OJK Siap Luncurkan Paket Insentif untuk Perbankan

18 Apr 2016, 13:12

INILAHCOM, Jakarta - Kabar gembira bagi perbankan lantaran OJK menyediakan kemudahan bagi perbankan yang berhasil memangkas habis BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional).

"Jika BOPO bisa diturunkan sampai ke level tertentu, kami sediakan diskon (alokasi modal inti). Kalau turunnya makin besar maka diskonnya makin besar. Jadi, sifatnya mengikuti," papar Ketua Dewan Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan) di Jakarta, Jumat (8/4/2016).

Lalu apa bentuk kemudahan itu? "Misalnya, pelonggaran syarat pendirian kantor cabang. Kita beri diskon mencapai 40 persen sampai 50 persen," lanjut Muliaman.

Sekedar informasi saja, sesuai Peraturan OJK (P-OJK) tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank, perbankan tidak dapat membuka kantor apabila alokasi modal inti-nya tidak mencukupi ketentuan.

Artinya, syarat modal inti bagi perbankan yang ingin membuka kantor baru, mutlak dipenuhi. Artinya, bila modal inti sebuah bank minim, tak bisa memenuhi P-OJK tersebut, ya jangan harap diberikan izin membuka cabang baru.

Namun, bila bank dengan modal inti pas-pasan, masih bisa membuka kantor cabang baru. Syaratnya, ya itu tadi, bisa menekan BOPO-nya secara signifikan.

Selanjutnya, OJK akan memangkas syarat modal inti sesuai efisiensi BOPO yang berhasil diraih bank tersebut. Dengan begitu, modal inti bank, berpeluang untuk memenuhi syarat modal inti. Kalau sudah memenuhi maka bank tersebut bisa membuka kantor cabang baru.

Selain BOPO yang menjadi patokan pemberian insentif oleh OJK, Muliaman menyampaikan masalah penurunan margin bunga bersih, atau net interest margin (NIM) bank. Hanya saja, masalah ini belum bisa disampaikan.

Muliaman mengatakan, insentif ini akan dituangkan dalam P-OJK dan dikeluarkan pada pertengahan April 2016. Rencana ini sedikit molor dari rencana awal yakni akhir Maret lalu. Selain diskon modal inti untuk pendirian kantor cabang, kata Muliaman, paket insentif bagi perbankan juga mendorong munculnya produk-produk baru.

Masih kata Muliaman, paket insentif ini, tujuannya untuk mendorong perbankan lebih efisien dengan mengurangi BOPO. Yang pada akhirnya melebarkan ruang untuk menurunkan NIM. Saat ini, BOPO dan NIM perbankan di Indonesia tercatat sangat tinggi jika dibandingkan negara-negara lain di ASEAN. Hal itu pula yang membuat perbankan memasang suku bunga kredit yang tinggi untuk mengkompensasi BOPO dan target NIM yang membengkak.

Merujuk pada data hingga akhir 2015, perbankan secara umum memiliki NIM sebesar 5,39% dan BOPO 81,4%. Dengan penurunan BOPO dan NIM, pemerintah, OJK dan Bank Indonesia ingin perbankan lebih efisien, sehingga pada akhirnya perbankan dapat memiliki marjin keuntungan yang cukup dan tidak lagi memasang bunga kredit yang tinggi di level dua digit. Pemerintah ingin, seluruh sektor kredit hanya memiliki bunga rendah di level satu digit. [ipe]

Askrida | Sumber :  http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2286853/ojk-siap-luncurkan-paket-insentif-untuk-perbankan