Manfaat Asuransi Siber di Era Digital

Manfaat Asuransi Siber di Era Digital

16 Aug 2019, 14:03
Manfaat Asuransi Siber di Era Digital

Sebelum membaca, setidaknya anda sudah membaca halaman sebelumnya yang berjudul menyingkapi ancaman dan proteksi kejahatan siber serta kliping berita kejahatan siber di era digital.

Dengan adanya asuransi siber, setidaknya perusahaan bisa mendapatkan penggantian kerugian menyeluruh, yang tidak akan dijamin asuransi jenis lainnya. Menurut Ure, setidaknya ada tiga kerugian ketika perusahaan mendapatkan serangan siber. Pertama kerugian material perusahaan (loss income), kedua kerugian yang melibatkan pihak ketiga (legal) karena aduan konsumen. Misalnya mereka harus membayar pengacara. Ketiga, biaya manajemen krisis untuk mengembalikan reputasi.

Tentu saja nilai premi asuransi siber tidak murah berkisar US$ 7 ribu hingga ratusan ribu dollar AS. “Hanya perusahaan yang sudah sangat mapan (multinasional) yang bersedia mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk melakukan proteksi terhadap risiko kejahatan siber,” papar Ure.

Alasannya, perusahaan multinasional memiliki risiko yang jauh lebih besar seiring penghasilan yang juga besar. Maka wajar mereka menginvestasikan dana tidak sedikit untuk perlindungan dari kejahatan siber melalui asuransi. “Dan ini sulit dilakukan para startup yang sedang mulai membangun bisnis,” jelas Ure.

Menyadari tentang penetrasi dan kesadaran perusahaan lokal yang masih rendah terkait asuransi siber, Ure melakukan strategi khusus, dengan tidak selalu menjual produk tetapi juga mengedepankan peran edukasi tentang risiko kejahatan siber ke semua klien. “Secara persepsi mungkin masyarakat melihat bahwa broker asuransi hanya menawarkan asuransi.

Sebelum tahu produk yang tepat, kami melakukan manajemen risiko. Setidaknya perusahaan paham dengan risiko kejahatan siber ini dulu. Bahkan, kadang berakhir dengan kesimpulan mereka tidak memerlukan produk asuransi kami,” ungka Ure.

Selain perlindungan asuransi, hal lain yang tidak kalah penting adalah menanamkan tentang praktik-praktik berbisnis yang aman menggunakan internet. Misalnya, membangun kewaspadaan akan risiko kejahatan siber, melakukan investasi teknologi untuk menahan serangan, melakukan back up data secara rutin, memiliki sistem pertahanan siber yang mumpuni dan sebagainya.

Selaku pengamat dunia asuransi selama 40 tahun, Irvan berharap, lahir regulasi tentang kejahatan siber yang lebih kuat, mengingat di Indonesia ekosistemnya yang belum terbentuk dengan baik. “Misalnya betapa mudah data pribadi kita tersebar sehingga dibutuhkan lebih dari sekadar UU ITE untuk meningkatkan kebutuhan akan asuransi siber,” ujarnya.

Sumber : industri.kontan.co.id/news/menyingkap-ancaman-dan-proteksi-kejahatan-siber-di-era-digital