MENYUCIKAN HATI

17 Feb 2017, 10:34

Orang-orang berdatangan ke rumah duka, menghampiri jenazah di ruang muka. Beberapa seperti tidak percaya jika guru mereka, imam mereka, adalah yang terbujur kaku itu. Sebagian bercerita tentang Sang guru beberapa hari lalu, saat ia berbaur seperti biasa, memberi apa-apa yang bisa ia bagi. Bersahaja.

Tapi, sambaran sepeda motor, malam itu, menjadi pemutus antara ia dengan orang-orang yang mencintainya di dunia. Sang Guru pun bertemu dengan takdirnya.

Tentu saja, yang paling kehilangan adalah Istri serta kelima buah hati. Meskipun Si Sulung –gadis manis yang tengah menemani adik-adiknya mengaji itu- tidak ingin terlalu terlihat bersedih. Padahal, bukannya Ia tidak tahu, bahwa beban yang seketika ditumpukan kepadanya, sebagai satu-satunya yang sudah bekerja, tentu tidak tanggung-tanggung.

Gadis manis tadi tetap tersenyum tegar selama penyelenggaraan jenazah. Luput dari perhatiannya, pandangan kagum beberapa pelayat. Maklum, karena di dalam hati, ia telah cukup sibuk menyegerakan pendewasaan diri.

Perjalanan mereka tentu tidak terhenti sampai di sini. Dan orang-orang tidak perlu terlalu khawatir akan mereka. Almarhum ayah mereka, telah mewariskan hal yang paling penting untuk diperhatikan : Agama.

Tepat ketika salah seorang anak selesai membacakan surat Al Waqiah ayat 77, ayah mereka menghembuskan nafas terakhirnya dengan lega. “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia.” Begitu terjemahan ayat itu. Ayah mereka seperti ingin berkata “Ayah ingin selalu bersama kalian, menemani kalian, menasihati kalian. Namun, jika kini ayah tidak lagi punya waktu, maka peganglah selalu kitab ini. Al-Quran akan selalu menasihati kalian, sebagaimana ayah ingin selalu dekat. Ayah mencintai kalian, terlebih lagi Yang Memiliki kitab ini (Tuhan). Ia paling mencintai kalian dan akan selalu menjaga kalian.”

Selanjutnya, dengan dibantu adik-adiknya, Si Sulung ternyata cukup kuat memutar roda keluarga. Meringankan Ibu mereka. Mereka sudah tahu bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kesanggupan setiap hamba. Karena itu mereka amat yakin, bahwa bersama-sama mereka pasti bisa!

----------------------

Seorang Pemuda, bercerita tentang sebuah “peluang emas”, yang memanggil-manggil di depan matanya. Peluang itu begitu menggoda untuk diraih. Tentu saja orientasi peluang itu adalah seputar masalah dunia. Dalam waktu relatif singkat, banyak rupiah yang bisa ia kumpulkan melalui jalan itu. Bayangan akan rumah mewah, kendaraan berkelas, atribut-atribut mahal, tidak terlalu jauh untuk diwujudkan. Pokoknya, berdasarkan logika, tidak cukup alasan bagi seseorang yang masih muda untuk dapat menolak peluang seindah itu. Lantas apa yang membuatnya ragu?

Ternyata ini bukan lagi persoalan dunia. Kata ‘bodoh’ tidak tepat dialamatkan kepadanya. Ia mantap menolak, karena peluang tadi tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Ia takut tidak sanggup menjawab pertanyaan Tuhannya nanti, di saat hari penghakiman. Pada saat itu, yang akan terlihat bodoh adalah justru orang-orang yang selalu mencari-cari alasan untuk tidak menjalankan perintah-Nya. Pemuda itu tidak ingin meragukan Tuhannya, karena ia yakin tidak ada keraguan dalam setiap perintah Tuhan. Dan lebih dari itu, karena pemuda itu sangat mencintai Tuhannya.

----------------------

Kebetulan setting kedua kisah di atas berada dekat dengan penulis. Penulis dapat langsung menangkap geliat keberagamaan masing-masing tokoh. Terus terang ini membuat iri, sudut pandang itu telah mereka rasakan dalam usia mereka yang masih muda. Sisi muda, yang biasanya melenakan, identik dengan pencarian jati diri, labil, penuh petualangan, pemberontakan nilai-nilai, sudah tidak banyak lagi dapat mewakili mereka. Bahkan sifat-sifat seperti “takut”, “berlebihan”, “naif”, “lugu” yang masih melekat pun, tidak dapat dipandang lain, kecuali dari sisi positifnya.

Tanpa sadar penulis mulai menyelam, berbincang dengan sisi keberagamaan diri sendiri.

----------------------

Adalah situasi terkini, yang belakangan menghantarkan ghiroh perjuangan meninggi. Ketidakadilan, pemaksaan kehendak, fitnah yang merajalela. Masyarakat yang saling dibenturkan. Seperti memaksa setiap orang untuk memilih posisi, di kelompok mana ia akan berdiri, maka otomatis, kelompok seberang adalah lawan yang harus ditaklukkan. Panas.

