PAK MARAH DAN PAK SABAR

22 Sep 2015, 13:37

Penulis ingin menyampaikan terimakasih yang dalam kepada pihak-pihak - tak dapat penulis sebutkan satu persatu -, yang terus menyemangati penulis untuk mulai menulis lagi. Maklum, ‘suatu kejadian’ telah membuat aktifitas menulis (saja), menjadi ‘lebih menantang’ untuk penulis rampungkan. Sekali lagi terimakasih. Kita coba saja rasa tulisan ‘perdana’ ini ;

----------------------------

Nama adalah doa! Seorang bapak yang menamai anaknya ‘Thomas Alva Edison’, dapat diduga menitipkan harapan, agar kecerdasan sang anak kelak, tidak berbeda jauh dari ilmuan dunia penemu bola lampu itu.  

Sementara itu di seberang…“Apalah arti sebuah nama?” jerit Romeo.

Penulis memang tidak terlalu mengenal Romeo. Namun karena menduga bahwa kebanyakan kita, akan gampang setuju pada hal-hal yang berbau romantis, menjadi tidak populer jika penulis memilih mulai berseberangan dengan William Shakespeare. Novelnya toh sudah dinikmati orang sejak 1595. Penulis ‘harus’ setuju! ‘Apalah arti sebuah nama?’. Justru karena setuju itulah, penulis bawakan ke hadapan anda bukan sebuah, tapi dua buah nama! ‘Pak Marah’ dan ‘Pak Sabar’.

Kedua nama itu bukan rekayasa, sebagaimana asli kita temui nama-nama unik nan menghebohkan lain, di berbagai media beberapa waktu lalu. Pak Marah dan Pak Sabar bahkan saling kenal, saling akrab, sebagai  rekan seprofesi, di suatu perusahaan swasta di Jakarta.

Ketertarikan untuk mengulas kedua nama di atas, terbetik saat menyadari bahwa kesabaran ternyata bukan hanya ‘monopoli’ ‘Pak Sabar’ saja. Bahkan ‘Pak Marah’ adalah pribadi yang hangat, humoris dan baik hati. Kita yang mempercayai adanya ‘hukum proses’, tentu tertarik untuk mengetahui perjalanan keduanya, sehingga Sang Sabar menemukan kesabarannya, sementara  Sang Marah menemukan bentuk negasi dari nama yang disandangnya. Namun, penulis tidak bisa janjikan pembahasan yang seksama, kita mungkin baru akan membahas kulitnya saja – motivasi seputar titik awal.

----------------------------

Baiklah! Pertama, tentang Pak Sabar! Jangan dulu berfikir ‘flat’ tentang perjalanan hidup sang Bapak. Tuhan yang Maha Adil itu tentu menempatkan ujian-ujian dan tantangan yang ‘spesial’  bagi setiap orang, yang belum tentu dapat diselesaikan oleh orang lain. Nama yang baik adalah starting point yang tepat untuk memulai langkah pemenuhan tantangan itu. Namun tentu kita setuju, bahwa tidak akan ada keberhasilan hanya dengan ‘pencitraan’. Usaha keras dan kesabaran Sang Bapaklah, yang kemudian mengantarnya dan keluarga untuk ‘memenangkan’ perjuangan hidup hingga saat ini. Tidak mudah memang, meskipun beliau pribadi tidak ingin mencatat itu  semua ke dalam ‘kolom beban’.

Kita tentu tidak akan mengusik kondisi baik ini. Bahkan kita iringkan doa semoga ‘kesabaran’ itu makin berbuah manis.

Selepas itu, mari kita sambangi  Bapak yang satu lagi, Pak Marah! Pembahasan tentangnya inilah, yang penulis khawatirkan akan panjang! (Hehe.. Maaf! Penulis sedikit bercanda demi mengimbangi beliau). Tentu saja akan panjang dan ‘padat rasa’ jika harus dimuat detail, tentang seorang anak tentara, tentang daerah-daerah yang disinggahi, petualangan, kisah-kisah ‘perjuangan’ – hingga - bersama seorang pendamping yang cantik, kisah anak-anak, kisah anak-anak yatim, kisah jatuh-bangun. Tidak cukup tiga sekuel film! Penulis justru yang tidak siap untuk itu. Kita serahkan saja urusan penulisan romantisme kepada Shakespeare (tadi)! Dan kita tinggalkan pula kisah peperangan panjang antara kebaikan dan kejahatan, dan kemenangan akhir Sang Kebaikan setelah berdarah-darah. Tidak sedramatis itu! Lagi pula peperang di diri setiap manusia tentu masih terus berlanjut, dan selama ia masih hidup, belum ada yang menang!

Kita mulai saja dengan sedikit pelajaran sosial budaya, agar tidak tergelincir salah persepsi pada Si Perancang Nama. Mengenai sistem penamaan di Indonesia, begini :

Penamaan di Indonesia memiliki sistem yang amat beragam; mulai dari nama-nama tunggal (saja) seperti: Pardjo, Martini, Ngatminah dll., yang seakan berdiri sendiri tidak mengacu baik pada nama Bapak (Patronimik) maupun nama Ibu (Matronimik); penamaan dengan melekatkan nama keluarga (marga), seperti : Nadya Hutagalung, Cornel Simanjuntak, Alexander Andries Maramis, Raymond Sahetapy dll.; sampai pada penamaan salah kaprah, dengan mengikatkan nama istri kepada nama suaminya, misal; Ny. Soemirah Djajadisastra, Ibu Arini Soemarmo dll.

