Melindungi petani dengan asuransi (2)

06 Sep 2017, 09:39

Keberhasilan usahatani kerap digagalkan oleh faktor eksternal seperti iklim, bencana alam (menurut sumber PBB 2011, Indonesia berada di ranking teratas negara rawan bencana), serangan hama, pasar, inkonsistensi kebijakan ekonomi, konflik sosial dan sebagainya. Oleh karena itu, pelembagaan asuransi pertanian perlu diimplementasikan sebagai upaya

  1. Menstabilkan pendapatan petani melalui pengurangan tingkat kerugian,
  2. Merangsang petani mengadopsi teknologi yang dapat meningkatkan produksi dan efisiensi, dan
  3. Mengurangi resiko yang dihadapi lembaga perkreditan pertanian dan memperbaiki akses petani kepada lembaga perkreditan (Mishra, 1999).

Menurut Sumaryanto dan Nurmanaf (2007) rancang bangun skim asuransi pertanian sangat membutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang situasi pertanian, faktor-faktor sossial ekonomi, dan infrastruktur administrasi. Tentu saja aspek-aspek tersebut antar satu negara dengan negara yang lain berbeda, bahkan antar wilayah yang satu dengan wilayah lain pun beragam.

Dalam konteks tersebut di atas, terdapat tiga aspek yang harus dipahami dengan baik yaitu: Pertama, unsur-unsur pokok landasan dasar struktur asuransi pertanian. Hal ini mencakup empat unsur yaitu:

  1. Derajat kelengkapan, dalam arti resiko apa saja yang diasuransikan, apa yang dicakup, dan bagaimana sifatnya: tunggal (single peril) ataukah majemuk (multi peril). Pada awal operasionalisasi, untuk konteks Indonesia, akan lebih tepat jika digunakan ancangan essential coverage (seperti di Meksiko yang khusus melindungi kehilangan hasil panen), bukan pendekatan all risks (seperti di Chili, Sri Lanka dan Jepang),
  2. Sektor publik ataukah privat. Untuk sistem usahatani di Indonesia agaknya bahwa yang lebih sesuai adalah sektor publik,
  3. Pendekatan, apakah individu atau area. Secara empiris unit-unit usahatani di Indonesia pada umumnya berskala mikro, jumlah pelaku usaha banyak tetapi berskala kecil. Oleh karena itu, pendekatan area kemungkinannya labih tepat karena biaya administrasinya akan lebih rendah daripada pendekatan individu,
  4. artisipasi, apakah sukarela (voluntary) atau wajib (compulsory).

Kedua, unsur-unsur kunci yang membentuk suprastruktur skim asuransi pertanian. Dikatakan sebagai unsur kunci karena menentukan efektivitas, viabilitas operasional dan keberlanjutan suatu sistem asuransi pertanian. Unsur-unsur kunci tersebut mencakup:

  1. Petani sasaran,
  2. Cakupan komoditas usahatani,
  3. Cakupan asuransi,
  4. Nilai premi dan prosedur pengumpulannya,
  5. Mekanisme penyesuaian kerugian,
  6. Struktur organisasi,
  7. Skim pendanaan,
  8. Susunan penjaminan ulang, dan
  9. Komunikasi dengan petani. Komunikasi dengan petani merupakan unsur yang sangat menentukan mengingat kondisi dan budaya masyarakat Indonesia.

Ketiga, Prasyarat esensial untuk mendukung pelaksanaan program Terdapat empat aspek yang tercakup dalam konteks ini yaitu:

1) Ketersediaan data-base yang memadai. Sistem data-base yang diperlukan bukan hanya harus lengkap tetapi juga rinci. Sekedar contoh, untuk asuransi pertanian dibutuhkan data rinci tentang karakteristik petani (nama, alamat, umur, pendidikan, dan sebagainya), status garapan (milik, sewa, sakap, pinjaman, gadai, dan sebagainya), luas garapan (luas garapan total, luas garapan yang berbeda di hamparan yang diasuransikan), lokasi lahan garapan, komoditas yang diusahakan (permusim, di masing-masing lokasi lahan garapan), data yang tercakup dalam FRK, dan sebagainya,

2) Ketersediaan sumberdaya manusia yang terlatih. Pengembangan kemampuan SDM sangat diperlukan, yakni gabungan antara pengetahuan di bidang usahatani dan bidang asuransi,

3) Pemantauan (monitoring) dan evaluasi, terutama untuk mengira kerugian (predictability of losses) secara akurat,

4) Arus informasi, teknologi dan berbagai gagasan untuk penyempurnaan. Serupa dengan bidang bisnis lain, eksistensi asuransi pertanian juga dipengaruhi oleh kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan.

Silahkan klik Melindungi petani dengan asuransi untuk membaca kelanjutaannya dari artikel ini.