliti, dan banyak pertimbangan. Harus diperhitungkan betul jenis asuransi apa yang sesuai dengan kebutuhan kita, berapa nilai proteksinya dan banyak hal lain.
Sebagian besar kesalahan yang dilakukan saat membeli asuransi disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap produk asuransi, sebagian lagi disebabkan kurangnya penjelasan dari agen. bisa jadi Agen tidak menjelaskan karena Konsumen enggan bertanya. Sementara konsumen juga tidak tahu harus bertanya apa
Sudah waktunya kita menjadi konsumen yang cerdas dengan menghindari kesalahan kesalahan fatal tersebut. Jika kita bisa menghindarinya, niscaya payung proteksi yang akan kita beli akan memberikan perlindungan maksimal. Berikut beberapa kesalahan pemikiran orang berkaitan dengan asuransi dikutip dari buku Selami Asuransi Demi Proteksi karya Joice Tauris Santi & Nurul Qomariyah, dikutip Jumat (25/9/2015). 

1.Terlalu lama memutuskan
Demi cinta terhadap sang istri, pria tua ini rela selama 40 hari berturut-turut mengunjungi sang istri yang sedang dirawat.Kebanyakan berasumsi hidup mereka baik-baik saja sehingga memberi asuransi nanti saja.Semakin tua semakin tidak bijaksana. Itu pepatah yang berlaku di dunia asuransi. ini artinya, memilih membeli asuransi ketika kita sudah berusia lanjut sangat tidak bijaksana. Ingat Usia bertambah harga asuransi akan semakin mahal.
Banyak orang yang ragu-ragu untuk membeli proteksi asuransi ketika masih sehat dan produktif. Kesadaran membeli asuransi baru muncul setelah jatuh sakit, atau memasuki usia yang sudah tidak produktif. Jika itu yang terjadi polis menjadi sangat mahal.
Sebaiknya :
Belilah asuransi ketika kita masih muda, sehat dan berkualitas. Jangan tunggu hingga menua dan sakit-sakitan. Jangan pula menunda-nunda, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi keesokan hari.
2. Membeli perlindungan yang terlalu kecil
Malas menghitung sendiri sehingga konsumen hanya menerima yang diajukan agen.
Kesalahan fatal yang umumnya dilakukan konsumen berkaitan dengan nilai perlindungan yang dibutuhkan. Banyakan kasus yang terjadi adalah mereka tidak membeli perlindungan yang dinyatakan dalam uang pertanggungan semua yang mereka butuhkan. Misalnya uang pertanggungan hanya sebesar 200 juta. Dengan kebutuhan biaya hidup bulanan katakanlah sekitar 5 juta, berarti biaya itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 40 bulan. Selebihnya keluarga yang ditinggalkan harus mencari cara untuk tetap bertahan hidup. ini berarti "payung" proteksi yang diambil ternyata belum bisa memberikan perlindungan sepenuhnya.
Sebaiknya :
Lakukan perhitungan dengan cermat berapa kebutuhan proteksi yang dibutuhkan. Banyak ragam perhitungan proteksi. Namun yang paling umum adalah dengan memperhitungkan pendapatan, dan masa proteksi.
3. Tidak mengisi aplikasi dengan benar
Isian aplikasi asuransi sangat rumit sehingga konsumen malas mengisi dengan benar.
Salah satu kesalahan yang sering dibuat mengisi aplikasi asuransi adalah memasukan data yang tidak benar. Banyak yang menyembunyikan fakta-fakta yang sesungguhnya sehingga berakibat fatal ketika lakukan klaim. Data yang tidak benar akan menjadi salah satu hal yang membuat perusahaan asuransi menolak klaim. Jangan sekali-kali menempatkan keluarga posisi yang beresiko dengan mengisi data yang tidak benar.
Masih berkaitan dengan data aplikasi asuransi adalah rumitnya pengisian. Kolom isian aplikasi sangat banyak dan rumit. Kebanyakan konsumen pasrah, dan menyerahkan kepada agen untuk melengkapi aplikasi asuransi.
Sebaiknya :
Isilah data aplikasi sesuai dengan kondisi. Perusahaan asuransi akan memiliki hitung-hitungan tersendiri terkait dengan kondisi kita. Lebih baik jujur diawal tetapi manis diakhir akibat klaim tidak cair.
Jika memang malas mengisi aplikasi asuransi yang rumit, biarkan agen yang melakukannya. Namun, jangan lupa untuk memeriksa hasil akhirnya apakah datanglah sesuai.
4. Membeli asuransi untuk anak-anak
Setiap orang tua pasti ingin memberikan perlindungan maksimal kepada putra putri tercintanya. Namun, melindungi mereka dengan membeli polis asuransi atas nama anak bukanlah hal yang tepat. Mengapa dikatakan kurang tepat? Karena ketika kehilangan anak yang masih kecil, keluarga akan mengalami kehilangan secara emosional, bukan Kehilangan cara finansial. aperlu diingat bahwa anak-anak yang masih kecil, dan belum bekerja, ataupun mendatangkan penghasilan, belum memiliki nilai ekonomis. Jadi anak tersebut memerlukan proteksi. Dengan demikian, membeli polis asuransi jiwa untuk anak kecil tidaklah bijaksana. 
Sebaiknya :
Yang harus dilakukan orang tua yang sudah memiliki anak adalah membeli asuransi untuk melindungi diri mereka sendiri. Orang tua sudah memiliki nilai ekonomis sehingga perlu proteksi. Melindungi orang tua dengan Asuransi merupakan langkah proteksi agar, jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap orang tua, uang pertanggungan dari asuransi tersebut dapat digunakan oleh anak sehingga tidak terlantar.
