PEMBERITAAN DAN PENCITRAAN

10 Nov 2015, 09:00

“Diam itu Emas!” Sebut sebuah pepatah dalam negeri.

Dalam keadaan tertentu, peribahasa di atas dapat menjadi pilihan bijak. Dilengkapi dengan peribahasa “Tidak tertukar Emas dari Besi”. Maka, budaya Timur, yang lebih mengedepankan keselarasan itu, akan merasa lebih nyaman, apabila menghindari konfrontasi dan membiarkan persoalan terurai dengan sendirinya bersama waktu. “Biarkan kebenaran berbicara pada saat yang paling tepat.” Timpal ungkapan bijak made in Timur yang lain.

Tidak bermaksud menyalahkan satu sisi jika penulis mengajak berpindah pada sudut pandang lain.

Adalah sebuah teknik komunikasi yang diadopsi dari pemikiran Dr. Maxwell Maltz dalam bukunya Psycho-Cybernetics, tentang kebiasaan. Dalam teori itu dijelaskan bahwa perilaku yang diulang minimum 21 kali akan berubah menjadi kebiasaan.

Mengamini teori itu, di dunia pemberitaan berlaku anggapan bahwa sebuah berita dapat ‘biasa’ disebut sebagai kebenaran, apabila dalam jangka waktu tertentu, terus menerus dipublikasi. Macam-macam berita memang terlanjur menjadi lumrah. Cerita seperti; tikus yang menggilai keju, tentang teori evolusi, tentang pemanasan global dll., telah begitu saja menyusupi ‘ruang kebenaran’, sehingga seolah-olah tidak memerlukan banyak hambatan untuk mendapatkan penerimaan. Padahal sebagian cerita yang dikembangkan mengenai itu hanyalah hoax.

Dengan asumsi ini pula, perusahaan-perusahaan mendesain propaganda yang menarik perhatian, untuk kemudian diledakkan berulang-ulang di hadapan calon konsumen, dengan bantuan media. Dengan harapan dapat mendongkrak penerimaan masyarakat akan barang dagangan, dan ujungnya, melahirkan permintaan. Tidak jauh-jauh dari bisnis!

Cara di atas pada praktiknya makin dalam merambah dunia bisnis. Ada perubahan cara meyakinkan calon konsumen. Jika dahulu, seorang ahli masak harus sudi mengasah ‘jam terbang’, menyempurnakan kelezatan masakannya dan mendapat pengakuan banyak lidah, barulah kemudian, warung makannya akan ramai dikunjungi. Maka kini, logika itu dibalik, warung makan yang baru berdiri,  akan mengerahkan banyak pengunjung setiap hari, hingga terbentuk asumsi, bahwa pastilah warung makan itu menyediakan makanan, dan suasana makan yang berkualitas.

Sekarang, dengan begitu banyaknya penawaran membanjiri calon konsumen. Semakin sempit waktu yang dimiliki untuk menimbang sebelum memutuskan untuk ‘membeli’ sesuatu. Dalam waktu sedikit itu penjual harus ‘mencuri’ sebanyak mungkin perhatian. Mereka butuh pendekatan baru, maka berkembanglah cara komunikasi kontroversi.

---------------------------

Sebelum lebih jauh, mari kita mundur sejenak untuk membahas mengenai kebutuhan manusia. Manusia adalah makhluk kompleks. Banyak pendekatan untuk menggambarkan kebutuhannya. Yang banyak dikenal adalah pembagian menurut Abraham Maslow, menjadi lima aspek, yaitu: 1) Fisiologis, 2) rasa aman, 3) rasa cinta, 4) harga diri, dan 5) aktualisasi diri.

Sebagai turunannya, dikaitkan dengan arus informasi, kebutuhan manusia menurut Katz, Gurevitch, dan Haas, dibagi menjadi kebutuhan; 1)  Kognitif. Untuk memperkuat/menambah informasi, 2) Afektif. Untuk menguatkan estetis/pengalaman emosional, 3) Integrasi Personal. Untuk menguatkan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas dan status pribadi, 4) Integrasi Sosial. Untuk menguatkan hubungan keluarga, pertemanan dan antar manusia, dan 5) Kebutuhan berkhayal. Untuk melepaskan ketegangan, hiburan atau pengalihan.

Untuk mencukupi kebutuhan informasi, manusia berupaya memburu sumber pemenuhannya : ‘Berita’! Gayung pun bersambut, karena sebagian lain telah siap dengan berbagai sajian berita.

Setidaknya ada lima sifat yang membuat suatu keadaan dapat menjadi berita, yaitu :

  1. Aktual. Mengenai hal-hal baru.
  2. Dekat. Mengenai hal-hal di sekitar kita.
  3. Penting. Menyangkut kebutuhan banyak orang.
  4. Berdampak Luas. Keterkaitan dengan banyak sisi.
  5. Pertentangan/konflik. Mengenai isu-isu yang mengundang pro dan kontra.

Media penyampaian berita pun berkembang, dari media cetak, radio, dan televisi, sampai kepada media online dan media sosial lain yang kian berjejal di ruang konsumsi publik. Penawaran ini pun sekaligus membawa trend baru, ‘Gratis’!

Maka berubahlah tolok ukur media menjadi lebih instant, menggeser nilai informasi dan edukasi menjadi ‘hanya’ bertumpu pada seberapa besar perhatian/konsumsi masyarakat!

