OJK Optimis Pertumbuhan Kredit 8 Persen Dapat Tercapai

OJK Optimis Pertumbuhan Kredit 8 Persen Dapat Tercapai

20 Jan 2020, 13:17
OJK Optimis Pertumbuhan Kredit 8 Persen Dapat Tercapai

“Tantangan selama 2019 memang tidak terduga. Perang dagang benar-benar memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan kredit. Namun, pertumbuhan kredit selama 2019 baik,” kata Wimboh, pada acara di Bank Indonesia akhir pekan lalu.

Sebagaimana diketahui pertumbuhan kredit per November 2019 hanya 7,05 persen secara tahunan. Artinya, pertumbuhan kredit bersih pada bulan kesebelas hanya 4,33 persen dan masih sangat jauh dari revisi target terakhir.

Berdasarkan catatan, BI menyebutkan penyaluran kredit perbankan tumbuh 7,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 5.549,4 triliun per November 2019. Pada periode yang sama pada 2018, kredit perbankan tercatat hanya naik 6,6 persen yoy menjadi Rp 5.532,2 triliun.

Pertumbuhan ini terutama didukung oleh meningkatnya penyaluran kredit di debitur korporasi. Kredit kepada debitur korporasi naik dari 6,1 persen yoy pada Oktober 2019 menjadi 7,4 persen yoy pada November 2019.

Adapun kredit perseorangan mengalami perlambatan dari 8,4 persen yoy pada Oktober 2019 menjadi 7,8 persen yoy pada November 2019. Sebelumnya, Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga dengan intermediasi sektor jasa keuangan membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan manageable.

Sentimen positif yang berasal dari kesepakatan perang dagang AS-Tiongkok dan kemenangan PM Boris dalam pemilu Inggris mewarnai dinamika perekonomian global di akhir 2019. Selain itu, berlanjutnya kebijakan dovish oleh beberapa bank sentral negara maju terus menjaga likuiditas global dan penguatan pasar keuangan global.

Sampai dengan 20 Desember 2019, pasar SBN mengalami penguatan dengan yield turun sebesar 94,2 bps ytd disertai dengan aliran investor nonresiden ke pasar SBN tercatat Rp171,0 triliun. Sementara itu, pasar saham menguat sebesar 4,53% mtd atau 1,45% ytd menjadi 6.284,4.

Penguatan ini ditopang oleh aliran masuk investor nonresiden. Secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar modal sebesar Rp 47,8 triliun.

“Kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan November 2019 sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik. Kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,05% yoy, ditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 13,71% yoy,” kata Wimboh.

Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,72% yoy, lebih tinggi dari capaian tahun lalu. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan meningkat 4,5% yoy. Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terkendali dengan rasio NPL gross sebesar 2,77% (NPL net 1,20%) dan rasio NPF sebesar 2,5%.

Selain itu, sepanjang Januari 2019 – November 2019, industri asuransi berhasil menghimpun premi sebesar Rp. 261,7 triliun tumbuh sebesar 6,1% yoy. Sampai dengan 23 Desember 2019, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp166 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut sebanyak 54 perusahaan dengan pipeline penawaran sebanyak 55 emiten dengan total indikasi penawaran sebesar Rp15,6 triliun.

Sampai dengan 20 Desember 2019 ytd, pertambahan kepemilikan SBN oleh perbankan tercatat sebesar Rp193,2 triliun. Sementara itu, pertambahan kepemilikan SBN oleh dana pensiun sebesar Rp43,9 triliun dan asuransi sebesar Rp13,6 triliun ytd.

“Jumlah tersebut mencerminkan positifnya peran lembaga jasa keuangan dalam mendukung pembiayaan perekonomian nasional dimana dana yang berhasil dikumpulkan dari sektor jasa keuangan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pendanaan pembangunan,” pungkas dia.

Sumber : celebestopnews.com/nasional/2020/01/ojk-optimis-pertumbuhan-kredit-8-persen-dapat-tercapai