Membangun Kesadaran Masyarakat Berasuransi

26 Aug 2016, 08:09

Kesadaran berasuransi berangkat dari pengalaman manusia bahwa banyak hal yang tidak diinginkan kelak dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Namun tidak semua orang berpikir demikian, buktinya penetrasi industri asuransi dalam perekonomian nasional masih sangat rendah. Hal ini sangat ironis, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besarnya mencapai 240 juta jiwa.

Inilah pekerjaan rumah seluruh komponen industri asuransi yaitu membangun kesadaran masyarakat berasuransi untuk menyiapkan masa depannya yang lebih baik, meyediakan perlindungan diri dan aset-asetnya di tengah ketidakmampuan pemerintah menyediakan jaminan social yang memadai. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat untuk berasuransi. Hal-hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Untuk memajukan industri asuransi perlu serangkaian kebijakan/regulasi yang kuat dari pemerintah. Hal satu ini harus diakui memang masih lemah, terutama dalam hal perlindungan bagi nasabah. Perlindungan bagi pemegang polis/nasabah harus kuat, karena merekalah pemilik dana yang dikelola penyelenggara asuransi.

Mereka pulalah yang akan mengambil manfaat dikemudian hari. Selain itu, Kebijakan pada industri asuransi juga ditekankan pada peningkatan kualitas manajemen perusahaan. Upaya untuk meningkatkan integritas dan kualitas dari direksi dan komisaris perusahaan asuransi, salah satunya, dilakukan dengan menyempurnakan peraturan mengenai penilaian kemampuan dan kepatutan, termasuk di dalamnya, pelaksanaan fit and proper test.

Berbeda dengan perbankan, di mana masyarakat datang ke bank untuk bertransaksi, pelaku industri asuransilah yang harus lebih banyak menjemput bola atau dengan kata lain proaktif. Masih sedikit masyarakat yang memiliki kesadaran datang ke perusahaan asuransi. Tapi suatu saat nanti setelah kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi sudah tinggi, masyarakat sendiri yang datang ke perusahaan asuransi. Saat ini paling efektif pelaku industri yang menjemput bola, bahkan harus “merayu” masyarakat agar bersedia menjadi peserta asuransi.

Informasi tentang manfaat asuransi dan bagaimana berarusansi belum banyak diketahui masyarakat. Selama ini, kita nyaris tidak pernah melihat acara mengenai asuransi yang digelar bagi umum, misalnya lewat pameran atau diskusi.

Padahal cara ini selalu dilakukan para pengembang setiap tahun. Bank yang saat ini sudah memasyarakat, antara lain, juga berkembang berkat forum yang digelar. Sehingga diperlukan edukasi dan sosialisasi yang kontinu dan sistematik, dengan harapan jumlah pemegang polis akan meningkat signifikan. Bentuk sosialisasi lain yang cukup efektif adalah lewat pendidikan formal, ada baiknya jika pendidikan asuransi diperkenalkan kepada siswa sejak sekolah dasar.

Kalangan pelaku asuransi harus pula berbenah. Agen yang berada di garda paling depan industri asuransi juga tak kalah penting dan mendesak pembenahannya. Mulai dari sistem perekrutan, pendidikan dan latihan, serta kepiawaian menyampaikan informasi asuransi, dan menjelaskan produk-produknya kepada masyarakat secara jelas, jujur, dan transparan. Para agen perlu lebih agresif dan berpengetahuan. Sudah saatnya para agen memiliki pengetahuan sebagai perencana keuangan yang menawarkan solusi total kepada nasabah. Selain itu, pelayanan terhadap klaim dari nasabah juga harus dilakukan secara professional.

betapapun bagusnya sosialisasi tentang asuransi, semuanya tidak akan ada gunanya jika para pemegang polis kecewa terhadap pelayanan dan klaim yang dipersulit. Saat merayu nasabah para agen begitu manis, tapi ketika pemegang polis mengajukan klaim, berbagai alasan penolakan dilontarkan, sehingga semakain memperburuk citra asuransi. Apabila pelayanan terhadap klaim yang dilakukan nasabah dilakukan secara professional dan tidak dipersulit, niscaya nasabah tersebut dengan senang hati akan merekomendasikan perusahaan yang bersangkutan kepada rekannya yang mencari asuransi.

Strategi pemasaran merupakan salah satu senjata bagi perusahaan untuk menghadapi persaingan pasar. Pada dasarnya strategi pemasaran adalah mencari kecocokan antara kemampuan internal perusahaan dengan peluang eksternal yang ada di pasar.

Mencari kecocokan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pemasaran untuk menerapkan strategi pemasaran yang sesuai dengan produk yang dihasilkan dan sesuai dengan dengan segmen pasar yang ingin dituju oleh produk yang diluncurkan. Pemasaran produk asuransi dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan bank (bancassurance), sehingga asuransi dapat meluaskan jangkauannya di tengah-tengah masyarakat, sampai desa sekalipun.

Dengan demikian asuransi akan semakin dikenal dan kesadaran masyarakat untuk berasuransi diharapkan juga akan meningkat. Namun dibalik itu semua, memilih untuk berasuransi atau tidak adalah suatu pilihan. Kita mungkin tidak akan merasakan dampaknya sekarang, mungkin setahun, dua tahun, lima bahkan sepuluh tahun kemudian kita baru menyadarinya. Bahkan mungkin pula, tanpa perlindungan, kehidupan kita akan tetap aman-aman saja. Semua bisa terjadi, tidak ada seorang pun yang tahu apakah risiko akan menjadi kenyataan atau tidak.

Tetapi bagaimanapun, masa depan yang kita cita-citakan harus mulai dibangun dari detik ini juga. Dan berbicara masa depan, sangat erat kaitannya dengan kemampuan kita untuk mengelola resiko hari ini, esok, dan seterusnya.

askrida | Sumber : financialneeds.blogspot.co.id/2012/11/membangun-kesadaran-untuk-berasuransi