Berbagai kiat dikembangkan untuk sekadar menjadi perhatian, Dan sayangnya, dari lima sifat berita tadi, ‘pertentangan/konflik’ cenderung lebih efektif. Beberapa media sengaja memancing perhatian dengan berita/bahasa konfrontatif, berikut menyediakan ‘ruang perang’ yang disebut ‘komentar pembaca’, dengan diembel-embeli kalimat ‘sampaikanlah komentar anda dengan sopan dan bermartabat’, agar tidak kentara sebagai trik untuk menjaga ‘kehangatan’ berita, supaya tetap  terasa segar dalam waktu lebih lama.

Kita dapat menyebut metode pemberitaan seperti ini sebagai pemberitaan berkutub/terpolar. Untuk menjelaskannya, mari bicara sedikit fisika.

Kita tahu bahwa, air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, udara akan bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah, demikian ion listrik akan berpindah dari tegangan yang satu ke tegangan yang lainnya. Semuanya hanyalah agar pada akhirnya tercapai keseimbangan. Semakin tinggi perbedaan antar kutub, akan semakin besar pula energi potensial yang disimpan keadaan itu.

Nah, para pemberita dengan metode kontroversi, sebenarnya telah memahami konsep fisika di atas. Mereka mengukur besaran energi pada tiap-tiap kutub, mendesain titik pertentangan dari kutub yang besar itu, dan mulai membentuk kutub baru yang paling mungkin. Jika tidak sesuai perhitungan, kutub baru itu memang akan mati kehabisan energi. Namun apabila berhasil, akan banyak arus yang membuat hidup jalur perpindahan antar kutub tadi.

Metode kontroversi dipilih karena beberapa hal:

  1. Cepat mendapatkan perhatian, terutama dari mereka yang diserang pemberitaan.
  2. Setiap manusia memiliki prinsip, keyakinan yang mendasar. Ia akan mempersiapkan energi yang cukup untuk mempertahankan prinsip-prinsip tadi.
  3. Nobody is perfect. Selalu saja ada bahan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang lain dan alternatif-alternatif yang bertentangan.
  4. Energi tambahan. Di tengah konflik, akan ada saja pihak yang ikut menggabungkan dirinya pada kekuatan di masing-masing kutub, dan memperlama ‘keberlangsungan perang’.
  5. Bola salju perhatian. Sekali kontroversi terbentuk, akan lebih mudah menarik perhatian pada kesempatan berikutnya.
  6. Adanya hak jawab pers. Tidak mudah untuk memperkarakan pemberitaan, didasarkan pada hak masyarakat untuk mengetahui informasi secara jelas dan terbuka, pers telah menyediakan ruang jawab agar terberita dapat menyampaikan versi beritanya. Sayangnya karena masyarakat tidak dapat dibatasi dalam membangun opininya sendiri, jawaban terberita dapat saja malah menjadi amunisi baru.

---------------------------

Sampailah kita pada bagian akhir pembahasan : ‘Pencitraan’!

Menurut Hariyanto Imadha, pencitraan adalah sebuah gambaran atau persepsi seseorang, atau banyak orang, terhadap pribadi, maupun nonpribadi, berkaitan dengan tampilan, atau perilaku pribadi, maupun nonpribadi, dalam kondisi tertentu.

Pencitraan berkata dasar ‘Citra’. Setidaknya ada dua pengertian sesuai konteksnya; 1. Citra sebagai Gambar (Ingg= Image), dan 2. Citra sebagai Kesan (Ingg= Brand). Ditambah dengan imbuhan ‘Pe-an‘, memunculkan arti ‘sengaja melakukan sesuatu’, seperti dalam kata ‘Penimbunan’ dan ‘Pembiaran’.

Meskipun pencitraan dapat terjadi secara alamiah - kerinduan masyarakat pada sosok ideal, mendorong untuk menumpukan semua harapan baik kepada orang itu, atau justru hiperbolik antagonis pada sosok paling menumpukkan kekesalan -, ia juga dapat berkaitan dengan strategi pemberitaan. Sudah makin kentara peran pemberitaan sebagai ‘senjata’, untuk menggiring energi massa membentuk opini.

Kemunculan tim sukses (baca: konsultan pencitraan), pada setiap perhelatan pemilihan pejabat, sudah tidak asing lagi. Di sini, metode kontroversi menemukan lahan subur untuk berkembang. Berita apa yang harus sampai dan seberapa sering, sudah melalui perhitungan yang matang. Demikian pula dengan pemberitaan negatif, sudah diukur strategi menghadang dan menetralisirnya. Semua ada kiatnya, dan semua (pula) ada harganya. Ada penjual-ada pembeli, untuk sesuatu yang pantas diraih, banyak orang tidak merasa rugi untuk ‘berinvestasi’ lebih.

Sayangnya, tentu tidak semua orang akan sampai pada ‘kursi idaman’ yang terbatas itu. Akan ada yang tersisih, meski sudah banyak mengorbankan sumber daya. Di atas langit masih ada langit. Dan langit teratas adalah Tuhan. Ternyata, Ialah yang Maha menggerakkan semua energi menuju tujuan tertentu. Termasuk untuk men-stimulasi atau justru menyeimbangkan ilusi pencitraan.

Seseorang dapat saja dengan begitu mahal dicitrakan baik, untuk suatu jabatan. Tapi boleh jadi, setelah jabatan itu diraih, ia malah terjebak untuk terus menerus memelihara konflik demi memenuhi dahaga strategi kontroversi akan perhatian. Terbiaskan di permukaan dari permasalahan sebenarnya yang harus ia selesaikan. Padahal sejatinya, keberadaan citra adalah bagian dari tanda kebaikan. Bukankah adanya bayangan, merupakan pertanda bahwa ‘cahaya’ masih ada?

(Iji)