KTNA Kabupaten Bandung Pertanyakan Asuransi Pertanian

26 Oct 2015, 09:30

Asuransi di sektor pertanian yang tengah direncanakan pemerintah pusat, dinilai perlu ditinjau ulang. Hal tersebut, guna memastikan adanya manfaat yang bisa diperoleh para petani dari model asuransi itu.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bandung, Nono Sambas menegaskan, sasaran yang menerima asuransi pertanian tersebut harus jelas. Jangan sampai sasaran yang menerima itu, malah orang-orang kalangan mampu.

"Asuransi itu harus diberikan kepada petani pemilik, bukan kepada petani penggarap, buruh tani, ataupun pemilik lahan. Kalau diberikan kepada pemilik lahan, yang kebanyakan merupakan spekulan dan bukan petani, tentu asuransi itu tidak akan berguna," tandas Nono di Banjaran, Minggu (25/10/2015).

Menurut Nono, alasan kenapa petani penggarap tidak layak diberikan asuransi, karena mereka menjadikan profesi petani itu hanya sambilan. Sehingga, kehidupannya pun bukan dari pertanian, terlebih lahan pertanian yang digarapnya bukan miliknya.

Tak berbeda dengan buruh tani, kata Nono, asuransi dirasa tidak begitu penting karena buruh tani hanyalah tenaga kerja. Sebab, yang terpenting bagi buruh tani, yakni bekerja di lahan pertanian dengan upah. "Regulasi apa pun yang dikeluarkan pemerintah, asal berpihak kepada para petani, itu sangat diharapkan oleh petani. Petani pun bakal senang," katanya.

Nono menilai, kesejahteraan petani sejalan dengan program swasembada pangan pemerintah. Petani pun,harus diberikan kesejahteraan dari sisi penghasilannya.

Sejauh ini, dirinya pun belum mengetahui secara pasti terkait sistem asuransi yang akan digunakan. Selain itu, klasifikasi petani yang menerima asuransi itu juga harus diperjelas, petani seperti apa yang layak diberikan asuransi tersebut.

Meski petani nantinya hanya membayar 25 persen dari total asuransi, sedangkan 75 persennya dibayarkan pemerintah, ia tetap meminta agar model asuransi ini tidak merugikan para petani.

"Karena sistem asuransi pada umumnya membayar premi per bulan, dan bisa dicairkan kalau ada sesuatu yang terjadi. Nah, dengan model begini, akan menambah untung apa tidak," jelasnya.
Jelaskan   
Di sisi lain, KTNA Kabupaten Bandung mengkhawatirkan rencana pembuatan sistem asuransi untuk pertanian ini hanya akal-akalan pemerintah, agar perusahaan asuransi memperoleh keuntungan.

"Karena itu pemberlakuan sistem asuransi untuk sektor pertanian harus juga melibatkan beberapa organisasi petani dari daerah. Ketika pembahasan petani dilibatkan," katanya.

Selain itu, menurut Nono, ia juga ingin pemerintah meninjau kembali asuransi pertanian sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan petani. Sebab, banyak hal yang lebih krusial di sektor pertanian. Misalnya, pupuk yang mahal, irigasi yang rusak, dan ketentuan harga yang tidak menentu.

"Saya setuju dengan asuransi pertanian, tapi kalau itu benar-benar memperbaiki kehidupan petani. Asal, pemerintah menerangkan tentang sistem asuransi tersebut, manfaatnya, dan daerah seperti apa yang akan menerima asuransi itu," tegasnya.

Ziyan

Sumber:m http://m.galamedianews.com/bandung-raya/50477/ktna-kabupaten-bandung-pertanyakan-asuransi-pertanian.html