Jika memang memiliki alokasi dana untuk anak, sebaiknya bukan untuk asuransi jiwa. Akan lebih baik jika dana tersebut ditabung atau diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah mereka.
5. Menjadikan anak di bawah umur sebagai ahli waris.
Warisan baru diterima setelah anak berusia 21 tahun atau sudah menikah. 
Semua orangtua pasti ingin mencantumkan anak-anak dalam daftar ahli warisnya. Keinginan mencantumkan nama anak sebagai ahli waris penerima manfaat (beneficiary) asuransi bukanlah hal yang tepat.
Mencantumkan anak di bawah umur sebagai ahli waris merupakan hal yang harus dihindari saat membeli asuransi. Mengapa? karena anak di bawah umur tidak dapat menerima warisan. Jika ahli waris masih anak-anak, warisan akan diterima oleh wali. Warisan baru dapat diberikan kelak apabila anak sudah memiliki legal standing, yakni dewasa sesuai undang-undang. Berdasarkan pasal 330 Kitab undang-undang hukum perdata, yang dimaksud dengan belum dewasa adalah belum mencapai umur genap 21 tahun, dan belum menikah sebelumnya. jadi seseorang dianggap dewasa ketika genap berusia 21 tahun, atau sudah menikah.
Sebaiknya :
Orang tua sebaiknya mencantumkan nama wali yang akan membantu merawat anak, selain pasangan, apabila meninggal. Jika orang tua merasa tidak yakin terhadap wali tersebut, buatlah surat wasiat dihadapan notaris.
Wali dapat merupakan saudara dekat. Pilihlah wali yang benar-benar anda percaya, dan bertanggung jawab sehingga dia akan benar-benar memberikan uang pertanggungjawaban asuransi itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali tidak bertanggung jawab, bisa-bisa uang pertanggungan asuransi orang tua menguap di mal, sementara anak kita malah terlantar.
 6. Tidak memahami produk asuransi yang dibeli
kebanyakan konsumen membeli tanpa mengetahui detail produk asuransi.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi secara perlahan terus meningkat. Sayangnya, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan yang mumpuni tentang aneka produk asuransi. keterbatasan informasi dan pengetahuan produk serta kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.
Jangankan memahami soal pertanggungan, jenis asuransi yang dibeli saja terkadang orang tidak paham. Konsumen umumnya membeli asuransi karena bujukan agen asuransi, yang biasanya merupakan teman dekat atau saudara. Mereka baru menyadari asuransi yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan setelah berjalan beberapa lama, atau ketika hendak mengajukan klaim. Memang kebanyakan agen menyasar konsumen yang merupakan orang dekat, seperti keluarga atau teman. jadi, terkadang tidak enak menolaknya.
Kebanyakan konsumen membeli karena merasa tidak enak hati. Selesai membeli dan membayar premi, mereka menyimpan polis. Jarang sekali ada yang sampai melakukan bedah polis untuk mengetahui secara detail produk asuransi yang mereka beli. mereka baru membuka buka polis setelah anda melakukan klaim.
Sebaiknya :
Idealnya, kita mengetahui kebutuhan proteksinya, baru mencari produk asuransi yang sesuai kebutuhan, bukan terpaksa membeli produk yang ditawarkan. Jangan membeli asuransi karena merasa tidak enak hati kepada agen yang menjual. Apalagi jika agen itu adalah teman atau saudara sendiri. Belilah asuransi karena memang kita membutuhkannya.
Kita sebaiknya mempelajari baik-baik produk asuransi yang hendak dibeli, termasuk reputasi perusahaan asuransi yang mengelolanya. konsultasikan kepada seseorang yang paham asuransi atau perencana keuangan tentang seluk beluk polis yang kita beli. hal ini untuk menghindari membeli produk asuransi yang salah. Ada sebaiknya kita juga mengundang beberapa agen dari perusahaan berbeda untuk membandingkan mana produk yang benar-benar tepat dan sesuai dengan kebutuhan.
 7. Tidak memberi tahu keluarga
Berbicara tentang kematian biasanya dianggap hal yang tabu. Padahal, asuransi umumnya terkait dengan kematian. Karena itu, banyak orang yang akhirnya menyembunyikan asuransinya, dan tidak memberitahu keluarga bahwa dia memiliki polis asuransi. Tindakan ini tentu saja kurang tepat karena ketika resiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tidak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain , keluarga si pemilik polis yang merupakan ahli waris tidak menerima manfaat asuransi.
Polis tetap teronggok di tempat tersembunyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. Sebagian lagi bahkan menetapkan tenggat selama 60 hari untuk pengajuan klaim. Jika melebihi, batas waktu itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru mengajukan klaim melebihi tenggat.
Setelah itu bagian klaim menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak. Jika disetujui, dana asuransi bisa cair ke ahli waris. Namun jika tidak ahli waris akan gigit jari. Sia-sialah polis yang sudah susah payah dibayarkan selama ini. Sayang sekali, ya..
Sebaiknya :
Polis asuransi jiwa bukan hal yang tabu di sampaikan kepada ahli waris. Tidak ada salahnya kita memberi tahu keluarga bahwa kita memiliki asuransi jiwa untuk mencegah keterlambatan klaim yang pada akhirnya merugikan ahli waris. Buatlah daftar polis asuransi yang memuat nomor polis, alamat, dan nomor telepon kantor asuransi jangan lupa cantumkan keterangan dimana polisi itu disimpan.
Sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2325797/kesalahan-berasuransi-dan-cara-menghindarinya?p=0