MALU

14 Jun 2017, 16:44

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Ia dilengkapi dengan berbagai instrumen  untuk bisa menuntunnya kembali kepada jalan yang lurus. Salah satu instrumen itu adalah ‘Malu’. Malu merupakan bagian dari iman, yang dengannya manusia tertahan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merendahkan  kemanusiaannya. Mencuri, korupsi, berzina, dan perbuatan buruk lain, tentu tidak akan dilakukan oleh manusia yang telah dibentengi oleh rasa malu. Rasa malu yang dimaksud, tentulah rasa malu yang sejati, yaitu rasa malu kepada Tuhan, malu untuk berani melanggar perintah-Nya, karena kita tahu bahwa tidak sedetikpun kita dapat terlepas dari fasilitas yang telah diberi-Nya; Cahaya Matahari, Udara, Air adalah sebagian dari ni’mat itu. Bahkan diri kita sendiri, pada hakekatnya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat Ia ambil kembali.

Tentu ada pula malu yang palsu, ia bukan merupakan bagian dari iman, dan dengan sendirinya ia tidak menuntun manusia kepada kebaikan, sehingga sepatutnya rasa malu seperti ini dihilangkan. Seperti apakah malu-malu yang palsu itu?

Sebenarnya mudah untuk kita bedakan; jika malu yang sejati tertuju kepada Tuhan (= malu melanggar perintah-Nya), maka rasa malu yang palsu biasanya ditujukan kepada manusia, baik kepada orang per orang, maupun kepada komunitas (tidak spesifik siapa, tapi ‘apa kata dunia?’). Malu seperti ini biasanya merupakan penyamaran dari rasa gengsi/sombong atau malah rasa takut. Mari kita simak contoh ungkapan malu yang palsu berikut; “Malu berpenampilan biasa”, “lebih baik tidak berqurban dulu, daripada malu berqurban hanya seekor kambing, padahal artis”, “malu dikatai sok alim jika berbusana muslimah”, “malu ketahuan kalau orang tuanya cacad”.

Sekelumit cerita sederhana berikut, selain sebagai penutup, mudah-mudahan dapat menambah referensi kita seputar ‘manajemen malu’

-------------

Dua lelaki dewasa terlihat saling bersitegang. Tergambar emosi dari intonasi mereka yang sama-sama meninggi. Pemilihan kata sudah jauh dari terjaga, terlontar begitu saja ungkapan-ungkapan merendahkan. Percikan argumen bercampur api amarah saling sahut, hanya untuk menenggelamkan argumen lawan, agar hanya pendapatnya sendiri yang mendominasi. Sampai di sini, yang penting adalah menang, tidak peduli lagi siapa yang benar.

Dua orang itu awalnya tiba bersamaan dan berhadap-hadapan di depan sebuah pintu perkantoran. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba timbul kecurigaan bahwa salah satu dari mereka menjadi penghalang bagi yang lainnya untuk mengakses. Kontak mata pun memanas. Sayangnya, dengan cepat mereka memilih bertengkar mulut, dan dengan nada tinggi melontarkan argumen dari sudut mereka masing-masing. Untuk sesaat masih bisa ditarik dasar logika yang membuatnya sama-sama terasa masuk akal (meskipun tentu saja tidak bagi lawan). Sejurus kemudian, pertengkaran pun dengan cepat memasuki arena lain yang tidak hanya sekadar masalah ‘pintu’.

Seperti menikmati tarikan pada otot-otot leher, untuk beberapa saat, keduanya seperti membiarkan pertikaian itu menguras akal sehat masing-masing, sebelum salah seorang bergerak untuk menarik pintu (pada sisinya yang memang tertempeli tulisan ‘Tarik’). Pintu pun terbuka lebar.

Apakah kemudian persoalan menjadi selesai? Karena toh akses ke luar/masuk pintu (yang sama-sama mereka inginkan di awal) telah terbuka?

Ternyata tidak! Segala hal yang berhasil dibuktikan salah seorang, bahwa membuka pintu tadi harus dengan menariknya, ternyata tidak serta merta menggugurkan alasan lawan untuk dapat membuka pintu dengan cara lain (‘mendorong’ - dari sudut pandangnya). Terlebih, persoalan sederhana itu telah membakar lebih jauh hingga menginjak-injak harga diri (= gengsi). Perkelahian fisik pun menjadi pilihan ‘keliru’ yang berlanjut. Bukan karena pintu kaca yang sudah tidak membatasi mereka, tapi karena keberadaan ‘pembatas lain’ yang ternyata juga sudah mereka singkirkan, Rasa Malu.

Orang-orang yang kebetulan menonton hanya sempat bergeleng-geleng ria, sambil mencoba menakar isi kepala kedua pemuda. “Kok bisa ya?” heran mereka.*(iji)