Kredit Sulit, OJK Usul Pengusaha Ikan Rilis Obligasi atau IPO

09 Nov 2016, 14:09

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengusulkan agar pelaku usaha perikanan dan kelautan lebih gencar memberikan pemahaman kepada pegawai bank untuk menyalurkan kredit. Selain itu, pelaku usaha dapat mencari alternatif pendanaan selain dari bank, yaitu dari pasar modal dan lembaga keuangan nonbank.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, selama ini, pegawai bank khususnya para analis kredit  belum banyak memahami potensi di industri perikanan dan kelautan. Alhasil, minat bank untuk membiayai sektor tersebut minim. Jadi, pelaku usaha perlu memberikan pemahaman kepada para analis tersebut.

Sejauh ini, Muliaman menjelaskan, pihaknya bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sudah membuat program sosialisasi kepada perbankan. “Kami buat program perkenalan. Apa itu program kemaritiman, prospeknya seperti apa," ujar dia dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kadin di Jakarta, Senin (7/11).

Namun, menurut dia, Kadin masih perlu mencocokkan data soal potensi sektor perikanan dan kelautan. Tujuannya, agar pelaku perbankan memperoleh gambaran yang akurat soal potensi di sektor itu. "Tanpa persiapan yang lengkap, maka persoalan ini tidak akan mencapai titik temu," ujarnya.

Sekadar catatan, penyaluran kredit ke sektor kelautan dan perikanan baru mencapai Rp 22,3 triliun dari total kredit bank yang mencapai Rp 4.000 triliun.

Selain mendorong sosialisasi kepada perbankan, Muliaman mengusulkan agar pelaku usaha mencari sumber pembiayaan lain, yaitu dari pasar modal. Pemanfaatan pasar modal ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menerbitkan surat utang untuk mencari dana segar. Cara selanjutnya yaitu mempersiapkan perusahaannya melantai di bursa saham dengan menjual sahamnya ke publik (initial public offering/IPO).

Pelaku usaha juga bisa mengupayakan pembiayaan dari industri keuangan non-bank. Sejauh ini, menurut Muliaman, industri tersebut lebih banyak menyalurkan kredit untuk pembelian rumah, motor, dan mobil. Ke depan, menurutnya, pelaku usaha bisa mengandeng industri keuangan non-bank membiayai pembangunan lemari pendingin (cold storage) dan pembuatan kapal.

Terakhir, Muliaman mendorong agar pelaku usaha melibatkan perusahaan asuransi dalam usahanya agar risiko pembiayaan di sektor ini semakin kecil. "Minat pembiayaan jadi lebih tinggi karena perusahaan akan lebih aman juga jika yang dibiayainya juga diasuransikan," ucapnya. Menurut dia, perusahaan asuransi bisa masuk dalam asuransi terkait pembuatan rangka kapal atau asuransi kapal-kapal nelayannya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah memegang pernanan penting dalam mendorong industri kelautan dan perikanan. Ia meyakini pembiayaan akan makin mengalir deras jika industri ini semakin menguntungkan.

Untuk itu, Airlangga mengungkapkan, pihaknya telah melakukan beberapa langkah, di antaranya dengan membangun peta jalan (roadmap) perindustrian. Roadmap itu berisi sejumlah strategi yang akan dijalankan pemerintah dalam mengembangkan sektor-sektor prioritas, termasuk untuk sektor kelautan dan perikanan.

Di dalam roadmap itu juga ada tentang insentif untuk mendukung pengembangan sektor tersebut. Insentif yang dimaksud yakni penjaminan pasokan kapal dalam negeri agar memadai untuk meningkatkan produksi hasil perikanan. "Mereka bilang pasokannya terbatas. Artinya, (insentif yang paling dibutuhkan) jaminan pasokan," ujar Airlangga.

askrida | Sumber : katadata.co.id/berita/2016/11/08/sulit-dapat-kredit-ojk-usul-pengusaha-ikan-cari-dana-di-pasar-modal