Cukup lama penulis bermonolog. Merenungi, peristiwa-peristiwa yang memancing emosi tadi. Setiap tambahan informasi baik dari internet maupun media sosial, malah makin menguatkan alasan untuk marah. Langkah-langkah curang para pihak, berikut skenario buruk mereka tersaji begitu saja di ruang publik. Tidak lagi bertedeng aling-aling, entah hoax atau bukan. Sementara, wajah-wajah tokoh antagonisnya makin lekat saja di memori, seperti menantang untuk menerima caci maki. Astaghfirullah.

Tiba-tiba sebuah hadits yang pernah terbaca melompat keluar, lalu meninggalkan tanda tanya besar. Emosi cukup mereda. Penulis pun terdiam.

Meskipun tidak ingat pastinya, kurang lebih hadits tadi bercerita bahwa pada hari perhitungan nanti, manusia akan dibangkitkan dengan wajah yang berbeda-beda. Jika beriman, mereka akan terlihat cantik dan tampan, bercahaya. Tapi jika ingkar, mereka akan tampil buruk rupa, menyeramkan, bahkan ada yang dengan rupa binatang.

Terus terang, mulanya penulis sedikit kecewa. Bayangkan! Bagaimana pendapat Anda jika seseorang (pada posisi tertentu) telah berlaku jahat terhadap orang yang Anda cintai. Apa Anda kesal? Ingin menuntut balas demi keadilan? Jika iya, penulis pun demikian. Nah, bagaimana pendapat Anda jika kini, sebelum keadilan untuk Anda ditegakkan, pada posisi orang tadi telah duduk seseorang yang lain? Bukan wajah yang ingin kita tuntut?

Begitulah ‘hawa nafsu’ telah menuntun penulis untuk menggugat agar wajah-wajah antagonis tadilah yang dihadapkan pada pengadilan Tuhan. Untuk menerima hukuman Tuhan yang saat di dunia dengan seenaknya ia rendahkan? Agar orang yang mengenalnya semasa di dunia, dapat dengan ‘puas’ melihat akhir dari seorang pembangkang Tuhan. Bukan dengan wajah lain, yang tidak dikenal? Bahkan, bisa jadi menimbulkan rasa iba, khususnya bagi para pecinta binatang, apabila mereka disarukan dengan wajah hewan (yang tidak bersalah apa-apa)?

Ooops! Astaghfirullah! Sampai di sini penulis harus sadar diri. “Ya Rabb, mohon petunjuk-Mu”

Tidak berapa lama penulis seperti menemukan jawabannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan lain. “Apakah aku akan menyuburkan dendam, padahal dendam itu sama sekali tidak berguna?”. “Apa yang sebenarnya kita benci. Orangnya? Atau peran antagonis (kekufuran) yang ia pertontonkan?” “Bukankah yang harus kita benci adalah perilaku menyimpangnya?” “Bagaimana jika orang tadi diberi Tuhan kesempatan untuk bertaubat. Apakah ia masih layak dibenci?”

Benar! Bukan jasmani itu yang harus dibenci. Karena pada hakikatnya setiap orang hanya menerima begitu saja perihal penciptaannya dari Tuhan, tanpa mampu memilih, seperti apa, oleh siapa dan di mana ia dilahirkan.

Lagi pula, saat di akhirat nanti, tentu saja setiap orang akan disibukkan dengan perhitungan amalnya masing-masing. Tidak akan ada kemewahan untuk menonton orang lain saat diadili, apalagi sambil menikmati secangkir kopi atau sekerat roti. Mesin supersensitive yang diinstallkan Tuhan untuk mencatat dosa dan pahala kita (malaikat) sedang menunjukkan ‘kecanggihannya’. Maka hanya orang-orang sombonglah, yang merasa akan bebas dari catatan dosa di pengadilan itu.

----------------------

Terakhir, melalui ruang tulisan ini, dan dengan hati, izinkan penulis mengajak kita (terutama diri penulis sendiri) untuk memelihara hati. Menjauhkan diri dari rasa dendam dan benci. Sekalipun pada figur yang saat ini, terlihat dengan bangga mempertontonkan perilaku menyimpangnya (bahkan hingga ke ranah publik). Tidak pada wujudnya, manusianya, karena sama sekali tidak bermanfaat bagi kebaikan kita.

Jikapun kita benar tentang orang dimaksud, maka arahkanlah kebencian itu pada perilakunya saja, pada pelanggaran mereka terhadap kebenaran. Identifikasi benar-benar seperti apa perilaku itu, kuatkan diri dengan berbagai referensi (klarifikasi, investigasi, hasil penelitian, data statistik dll) yang mendukung detail penyimpangan tadi, serta kuatkan alasan logis mengapa hukum/Tuhan melarangnya. Itu semua agar kita dapat betul-betul mengenali perbuatan menyimpang tadi, serta membentengi diri agar kita tidak justru latah meniru. Kita memang perlu mengambil jarak yang tegas untuk membedakan diri kita dari potensi penyimpangan tadi. Maklumlah. Karena dengan kreatifnya, perilaku menyimpang itu sering kali tidak lagi memakai wajah jahat yang terang benderang, tapi boleh jadi melalui ‘tampang lugu’ atau ‘kesederhanaan’ yang menipu.(Iji)