Hebatnya, di beberapa daerah, sistem penamaan itu sekaligus memuat informasi  jenis kelamin, status kebangsawanan, dan urutan kelahiran si punya nama. Wuih! Layaknya kombinasi angka-angka pada KTP. Ini tentu maju dan kreatif, yang memudahkan seseorang untuk pertama kali ‘menjual’ dirinya.

Termasuk salah satu bagian dari kreatifitas itu, adalah pemberian istilah yang merujuk kepada anak hasil pernikahan, antara darah bangsawan dengan laki-laki/perempuan biasa, ‘Marah’ begitu sebutannya. Tuh kan! Tidak berkorelasi langsung dengan aktivitas emosi yang meletup-letup itu?

Maka berjalanlah Bapak setengah bangsawan tadi dengan bibit kreatifitas khas anak negeri yang ditanamkan orangtua ke dalam dirinya. Tidak sedikit tantangan, termasuk dari pihak-pihak yang mencoba menarik fokusnya kepada sisi-sisi diri yang paling lemah. Tapi Kebaikan Hati yang dititipkan Tuhan itulah, yang pada akhirnya banyak menarik keluar potensi diri, untuk menguatkannya melewati perjalanan hidup yang tidak mudah itu.

Sebagai bentuk syukur, sudah banyak bibit kebaikan yang telah ia tanam kembali di sepanjang jalan itu. Semoga bertambah banyak ‘pengelana’ yang akan mendapatkan manfaat.

----------------------------

Sebelum menutup, penulis hadirkan beberapa cuplikan berikut;

Kita dapat bias dari arti kata ‘beruntung’, saat seorang pengusaha kaya raya, dari keluarga berada, memulai ceritanya di hadapan puluhan anak yatim piatu.

“Kalian sungguh beruntung adik-adik,” katanya serius. Beberapa pasang mata menatapnya heran. “Aku belum bisa seperti kalian sebelum usiaku genap 20 tahun.” Beberapa saat ia mengambil nafas, “Kalian patut bangga! Tidak banyak anak seumur kalian yang sudah sanggup tersenyum … sepeninggal orang tua,”

Suaranya agak tertahan… “Dua tahun aku menangis, dengan berbagai cara, pelampiasan yang kekanak-kanakan.“ Ia diam cukup lama, sebelum melanjutkan “Setelah kecelakaan pesawat udara yang ‘memaksaku’ sendiri … Padahal waktu itu aku sudah 18 tahun.”

Kita juga dapat bias dari arti kata ‘baik’, ketika menyaksikan seorang anak muda tanpa lengan kanan dan kaki kanan, berujar bangga di tepi lintasan lari, “Kekuranganku adalah pemberian-Nya yang baik,” katanya bersemangat, “Aku merasa telah mengalahkan kenormalan,  setiap kali aku berdiri untuk memulai lari!”

Banyak lagi ‘hitam’ - ‘putih’ yang akan menjadi bias, manakala hadir di hadapan kita contoh Tuhan, yang dapat memanfaatkan titik awalnya dengan lebih baik. Padahal, tadi, tidak jauh dari titik awal itu, adalah titik awal kita, yang seringkali diangkat sebagai permakluman atas kegagalan kita mendekati-Nya.

Tuhan Yang Maha Pengasih itu telah menitipkan beberapa persoalan hidup di pundak kita, karena Ia percaya kita mampu. Ia pun menitipkan bekal-bekal untuk menjawab, semua telah tersedia, di jalan lurus-Nya. Kita hanya perlu untuk tetap di tengah, tidak ke kanan - tidak ke kiri, tidak angkuh - tidak rendah diri. Selagi kita tetap mengarah ke jalan-Nya, maka segala susah, senang, Merah, Kuning, Hijau bahkan Hitam tidak lain hanyalah ‘warna’.

----------------------------

Hmmmm….. ‘Pak Marah’ dan ‘Pak Sabar’, terlepas dari perjuangan hidup masing-masing yang tidak ringan, kali ini dengan ringan mereka mengingatkan kita, bahwa Tuhan itu Maha Adil. Sambil memberikan pelajaran, bahwa sebuah titik awal yang baik atau buruk, dapat saja hanya berupa bangunan rapuh persepsi, yang dipengaruhi kumpulan input-input dari sekeliling perjalanan hidup kita.

Maka, tidak ada yang salah dengan seseorang yang berangkat dari kehidupan sederhana, atau bahkan serba kekurangan. Sebagaimana tidak pula salah jika seseorang berangkat dari sisi sebaliknya, yang serba mengkilap. Toh ‘Api’ dan ‘Air’ bukanlah sesuatu yang perlu dilabeli benar atau salah, karena keduanya memiliki kegunaan masing-masing. Kita hanya wajib mensyukuri dan berusaha mengisinya dengan pembuktian-pembuktian, sehingga segala konsep kita tentang jalan kebaikan, akan makin menemukan wujudnya.

Terakhir, penulis sajikan sebuah kalimat, yang cukup lama membuat penulis merenung;

“Jangan takut untuk berbagi senyum meski kita tidak memiliki gigi yang indah, karena orang-orang tidak mudah tertipu dari mana senyummu itu berasal.”

Maka saat orang-orang menikmati bahagianya tertawa bersama-sama, apakah kita mengira mereka akan mempersoalkan jika kehangatan itu (ternyata) dipancarkan dari seseorang yang bernama, “Marah”?

(Iji)