Ketika Agen Asuransi Tidak Tergantikan

04 Jan 2017, 16:38

Pesatnya pertumbuhan teknologi di era digital saat ini membawa perubahan prilaku masyarakat dari cara-cara konvensional menjadi lebih yang praktis dan efisien. Kondisi ini menjadi tuntutan masyarakat akan pentingnya pelayanan berbasis digital seiring dengan mulai meningkatnya masyarakat yang melek internet. Melihat begitu dinamisnya perubahan prilaku masyarakat, memacu industri asuransi melakukan inovasi layanan berbasis digital, temasuk dalam memanfaatkan distribusi produk asuransi berbasis digital.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Nonbank 1A Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yusman pernah bilang, asuransi digital sangat bermanfaat untuk perkembangan industri asuransi di Tanah Air yang seharusnya cukup banyak, di antaranya, pemasaran bisa lebih murah, bersifat masif, dan penutupan bisa dilakukan dengan cepat dan di mana saja. “Pemasaran seperti ini sangat cocok untuk produk asuransi mikro dengan jangkauan masyarakat yang lebih luas (financial inclusion).”ungkapnya.

Asuransi digital lebih tepat dinyatakan sebagai produk asuransi yang dipasarkan atau didistribusikan melalui media digital. Produk asuransi yang dipasarkan dengan cara ini biasanya merupakan produk sederhana seperti personal accident (PA) dan dengan nilai pertanggungan yang relatif kecil. Besarnya potensi pasar di Indonesia dengan pengguna aktif internet terbesar di dunia atau mencapai 72,7 juta orang, dimana dari jumlah itu sekitar 62 juta penggunanya mengakses media sosial menggunakan perangkat mobile, memacu perusahaan asuransi untuk melakukan penetrasi pasar dengan menghadirkan produk asuransi berbasis digital ditengah sengitnya persaingan bisnis industri asuransi.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia menyebutkan, jalur keagenan masih tetap merupakan kontributor terbesar terhadap total premi dengan kontribusi sebesar 45,3%, yang disusul oleh kontribusi dari saluran bancassurance sebesar 36,6% dan saluran distribusi alternatif lainnya sebesar 18,1%. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan, pemasaran asuransi melalui bancassurance memang lebih mudah dilakukan, karena pasar yang dibidik adalah segmen masyarakat yang sudah memahami industri jasa keuangan. Hanya saja, pemasaran asuransi melalui bancassurance ini memiliki keterbatasan pasar, sehingga kontribusinya tidak akan bisa menyamai kinerja pemasaran melalui keagenan. Apalagi, dalam memasarkan asuransi tetap membutuhkan personal touch karena tidak semua orang langsung bisa memahami dan membeli asuransi.

Bagi Hendrisman Rahim, profesi sebagai agen asuransi menjadi ujung tombak untuk menyokong pertumbuhan industri asuransi. Oleh karena itu, dirinya menaruh harapan besar, jumlah agen asuransi bisa terus mengalami pertumbuhan sejalan dengan masih rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Tanah Air. "Agen merupakan salah satu aset terpenting bagi industri asuransi jiwa. Agen asuransi jiwa memiliki peranan yang sangat besar dalam pertumbuhan industri,"ujarnya.

Menyadari sebagai tulang pungung dan ujung tombak industri asuransi, kata Hendrisman, agen asuransi mengemban tugas mulia untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya asuransi jiwa dan membantu mereka memiliki perencanaan keuangan dan meraih kesejahteraan di masa depan. Oleh karena itu, AAJI mengajak seluruh pelaku industri dan khususnya bagi para agen asuransi jiwa untuk selalu memiliki jiwa dan semangat muda untuk terus mengukir prestasi dengan berbagai inovasi. Bagaimanapun juga semakin banyak jumlah agen asuransi, penetrasi asuransi di Indonesia semakin meningkat.

Sementara Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Nini Sumohandoyo mengungkapkan, pihaknya gencar mengkampanyekan mengenai profesi agen asuransi jiwa. Salah satunya melalui kampanye Yang Beda, Yang Muda, Yang Berani, yang bertujuan untuk menjaring agen-agen berusia muda. ”Melalui kampanye ini, kami melakukan pendekatan yang berbeda kepada anak muda, mulai dari cara bicara dan cara berinteraksi dengan mereka yang tentunya tidak bisa disamakan dengan generasi lainnya,” jelas dia.

Kampanye ini cukup menunjang penambahan jumlah agen berusia muda. Berdasarkan data AAJI, dari 507,8 ribu tenaga pemasar yang ada sekitar 15% berusia 17-25 tahun. Sisanya berusia 26-35 tahun atau 36%, usia 36-50 tahun sekitar 40%, dan busia 50 tahun ke atas sebanyak 9%.Kemudian upaya yang akan dilakukan AAJI untuk menambah jumlah agen adalah dengan mengeluarkan lisensi terbatas untuk penjualan produk tertentu.

Nini menjelaskan, hal ini dilakukan untuk mempermudah agen menjual produk asuransi mikro dan produk asuransi sederhana lainnya. ”Dengan adanya lisensi terbatas ini, proses seseorang untuk mendapatkan lisensi menjadi lebih cepat. Selanjutnya, apabila ingin mendapatkan lisensi penuh tinggal melakukan ujian lagi,” kata dia.

askrida | Sumber : www.neraca.co.id/article/79218/ketika-agen-asuransi-tidak-tergantikan-ditengah-serbuan-layanan-digital