MANAJEMEN PERUBAHAN

10 Sep 2018, 16:07

“Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan” (Charles Darwin). Perubahan adalah transformasi dari keadaan sekarang menuju yang diharapkan di masa yang akan datang, suatu keadaan yang lebih baik. Dalam pengertian tersebut jelas bahwa perubahan merupakan transformasi keadaan menuju kearah yang lebih baik, walaupun perubahan tidak selamanya berdampak baik atau perubahan adalah transformasi dari keadaan yang sekarang menuju keadaan yang diharapkan di masa yang akan datang menjadi lebih baik. Memang perubahan belum tentu menghasilkan pembaruan, tetapi tanpa perubahan tak akan pernah ada pembaruan (Rhenald Kasali). Menurut Kurt Lewin, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap organisasi, individu, atau kelompok dan perubahan besar memerlukan tahap pencarian karena “orang-orang yang berpikiran lama” ingin mempertahankan kekuasaan, wewenang dan rasa nyamannya.

Kebutuhan akan perubahan lebih bersifat faktor internal organisasi sedangkan kekuatan untuk perubahan dapat bersumber dari faktor internal dan eksternal (Wibowo,2012:82). Kemudian dijelaskan bahwa tekanan lingkungan lebih merupakan faktor eksternal, sedangkan tekanan organisasional lebih merupakan faktor internal. Sehingga yang akan dijelaskan disini yaitu bagaimana implementasi dari tekanan organisasional yang dapat disebut sebagai tekanan internal pendorong adanya perubahan.

Robbins (2001:540) mengungkapkan adanya 6 faktor yang merupakan kekuatan untuk melakukan perubahan yaitu:

a. Sifat tenaga kerja
b. Teknologi
c. Kejutan ekonomi
d. Persaingan
e. Kecenderungan sosial
f. Politik dunia

Complacency exists when people think what they are doing is right and they don’t need to change. The most common cause of complacency is past success. In a world that is changing faster and faster all the time, complacency is cancer.” (John Kotter)

Dinamika eksternal dan internal menuntut perubahan. Ada suatu adagium yang mengatakan, tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam pertumbuhan (there is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth).

Perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya, yaitu resistensi, penyangkalan, dan kemarahan. Tak dapat dipungkiri, perubahan selalu menimbulkan kegaduhan dan kritik. Manusia ingin berubah, tetapi tidak mau diubah. Ada yang bisa “melihat”, ada yang “tak mau” melihatnya. Ada yang mengkritik untuk memperbaiki, tetapi banyak yang langsung menolak dan menyatakan tak bernalar, pasti gagal, dan seterusnya (Rhenald Kasali).

Stephen P Robbins dan Timothy A Judge dalam bukunya yang berjudul  Organizational Behavior Global Edition Sixteenth Edition mengatakan bahwa penolakan perubahan dalam organisasi bukan hanya terjadi pada tingkatan karyawan semata. Penolakan perubahan juga bisa terjadi pada tingkatan organisasi, atau dengan kata lain, meskipun sudah mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sebuah organisasi untuk berubah, sebuah organisasi bisa jadi akan tetap menolak perubahan.

Resistensi atau penolakan pada perubahan pada umumnya akan terjadi ketika ada sesuatu yang mengancam “nilai seseorang”. Ancaman tersebut bisa jadi nyata atau sebenarnya hanya suatu persepsi saja. Dengan kata lain, ancaman ini bisa saja muncul dari pemahaman yang memang benar atas perubahan yang terjadi atau sebaliknya karena ketidakpahaman atas perubahan yang terjadi.

Kritner dan Kinicki (2001) mengelompokkan perubahan ke dalam tiga tipologi, yaitu:

1) Adaptive change merupakan perubahan yang paling rendah tingkat kompleksitasnya dan ketidakpastiannya.

2) Innovative change memperkenalkan praktik baru dalam organisasi. Perubahan ini berada di tengah kontinum diukur dari kompleksitas, biaya dan ketidakpastiannya.

3) Radically innovative change merupakan jenis perubahan yang paling sulit dilaksanakan, cenderung paling menakutkan bagi manajer untuk melaksanakan, karena memberikan dampak kuat pada keamanan kerja karyawan.

Dengan kondisi diatas jika memakai tipologi perubahan Kritner dan Kinicki maka tipe yang terbaik untuk kita adalah innovative change. Alasannya adalah tipe perubahan ini bersifat moderat yang artinya berada ditengah antara adaptive & radical. Jika menggunakan tipe yang pertama yaitu adaptive maka perubahan yang diharapkan akan memakan waktu yang lama sementara tuntutan eksternal bersifat masif. Sedangkan jika menggunakan tipe yang radikal maka resistensi akan sangat tinggi karena jumlah karyawan yang loyal dan telah nyaman dengan eksistensinya selama lebih dari 10 tahun dengan jumlah yang besar tadi akan terusik yang dikhawatirkan akan tidak produktif bagi operasional pada unit kerja.

Ada beberapa ungkapan mengenai perubahan yang populer dan berbunyi sebagai berikut “di dunia ini tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri”, “semuanya berubah hanya satu yang tidak berubah yaitu perubahan”, “tidak ada satupun yang tetap diam, semuanya selalu bergerak mengalir” dan “berubah atau mati” (Heraclitus, 544–483 SM). –arsamodra-