MENDAKILAH DENGAN TERSENYUM

15 Dec 2016, 14:21

Alkisah, dua kurcaci tengah bersiap melaksanakan sebuah tugas penting. Pemimpin mereka memerintahkan untuk mengunjungi tabib istana di kerajaan manusia, untuk meminta sebuah ramuan penting. Mereka sangat membutuhkan ramuan itu, agar Ibu kurcaci -yang  tengah terbaring tak berdaya akibat penyakit berbahaya- dapat sembuh.

Kerajaan manusia terbilang jauh dari perkampungan kurcaci. Kira-kira berjarak tiga gunung. Mendaki – menurun – mendaki lagi – menurun lagi. Akan amat melelahkan! Terlebih bagi kaki-kaki mereka yang kecil. Belum lagi deadline untuk kembali yang memaksa mereka berburu waktu sebelum dua minggu. Untuk itu mereka harus cukup persiapan. Ya.. bekal makanan, pakaian, sekadar senjata,  sejumlah uang, dan yang terpenting..  semangat! Beruntung mereka berdua masih cukup muda dan bertenaga.

Tujuan telah dipetakan dengan jelas. Rencana telah disusun rapi. Persiapan telah dilakukan. Tibalah waktu eksekusi.

Singkat cerita, gunung pertama telah mereka lewati dengan ringan. Sepanjang jalan mereka isi dengan saling bercerita. Cukup berhasil  untuk membunuh kebosanan, sekaligus menambah kedekatan. Sepertinya nafas mereka pun masih tersisa cukup panjang. Tinggal jalan mendatar yang mengantar pada kaki gunung kedua.

Tibalah mereka di kaki gunung kedua. Perjalanan mulai memberat. Mendaki lagi. Mereka mencoba mengirit nafas, jadi tidak ada lagi cerita-cerita. Apa yang mereka rasakan di dalam, dipancarkan hanya melalui ekspresi.

Ada yang berbeda. Kurcaci Pertama selalu tersenyum, sedangkan Kurcaci Kedua makin keletihan saja. Hingga hampir tiba di puncak gunung kedua, Kurcaci Kedua meneteskan air mata. Ia memohon untuk berhenti. Mereka pun berhenti.

Di tengah api unggun, Kurcaci Kedua bertanya sungguh-sungguh, “Apa yang tidak sama aku punya darimu, hingga aku keletihan sedangkan kau tidak?”

“Tidak ada!” Jawabnya singkat. “Yang aku punya, kau juga punya! Bahkan mungkin yang engkau miliki lebih baik dariku!”

“Lantas apa yang hilang dariku?” Tanya kurcaci kedua.

Pertanyaan itu justru yang membuat Kurcaci Pertama tersenyum. “Aku tahu sekarang. Dan justru itulah ‘kekurangan’-mu!” Katanya.

“Apa itu?”

“Kau terlalu sibuk mengurusi apa-apa yang hilang darimu. Tenagamu yang terus berkurang, keringatmu yang jatuh bercucuran. Keletihanmu!”

“Kau lupakan keindahan alam pegunungan yang memesona, kesegaran udaranya, kejernihan airnya. Bahkan kau mungkin juga lupa, bahwa setiap tambahan langkahmu akan membawa kita selangkah lebih dekat kepada tujuan kita! Bukankah hal-hal itu membahagiakan?”

--------------------

Kadang kita terlalu sibuk mengangankan apa-apa yang tidak kita miliki. Melupakan hal-hal indah yang selama ini telah hadir di sekeliling kita. Atau setidaknya, menganggap semua titipan itu sebagai hal yang sudah sewajarnya ada. ‘Biasa-biasa’ saja. Padahal bisa jadi, bagi sebagian orang, hal itu merupakan suatu impian yang jauh di luar jangkauan. Katakanlah misal, untuk terlahir dengan anggota tubuh normal. Hal itu bukanlah sesuatu yang ‘biasa’, tapi impian yang luar biasa, bagi sekitar 2,8 juta penduduk Indonesia yang terlahir cacad.

Maka tersenyumlah! Meskipun pada saat kita harus mendaki. Itu terbukti meringankan. Bersyukurlah selalu! Agar Dia, Yang memberikan nimat-nikmat itu, berkenan menambahkan lebih banyak kebaikan.*(rlp-WA)