Meniru dan Menipu

25 Apr 2016, 18:15

Seorang kenalan menawarkan sepatu bermerek dengan harga murah. Patut diragukan keasliannya. Meskipun penulis tahu, tidak mengurungkan niat  untuk segera mengulurkan rupiah. Bukan karena sepatunya. Penulis lebih melihat kisah hidup si penjual yang sedikit banyak penulis tahu. Istri tercintanya yang tengah sakit dan terakhir tertimpa kecelakaan lalu lintas di kampungnya, bisa jadi sebagai salah satu alasan kerja sampingan itu. Alasan-alasan lain? Tidak usahlah penulis jabarkan di sini, karena fokus kita tentu bukan pada kesedihan kenalan saya tadi.

Melompat pada memori kita ketika kecil. Pernahkah Anda menggenggam sebatang ranting, kemudian mengayun-ayunkannya, sambil meyakini bahwa itu adalah pedang seorang kesatria? Tentu saja ini bukan sebuah imajinasi yang salah. Moment seperti ini sehat-sehat saja, bahkan perlu! Orang-orang toh tidak akan berkata bahwa sang anak tengah menipu dirinya sendiri apalagi untuk menipu orang lain.

Sang anak sepenuhnya sadar bahwa yang dipegangnya hanyalah sebatang ranting. Tidak berbahaya. Dia sendiri pun tidak berniat memberi celaka. Ia hanya mengambil alat-alat yang cocok untuk memanjakan imajinasinya, membahagiakan dirinya. Bukan untuk menipu siapa-siapa.

Berbeda lagi saat wacana ini mengalir kepada kasus seorang pengusaha konveksi, yang masuk bui karena memproduksi merek-merek terkenal dengan harga jauh di bawah harga asli. Usut punya usut, awalnya,  ia hanyalah unit produksi merek-merek terkenal  tadi di dalam negeri. Tidak untuk menjual. Di atas kertas, seluruh hasil produksinya wajib ia kirim kembali kepada masing-masing pemegang merek. Ia hanya berhak atas imbal jasa, karena telah menjahitkan jeans sesuai pesanan. Pengusaha tadi secara resmi menerima pelatihan, menggunakan mesin dan menerapkan prosedur kerja sesuai standar pabrikan original, bahan baku pun dikirimkan langsung dari mitra pemegang merek.

Namun ternyata ada celah! Saat uji kualitas, akan ada saja barang asli yang tersortir karena cacat produksi. Sortiran yang seharusnya disingkirkan inilah yang kemudian ‘diberdayakan’. Masih ada orang yang berminat. Hanya dengan membenahi lubang kancing -misalnya-, barang murah tadi tidak kentara berbeda dari produk resmi, yang dua sampai tiga kali lebih mahal. Peluang uang! Belum lagi sisa bahan baku, yang -dengan sedikit trik- masih bisa diolah menjadi produk. Prosedur pelaporan stok yang -waktu itu- belum ketat, makin membuat nyata ‘peluang nakal’ tadi.

Mungkin, jika hanya ini, ia masih belum akan terendus di statistik pasar sebagai 'pembuat onar’.
Sayangnya, semakin banyak saja orang-orang yang ‘rela tertipu’. Permintaan akan busana ‘KW’ kian menggiurkan. Sulit baginya untuk melewatkan. Sampai akhirnya, ‘tombol salah’ tadi makin membola salju, saat ia mendirikan satu lagi unit usaha konveksi khusus bagi barang-barang aspal. Investasi mahal yang membuatnya sulit mundur.  Hingga terlambat! Pangsa pasar yang ia curi sudah terlalu gemuk untuk bisa disembunyikan. Raksasa pemilik merek pun ‘terbangun’.

Kita melompat lagi pada cerita tentang seorang penjual Kue Bandung (Martabak), yang sudah cukup dikenal. Pengusaha itu tidak segan-segan untuk berbagi ilmu tentang resep martabak kepada setiap karyawannya.  Padahal bisa jadi, suatu saat karyawan itu akan mandiri, menjadi pesaing martabak dagangannya. Dan itu bukan teori, sudah terjadi kerap kali, namun terbukti usaha martabaknya tetap exist, malah cenderung makin laris di tengah derasnya persaingan.

“Rizki itu sudah ada yang mengatur. Lagi pula, saat ini, resep bukanlah satu-satunya faktor daya tarik konsumen, masih ada banyak faktor lain.“ Begitu kata Sang Pengusaha.

Di tempat lain, ada lagi pengusaha yang justru mengaku bangga jika hasil produksinya ditiru. ‘Ditiru Boleh, Dijiplak Jangan’, bunyi salah satu slogannya. Menarik! Karena kita diajak memisahkan terminologi meniru (lebih positif, menurutnya) dari menjiplak (lebih negatif, menurutnya). Ada yang setuju bahwa keduanya berbeda, tapi ada juga yang ragu. Di mana letak bedanya?

Menurutnya, dengan menjadi ‘sasaran’ peniruan, itu membuktikan bahwa kita berada selangkah di depan. Seseorang tidak mungkin dianggap sebagai guru, yang pantas ditiru, jika ia tidak memiliki kelebihan yang bisa digali. Bisa memberi atau menjadi contoh itu tentu mulia. Meniru berbeda dari menjiplak. Seorang peniru, tetap berusaha menyesuaikan sesuatu tanpa ‘kehilangan’ dirinya sendiri. Orang tetap bisa mengenali, mana Sang Guru-mana muridnya, karena keduanya berbeda.

