Melindungi petani dengan asuransi (1)

06 Sep 2017, 09:21

Pemerintah dinilai banyak kalangan kurang memperhatikan nasib petani di Indonesia yang hampir setiap tahun terancam oleh kegagalan panen akibat cuaca yang tak menentu dan gangguan hama. Nasib petani saat ini sudah sampai taraf memprihatinkan, harus berjuang sendirian kala menghadapi berbagai resiko kegagalan.

Maka, tak heran apabila banyak petani yang punya sedikit modal untuk menyekolahkan anaknya lantas berwasiat agar sang anak jangan sampai menjadi petani seperti bapak dan ibunya. Sebabnya adalah profesi petani tidak menjanjikan kesejahteraan, apalagi prestise di masyarakat. Padahal, tanpa mereka, orang hendak makan apa?

Walaupun sebagian besar wilayahnya adalah lautan, mayoritas penduduk Indonesia mencari nafkah di sektor agraris, bekerja sebagai petani atau buruh tani. Menurut International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) (2005) Indonesia berada di peringkat ke-9 dalam hal kepemilikan lahan persawahan, walaupun jika dihitung rasio antara kepemilikan areal sawah dengan jumlah penduduknya, Indonesia 10 masih kali lebih kecil dibandingkan dengan India dan Cina. Indonesia dengan jumlah penduduk sekira 220 juta (2000) mempunyai 7,56 juta ha. Sementara itu, India dengan jumlah penduduk 1 Miliar (2000) memiliki 57 juta ha lahan persawahan dan Cina dengan jumlah penduduk 1,3 Miliar (2000) memiliki 55 juta ha lahan pertanian. Yang patut kita garis bawahi, semua lahan itu (Di Cina & India) adalah sawah irigasi, alias bukan sawah tadah hujan atau sistem pengairan lain.

Pertanian adalah salah satu sektor perekonomian yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Meningkatnya resiko banjir dan kekeringan membuka peluang terjadinya ekskalasi kerusakan produk pertanian. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan bahwa meskipun beberapa negara yang posisinya berada di utara ada yang diuntungkan dengan perilaku iklim ekstrim ini, sebagian besar negara (khususnya yang beriklim tropis) dikirakan akan menghadapi tantangan mencukupi kebutuhan pangan.

Di Indonesia, tempat petani bermodal terbatas, penguasaan teknologi yang minim dan akses pasar yang kurang, petani tidak mempunyai adaptasi yang memadai menghadapi, terutama, perubahan iklim. Cara-cara konvensional seperti menggenjot produksi, strategi pemasaran dan pemberian kredit-kredit pertanian masih dianggap kurang. Diperlukan adanya sistem proteksi formal yang sistemik dan sistematis.

Pengembangan sistem asuransi pertanian formal layak dijadikan salah satu solusi mengatasi masalah tersebut. Bahkan, bila perlu, dapat dijadikan sebagai bagian integral pembangunan sektor pertanian jangka panjang oleh pemerintah. Di negara-negara maju seperti Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara Uni Eropa asuransi pertanian berkembang cukup baik dan efektif melindungi nasib petani.

Silahkan klik Melindungi petani dengan asuransi untuk membaca kelanjutaannya dari artikel ini.