Menanti Aturan Financial Technology

17 Oct 2016, 10:09

Kehadiran financial technology (fintech) dalam beberapa tahun terakhir mulai memberi warna baru dalam berbisnis. Konsep yang mengandalkan aplikasi teknologi ini dipercaya bakal 'booming' dalam beberapa tahun ke depan dan menggeser cara bisnis konvensional.

Masyarakat kini semakin mudah mengakses, mencari informasi, membandingkan, dan akhirnya mengambil keputusan untuk memilih produk mana yang akan dipilih melalui internet dan bisa langsung bertrasaksi. Bukan saja barang-barang pakai atau konsumsi, produk keuangan pun kini sudah banyak ditawarkan. Dalam layanan tersebut Anda bisa memperoleh informasi dan membandingkan asuransi jiwa dan umum. Prosesnya pun terbilang mudah karena ada pilihan menu berdasarkan jenis atau manfaat. Selain itu, opsi pembayaran atau konsultasi lebih detail mengenai suatu produk bisa dilakukan bila dibutuhkan karena ada staf atau agen yang akan menjelaskan.

Tren penggunaan financial technology (fintech) dalam bisnis menginspirasi para pengusaha merintis usaha (startup). Startup fintech tersebut bisa menjembatani konsumen dan penyedia produk asuransi, serta pihak ketiga lain seperti broker dan agen asuransi. Kolaborasi tersebut membuat masyarakat dapat lebih mudah dalam proses penjualan asuransi terutama bagi kalangan yang lekat dengan teknologi.

Perusahaan asuransi pun dapat memanfaatkan fintech sebagai mitra dalam memperluas distribusi. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Togar Pasaribu menilai, fintech bisa dijadikan distribusi lain dari pemasaran yang sudah digunakan saat ini. Ia memandang industri asuransi sebaiknya duduk bareng dalam merumuskan konsep pemasaran dengan bermitra dengan fintech tersebut. “Fintech bukan dipandang sebagai produk, tapi lebih distribusi alternatif yang bisa dipakai asuransi,” tuturnya.

Senada dengan Togar, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor menyebut, fintech bisa dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk membantu pemasaran, penjualan atau pencairan klaim. Cara tersebut dapat menekan biaya operasional perusahaan asuransi. Menurut Julian, dalam waktu dua tahun lagi, perusahaan asuransi akan memulai platform seba digital. Sebab, hampir semua kebutuhan saat ini sudah terlayani lewat digital. Ia memprediksi, ke depan, perusahaan asuransi tertarik membuat startup sendiri.

Kian maraknya startup fintech mendorong otoritas untuk menata dan mengawasinya. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad mengatakan, OJK memberi perhatian besar terhadap fintech, di antaranya dengan membentuk satuan tugas untuk pengembangan ekonomi digital dan keuangan. “Tidak lama lagi, kami juga akan menerbitkan peraturan fintech untuk menciptakan iklim bisnis yang lebih kondusif," tuturnya saat memberi sambutan Indonesia Fintech Festival and Conference di ICE BSD.

Adanya aturan itu diperlukan untuk meminimalisir risiko, dan melindungi masyarakat selaku konsumen. Kendati demikian, aturannya masih bersifat sederhana karena masih tahap pengenalan. Untuk itu OJK banyak mengadopsi perkembangan fintech di Singapura dan China sebagai bahan referensi. Selain menggandeng Bank Indonesia dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, OJK pun akan bersinergi dengan seluruh stakeholders, seperti institusi keuangan, investor, startup, inkubator, dan asosiasi industri, termasuk kalangan akademisi.

Pengawasan startup fintech oleh OJK juga berkenaan dengan masalah permodalan. Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani mengungkapkan, perusahaan-perusahaan startup fintech yang meminta untuk diatur dan diawasi OJK tersebut menginginkan keparstian saat akan mengajukan permodalan ke perbankan. Tidak tertutup kemungkinan startup fintech tersebut memerlukan modal dari perbankan, namun perbankan mempertanyakan siapa yang mengatur dan mengawasi mereka.

Rencananya OJK akan mengatur standardisasi bagi startup fintech yang mencakup perizinan, lingkup usaha, dan organisasi, termasuk permodalan. Untuk fintech baru misalnya dikenakan modal minimum sebesar Rp 2 miliar, namun untuk perusahaan startup berbentuk perusahaan keuangan asuransi modal sesuai ketentuan perusahaan asuransi yakni Rp 100 miliar. OJK menargetkan aturan tersebut bisa dirilis akhir tahun ini. Windarto/KD - Majalah Investor

askrida | Sumber : www.beritasatu.com/asuransi/391726-menanti-aturan-fintech