Berbeda dari itu, seorang penjiplak, tanpa kerja keras, mencoba meniru keseluruhan nilai yang bisa diduplikasinya. Ia ingin menggantikan tempat ‘yang ditiru’-nya, secara instan. Bisa mengakui dan menikmati apa-apa yang dimiliki ‘yang ditiru’. Mengelabui dirinya dan orang lain, dengan risiko kehilangan dirinya sendiri.

Padahal, di balik itu, ada kemungkinan bahwa keburukan yang dimilikinya, dapat disalahartikan orang lain sebagai keburukan milik ‘yang ditiru’. Sudahlah tidak memberikan keuntungan bagi ‘yang ditiru’, malah mengancamnya dengan salah tuding. Siapa yang mau?

------------------

Melompat mundur ke belakang, kita akan makin tersadar bahwa perihal tipu-menipu, ternyata bukanlah barang baru. Dalam kacamata manusia, keberadaannya sudah ada jauh sebelum manusia mengenal kacamata. Hampir sama tua dengan sejarah umat manusia sendiri. Kisah Adam dan Iblis, sudah amat dikenal. Dan kita tentu sudah bisa memetakan, manakah Si Penipu dan siapakah yang Tertipu.

Tapi, khusus kepada Nabi Adam, mungkin kita dapat sedikit memanjangkan pertanyaan. Apakah Bapak manusia itu ‘murni’ tertipu, sehingga mau mendekati buah yang dilarang Tuhan? Di manakah kecerdasan beliau waktu itu? Padahal, saat baru diciptakan saja, Beliau telah mampu memukul kesombongan Iblis akan kecerdasannya sebagai makhluk yang jauh lebih senior. Masakan kemudian justru ia mudah dipecundangi iblis, terkait perkara yang seharusnya ia sudah tahu? Ataukah Beliau hanya meniru, yang dilakukan oleh istrinya?

Tapi, begitulah adanya manusia! “Makhluk yang Aneh!” Sebut sebuah tulisan.
Bagaimana tidak aneh? Manusia itu menuntut adanya aturan, agar tercipta keteraturan. Tapi, manusia yang sama menuntut pula kebebasan, agar ada keleluasaan. Terlalu bebas tidak mau, terlalu terikat juga tidak mau.

Manusia meratapi kemiskinannya, karena serba tidak cukup, kesulitan akses dan lain sebagainya. Tapi ia juga yang mengkhawatirkan hartanya yang banyak, bagaimana menyimpannya, menjaganya, bagaimana keselamatan diri dan keluarganya. Kaya saja belum tentu cukup, apalagi miskin?

Manusia tidak ingin tertipu, ia mengumpulkan pengetahuan yang banyak agar memahami serba-serbi ukuran. Tapi manusia itu juga yang menggantinya dengan bermacam-macam subsitusi, agar orang yang kurang pengetahuan akan miss estimate. Manusia tidak mau tertipu, tapi ia sendiri yang memilih atau mencari kelas baru agar dapat membayar lebih murah.

Manusia ingin populer, semua hal tentangnya mengigitkan rasa ingin tahu. Ditiru. Tapi ia pula yang menggembar-gemborkan kehilangan privasi. Terlalu diikuti tidak mau, terlalu tenggelam siapa mau?

Manusia ingin original, semua yang lahir darinya adalah sesuatu yang baru dan asli. Tapi ia pula yang membuka sejarah mencari yurisprudensi, atau mengais ide dari kehidupan manusia dan perjalanan alam. Mencari yang bisa ditiru, untuk dikembangkan setahap demi setahap, selangkah demi selangkah.

------------------

Terlepas dari insting yang sudah diinstalkan Tuhan sejak sebelum ia lahir, ‘Makhluk Aneh’ tadi, seharusnya sadar bahwa ia hanyalah pengamat dan peniru. Nilai-nilai yang diakuinya, hanyalah hasil dari kegiatan mengamati dan mengimitasi. Selalu ada andil orang lain dalam penemuan jati dirinya. Manusia tidak punya sedikit pun celah untuk sombong. Jangankan menciptakan seekor nyamuk atau lalat, menciptakan kepribadian yang original-pun sangatlah sulit ia akui. Bahkan, jikapun ia tetap memilih sombong, sombong itu sendiri juga bukanlah hasil kreasinya dirinya, sudah banyak orang-orang sombong yang berlalu sebelumnya.

Sebagai penutup, marilah bicara iman. Di sana, kita tidak diharamkan untuk meniru, bahkan dianjurkan. Bahkan diberikan manual (Kitab Suci), tentang apa-apa yang harus manusia perhatikan, fikirkan dan tiru. Bahkan pula, Tuhan menurunkan model hidup (Nabi), agar kita yakin bagaimana dan akan kemana proses meniru ini berakhir.

Manusia memang ‘dipancing’ untuk meniru jalan-jalan Tuhan. Namun, ada saja ‘manusia kreatif’ yang tidak hanya berniat meniru, tapi juga menipu. Ia mencoba ‘mencuri’ kemuliaan yang ditebarkan Tuhan pada jalan itu, lebih dari yang wajar ia terima. Kreatifitasnya dialamatkan untuk memperoleh beberapa manfaat dunia.

Maka, beruntunglah manusia yang bisa selalu berkomunikasi dengan fitrah (hati nurani)-nya. Detektor milik Tuhan itu sungguh super sensitif. Tentu ia dengan mudah mengenali, adanya huruf ‘p’, meskipun penulisannya disamarkan dalam kata ‘meniru’.
(Iji)